
Kabar tentang siapa ayah Matthew yang sebenarnya, tiba-tiba tersebar dimedia elektronik dan media cetak.
Saat ini Weni sudah melahirkan dan dokter Irwan akan mengambil anaknya dari dalam rumah sakit kepolisian.
Handphone dokter Irwan jatuh saat buru-buru pergi kerumah sakit. Seseorang menemukanya dan membuka ponsel itu dengan keahlian yang dia miliki.
Dia menjual berita pada seorang temannya, seorang reporter dan akhirnya siapa ayah dari anak dokter Mila kembali viral dan jadi perbincangan publik.
Didalam handphone itu ada pesan berisi percakapan antara dokter Irwan dan Wandah ibunya tentang siapa ayah biologis anak dari mantan istrinya.
Pria yang sedang membutuhkan uang tersebut, lalu menjual berita itu dan mendapatkan uang. Lalu dia mengirimkan handphone yang dia temukan pada sebuah rumah sakit dimana dokter Irwan bekerja.
Irwan akan menghubungi ibunya dan baru sadar jika handphone nya tidak ada disakunya.
"Handphone ku, kau melihatnya?" tanya Irwan pada Weni yang masih berbaring di sebelahnya.
"Tidak. Mungkin kau meninggalkanya di rumah sakit." kata Weni yang sedang menyusui bayinya yang baru saja lahir.
"Aku sudah membawanya tadi. Mungkin jatuh saat tadi aku lari keluar dari rumah sakit," kata Irwan yang ingat bagaimana dia lari melebihi kecepatan kuda saat diberitahukan jika istrinya melahirkan.
"Seharusnya masih dua bulan lagi bukan? Aku kaget saat mendengar kau sudah melahirkan?"
"Iya. Tiba-tiba ada kontraksi yang sangat kuat. Usianya masih tujuh bulan, tapi syukurlah dia tidak prematur," kata Weni.
"Lihatlah, dia mencari susu ibunya?"
"Bibirnya terlalu mungil....manis sekali...tapi...aku sedih karena tidak bisa merawatnya setelah kembali dari rumah sakit ini." Weni mengusap airmatanya membayangkan bayi yang baru saja dia lahirkan akan dipisahkan darinya.
Dia akan dirawat oleh ayah dan Omanya, sedangkan Weni masih harus menjalani sisa tahananya.
Irwan menatap Weni.
"Aku akan menghubungi mama," kata dokter Irwan.
Weni mengangguk dan terus menatap bayi yang baru saja dilahirkan dengan sangat sedih.
***
Dirumah sakit tempat Mila bekerja, juga terdengar kabar jika istri dokter Irwan melahirkan lebih cepat dari dugaan seharusnya.
Mila dan CEO Handoko juga mendengar kabar itu.
CEO lalu keluar dari ruanganya dan pergi menemui dokter Mila.
Mila belum tahu jika kabar tentang putranya tersebar di media.
CEO bermaksud memberitahukan apa yang baru saja dia lihat pada Mila.
tok tok tok
CEO masuk keruangan Mila setelah tahu jika Mila sedang sendirian dan tidak ada pasien yang berkonsultasi dengannya.
" Dokter Mila."
"Pak, harusnya bapak tidak perlu kemari. Saya akan keruangan bapak sebentar lagi."
"Tidak Mila. Ini bukan soal pekerjaan."
"Apakah ada masalah?" Mila menatap dengan penuh pertanyaan di benaknya.
__ADS_1
"Ini soal kabar tentang putramu. Apakah kau tidak melihat berita hari ini?"
Mila menggelengkan kepalanya pelan dan bahkan tidak sempat sarapan karena tadi buru-buru.
"Matthew masih dirumah sakit. Hari ini akan pulang, jadi saya tidak sempat melihat berita." Kata Mila.
"Lalu kenapa kau tidak disana saja dan menjaga putramu?"
"Saya ada janji dengan pasien hari ini. Saya akan pulang setengah hari."
Kata Mila dan tidak mau memikirkan berita tentang putranya.
CEO juga tidak jadi mengatakanya, dan akan mengatakan jika urusan Mila sudah selesai nanti siang.
"Oh ya pak, tadi bapak bilang ada berita tentang Matthew? Apa itu?"
"Ohh, itu, nanti saja kita bicarakan. Kau akan menemui pasien bukan? Ohh ya Mila, nanti biar aku mengantarmu kerumah sakit." Kata CEO Handoko yang akan menjemput Matthew dirumah sakit Ibu dan Anak.
"Baik pak." Kata Mila dan tidak terlalu memikirkan berita yang akan disampaikan CEO.
Sepertinya pasiennya sudah datang, Mila lalu fokus untuk menanganinya. Sementara CEO Handoko berpamitan padanya.
***
Mila dan CEO ada didalam mobil dan akan menjemput Matthew dirumah sakit. Di sana ada bibi yang menunggunya agar dia tidak rewel.
"Aku tidak melihat Regan beberapa hari ini," ujar CEO yang penasaran dengan kelanjutan hubungan Mila dan Regan.
"Kami tidak bertemu dan berbicara. Entah apa yang terjadi denganya, dia seperti hilang begitu saja. Beberapa pesanku tidak dibuka dan tidak dibalas olehnya." Kata Mila dan berjalan disamping CEO Handoko yang terbengong dengan pernyataan Mila.
Apakah artinya, kesempatan menghampiri nya sekali lagi? gumam CEO Handoko.
"Regan!" Mila memanggilnya tapi bukanya menoleh, Regan malah berjalan semakin cepat dan mereka langsung menuju ke mobil.
Mila akan mengejarnya tapi tanganya dicegah oleh CEO Handoko.
"Berhenti! Dia sengaja menghindarimu. Untuk apa kau mengejarnya?"
"Tapi pak ..."
Mila sudah dekat dengan ruangan Matthew, dan dia dengar Matthew menangis. Akhirnya Mila mengurungkan niatnya untuk mengejar Regan.
Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya seperti itu?
Dan ternyata dia juga ada disini? Apakah dia sakit? Haruskah tidak memberitahu aku jika dia sakit?
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sudah terjadi?
Mila menggendong Matthew dan keluar dari rumah sakit. CEO dan bibi mengikuti dari belakang.
Admistrasi sudah diselesaikan dan mereka pulang.
Sepanjang perjalanan Matthew tertidur dan Mila melamun memikirkan pertemuannya dengan Regan.
Tidak biasanya Regan bersikap seperti itu?
Tidak pernah dia tidak menoleh saat aku memanggilnya.
Apakah artinya semuanya akan selesai dan hanya tinggal kenangan?
__ADS_1
Harapan yang belum lama kami bangun akan sia-sia?
"Mila, kau baik-baik saja?" Tanya CEO dan menyentakan lamunan Mila.
"Saya baik-baik saja." kata Mila dan menghapus airmatanya.
CEO terus memperhatikan dari spion diatasnya. Dia membenarkan spion itu agar melihat jelas wajah Mila.
Sampai dirumah, Mila meletakan Matthew dikamarnya dan membiarkanya tidur. Setelah itu dia keluar dan menemui CEO Handoko.
Mereka lalu ngobrol didepan rumah dan Mila bercerita jika sudah beberapa hari dia tidak bisa bertemu dan menghubungi Regan.
"Aku tidak tahu kenapa dia bersikap begitu. Tapi, hatiku sakit saat melihatnya mengacuhkanku....sakit sekali...." Mila mulai menangis dan CEO Handoko memberikan bahunya agar Mila bersandar padanya.
Saat itu, Regan juga khawatir dengan perasaan Mila akibat sikapnya. Karena tidak tenang dia diantarkan sopir untuk lewat didepan rumahnya.
Dan saat melihat Mila sedang bersandar pada CEO Handoko, Regan lalu mengusap airmatanya yang tiba-tiba jatuh tanpa terasa saat melihat pemandangan itu.
"Jalan pak!" Kata Regan saat dia awalnya akan berhenti dan melihat keadaan Mila.
Regan belum membuka pesan darinya. Dia tidak berani membukanya dan tidak berani menghadapinya.
Apa yang harus dia katakan padanya?
Bukankah dia berjanji akan meyakinkan maminya? Tapi sekarang dia bahkan tidak bisa bertemu Mila dan mengatakan semuanya.
***
Sampai dirumah Regan menemui maminya yang masih berbaring dikamarnya. Sebenarnya Nadiya sudah merasa baik-baik saja. Tapi demi bisa mengendalikan Regan, akhirnya dia berpura-pura sakit.
Dengan begitu, dia tidak perlu berdebat dengan Regan.
"Mi.... bagaimana keadaan mami?"
"Mami sudah lebih baik." Kata Nadiya dengan perasaan puas.
"Mami dengar kau sakit? Maafkan mami, tapi makanlah dengan baik. Jangan sakit." kata Nadiya.
Regan menggenggam tangan maminya. Hatinya sedih melihat maminya masih tiduran di ranjang dan wajahnya sedikit pucat.
"Kau tidak menemui dia lagi?" tanya maminya.
Regan menggelengkan kepalanya.
"Tidak."
"Jika kau seperti ini, mami akan segera sembuh."
"Cepatlah sembuh." kata Regan sambil menatap maminya dengan lembut.
Oma melihat dari pintu dan tersenyum saat ibu dan anak terlihat akur dan tidak bersitegang.
Oma lalu masuk kedalam dan melihat Nadiya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik ma," kata Nadiya.
"Cepatlah sembuh ....."
__ADS_1