
Tujuh bulan kemudian,
Perut Mila semakin besar, beberapa baju sudah tidak bisa dia pakai lagi, dia berniat untuk membeli beberapa pakaian saat pulang dari rumah sakit.
Dia baru saja memeriksakan kandungannya pada dokter kenalannya. Dan saat keluar dari rumah sakit itu, dari seberang, seseorang dari dalam mobil terus mengawasinya. Dia adalah Regan.
Regan mulai merasa aneh dengan hubungan Mila dan dokter Irwan. Berulang kali Regan memergoki Mila makan sendirian direstoran, dan bahkan pergi sendirian saat memeriksakan kandungannya.
Namun Regan tidak bisa mendapatkan informasi apapun karena Mila tidak mau berbicara apapun padanya. Regan hanya bisa mengamatinya dari kejauhan dan menjaganya tanpa sepengetahuan Mila.
Mila lalu masuk kedalam sebuah taksi online yang dia pesan. Dia akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa baju yang longgar.
Regan mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan Mila.
Begitu sampai di Mall, Mila turun dan Regan dengan cepat memarkir mobilnya dan keluar lalu berjalan tidak jauh dari Mila. Matanya terus mengawasi Mila yang berjalan menuju lift.
Dengan cepat Regan membeli sebuah topi dan memakainya. Kemudian dia menutupi matanya dengan kacamata. Sekarang wajahnya hampir tidak terlihat jelas. Diapun masuk kedalam lift yang sama saat dengan Mila saat lift itu terbuka.
Bagaimanapun, Regan ingin tahu apa yang disembunyikan Mila dan hubungan yang sebenarnya antara dirinya dan dokter Irwan.
Berulang kali Regan melihat dokter Irwan makan di direstoran dengan Weni tanpa Mila. Dan saat Regan mengatakan pada Mila, Weni adalah sepupunya jadi wajar jika mereka sering terlihat bersama.
Regan berdiri dibelakang Mila agar tidak ketahuan. Dan benar saja, meskipun satu lift, Mila tidak tahu jika yang berdiri dibelakangnya adalah Regan.
Mila keluar dan pintu lift hampir saja tertutup, dengan cepat Regan menahanya dan ikut keluar bersama Mila.
Mila lalu memilih beberapa baju dan memasukkanya kedalam kantong belanjaan yang sudah disediakan. Setelah selesai Mila pergi ke kasir lalu membayarnya.
Regan juga membeli satu baju bayi dan dia bawa ke kasir. Dia antri dibelakang Mila.
Mila keluar dan tiba-tiba saja kakinya tersandung dan Mila hampir terjatuh. Dengan cepat Regan membuang kantong belanjaannya dan menangkap Mila.
Saat itu kacamatanya terlepas dan wajahnya terlihat oleh Mila. Mila sangat terkejut dan segera bangun dengan susah payah saat dia tahu Regan yang menolongnya.
"Kau!? Regan?! Apakah kau mengikuti ku? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Mila sambil berusaha berdiri. Regan tidak menjawab dan masih menopang tubuh Mila dan membantunya berdiri.
"Aku...aku membeli baju untuk hadiah salah seorang temanku." kata Regan sambil memperlihatkan paper bag yang dia lemparkan tadi.
__ADS_1
"Aku tahu jika kau mengikuti ku. Pergilah dan jauhi aku. Aku tidak suka kau berada didekatku. Dan terimakasih....." kata Mila lalu membawa belanjaannya pergi meninggalkan Regan yang masih terpana.
Terlihat kebencian dari tatapan Mila saat melihatnya. Dan Regan berusaha menjelaskan semuanya, jika yang terjadi waktu itu bukanlah kesengajaan dan dia tidak bermaksud melakukanya.
Tapi Mila tidak pernah mau mendengarkan alasanya, karena pada kenyataanya akibat kesalahan Regan, dia harus menderita dan kehilangan kebahagiaan didalam pernikahanya.
Mila lalu masuk kedalam taksi yang sudah dia pesan. Dan Regan tidak mengejarnya lagi. Melihat kemarahan dan kebencian Mila terhadapnya, kakinya menjadi kelu untuk melangkah.
Regan mengamati Mila hingga dia tidak terlihat. Sementara Mila menahan kesedihannya didalam mobil.
Mila pulang kerumah dan disana sedang duduk Weni dan Irwan.
"Mila? kau baru saja belanja? Kenapa kau tidak bilang kalau mau belanja, Weni atau aku akan menemanimu," kata dokter Irwan saat melihat Mila membawa belanjaan.
Irwan lalu berdiri dan membawakan belanjaannya. Dan menyuruh Mila untuk duduk disampingnya.
"Duduklah, aku akan membawa belanjaanmu keatas." kata dokter Irwan dan dengan cepat membawanya keatas.
Dia kembali dan tersenyum pada Mila. Dokter Irwan lalu duduk disamping Mila dan melihat perut Mila yang semakin membesar.
Dokter Irwan lalu mengelus perut itu dan Mila tersenyum bahagia. Dia sangat terharu dengan kebesaran hati dokter Irwan yang mau menerima Mila dan bayinya meskipun dia tahu jika itu bukanlah anaknya.
"Mila, kapan dia akan lahir?" tanya dokter Irwan.
"Bulan depan." kata Mila
"Aku tidak sabar untuk melihatnya lahir kedunia ini." kata dokter Irwan.
"Kau akan segera melihatnya." kata Mila.
"Apakah kau sudah makan?" tanya dokter Irwan.
Mila menggelengkan kepalanya. Dokter Irwan lalu mengajaknya berdiri dan berjalan kemeja makan.
"Ayo kita makan, aku akan menemanimu makan malam." kata Dokter Irwan.
Saat mereka makan malam, sepasang mata melihat dari luar jendela. Dan ternyata itu adalah Regan yang masih mengkhawatirkan keadaan Mila.
__ADS_1
Kebetulan meja makan terletak tidak jauh dari ruang tamu, sehingga aktifitasnya bisa terlihat dari jendela ruang tamu.
"Aku lupa menutup jendelanya, aku akan menutupnya lebih dahulu," kata Mila lalu berjalan keruang tamu dan menutup tirainya. Diluar Regan dengan cepat bersembunyi dan karena tidak bisa melihat aktivitas didalamnya, maka Regan lalu pergi.
Dan ternyata apa yang dia khawatirkan tidak terjadi. Dia pikir Mila diperlakukan tidak baik oleh dokter Irwan. Tapi ternyata sangkaannya salah, dan sejak hari ini Regan memutuskan untuk tidak lagi khawatir dengan keadaan Mila.
Regan lalu pergi meninggalkan rumah Mila dan pulang kerumahnya.
Dokter Irwan mengambilkan makanan untuk Mila dan menyuapinya dengan lembut. Tiba-tiba saat dokter Irwan sedang menyuapi Mila, ibunya datang dan kaget melihat Irwan memperlakukan Mila seperti itu.
"Irwan!?" kata mamanya sambil berjalan mendekati mereka berdua.
Mila menoleh dan kaget melihat mama mertuanya tiba-tiba datang.
"Mama...." kata Irwan dan Mila bersamaan.
"Mari makan malam bersama ma, Mila akan menyiapkan piring untuk mama juga," kata Mila lalu berdiri dan mengambilkan piring untuk mama mertuanya.
Sementara Wandah menatap Irwan dengan kesal dan marah. Irwan tahu jika mamanya marah karena apa yang barusan dilihatnya. Tapi Irwan akan menjelaskan jika mamanya sudah salah paham denganya.
"Mila, kapan kau akan melahirkan?" Tanya Wandah, ibu mertuanya.
"Bulan depan ma..."
Mamanya lalu terlihat mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Mama dengar kau sudah tidak bekerja dirumah sakit yang sama dengan Irwan ya?" tanya Wandah sambil makan.
"Iya ma, Mila pikir jika Mila bekerja disana banyak waktu yang akan terbuang karena jaraknya jauh. Jadi Mila mengundurkan diri dan mencari rumah sakit yang dekat," kata Mila yang tetap menghormati ibu mertuanya.
Mila berpikir jika Wandah mengira hubungan Mila dan Irwan baik-baik saja, dan tidak tahu jika Wandah sebenarnya tahu segalanya.
"Irwan, mama akan tidur disini dan akan pulang besok. Mama baru saja bertemu dengan teman mama, dan pulangnya kemalaman."
"Iya ma. Mama boleh menginap disini satu hari atau satu Minggu. Ini kan juga rumah mama juga," kata Irwan.
"Tidak, mama hanya akan menginap semalam saja."
__ADS_1
"Ya sudah. Terserah mama saja."
Selesai makan malam Mila langsung masuk kekamarnya dan Irwan masuk kekamar mamanya.