
Hari ketiga Mila dirawat, polisi membawa kabar baik dan sudah menangkap pelakunya. Ternyata pelakunya seorang perempuan dan sedang mengandung.
Polisi berbicara dengan CEO Handoko yang menunggu Mila dan menjadi walinya selama dirawat.
"Dia mencoba lari keluar kota untuk lepas dari tanggung jawab." kata polisi tersebut.
"Syukurlah akhirnya dia sudah ditangkap. Dia melakukan tabrak lari dan meninggalkan korban dilokasi kejadian." kata CEO Handoko.
"Kami akan memprosesnya, apakah ini kejadian disengaja atau murni kecelakaan." kata polisi tersebut.
"Maksud bapak?" CEO nampak terkejut.
"Penabraknya ternyata istri dari mantan suami nya." kata polisi memberikan keterangan.
"Istri dokter Irwan?" kata CEO menebak karena suami Mila sebelumnya adalah dokter Irwan yang bekerja dirumah sakitnya.
"Benar. Kami akan mengumpulkan barang bukti dan meminta keterangan darinya juga."
Polisi lalu pamit dan CEO meminta agar kasus ini diusut sampai tuntas. Melihat keadaan Mila yang cukup terluka parah dan bahkan sampai saat ini masih belum bisa diajak berbicara.
***
Dirumah Nadiya, dia juga sedang membicarakan tentang Mila yang mengalami kecelakaan dan juga Regan yang tidak pulang beberapa hari.
"Kemana anak itu? Tiga hari tidak pulang dan tidak memberikan kabar?" tanya Nadiya pada Prasetyo.
"Mungkin menginap di apartemennya Nad." kata Prasetyo sambil makan roti yang sudah disiapkan Nadiya.
"Aku khawatir dia bertemu dengan dokter Mila. Kau tahu kan jika mereka dulu sangat dekat? Dan sekarang dokter mila mengalami kecelakaan. Mungkinkah Regan menemuinya dirumah sakit?" tanya Nadiya sambil menatap wajah suaminya yang sedang menikmati roti buatanya.
"Kenapa kau tidak menelponya?" kata Prasetyo mengingatkan Nadiya agar menelpon Regan agar kekhawatirannya berkurang.
__ADS_1
"Aku menelponnya tapi tidak diangkat." kata Nadiya.
"Baiklah, aku akan mencarinya nanti." kata Prasetyo dan meletakkan gelas kosong didekatnya.
"Dia juga tidak kekantor beberapa hari?" Saat Nadiya mengatakan hal itu, Prasetyo mendongakkan wajahnya.
"Benarkah?"
"Itulah yang aku khawatir kan." kata Nadiya sambil menuangkan minuman ke gelas suaminya.
Edsel dan juga Eiden yang baru saja pulang dari asrama menanyakan tentang Regan kakaknya. Sudah lama mereka tidak bertemu dengannya, dan mereka sangat merindukan kakaknya Regan.
"Kalian sudah bangun?" tanya Nadiya melihat kedua putra kembarnya turun dari lantai tiga.
"Kemana kakak?"
"Kalian kangen?" tanya Nadiya pada mereka.
"Iya, sudah lama kami tidak nonton di bioskop. Kakak biasanya akan mengajak kami nonton saat kami pulang dari asrama."
***
Dikantor polisi Weni sedang menangis karena cemas dan takut. Tidak lama kemudian Dokter Irwan datang setelah polisi mengabarkan jika istrinya ada dikantor polisi.
"Mas, aku takut. Keluarkan aku dari sini." kata Weni ketakutan.
"Tenanglah Weni. Aku akan segera membebaskanmu."
"Aku tidak ingin dipenjara."
"Iya, tenanglah, aku mengerti."
__ADS_1
Irwan lalu pergi menemui polisi dan menanyakan apa yang terjadi. Dan kenapa istrinya dituduh sudah menabrak dokter Mila.
Polisi lalu mengatakan jika dari rekaman cctv salah seorang warga, terekam jika mobil Weni menabrak dokter Mila dan saat itu melaju dengan kencang.
Apalagi setelah menabrak bukanya menolong korban, tapi malah melarikan diri keluar kota. Dia akan terkena pasal berlapis, polisi menerangkan dan Dokter Irwan memegang kepalanya yang tiba-tiba serasa berasab memikirkan kelakuan Weni, istrinya.
"Baiklah pak, saya akan membawa pengacara untuk istri saya."
"Silahkan, tapi ibu Weni tetap disini sampai pengacaranya datang." kata polisi dan memberikan sebuah berkas agar ditandatangani oleh Irwan selain suaminya.
Irwan menemui Weni lagi dan mengatakan jika dia akan menghubungi pengacara untuk dirinya.
"Jangan lama-lama...." kata Weni sambil memegang tangan Irwan.
"Aku takut disini."
Irwan menatap Weni dan melepaskan genggamannya.
"Aku pulang dulu."
Akhirnya terpaksa Weni mengangguk dengan berlinang airmata.
Weni berfikir setelah menabrak Mila dai bisa lolos karena melarikan diri keluar kota. Dia benar-benar marak karena selalu dibandingkan dengan dirinya oleh suaminya, dan dia tidak mampu mengendalikan amarahnya yang memuncak karena ibu mertuanya juga.
Weni saat itu sedang menyetir dan dia tidak sengaja melihat dokter Mila akan menyeberang dengan riasan yang sudah paripurna.
Dan karena dia akan diangkat menjadi direktur menggantikan suaminya, maka pertengkaran antara Weni dan Irwan menjadi lebih parah dari sebelumnya.
Irwan tertekan dan menyalahkan Weni atas apa yang terjadi. Padahal sudah jelas, jika Mila yang sudah mengambil alih posisinya.
Ditengah kemarahanya, Weni menginjak gas dengan sangat kencang dan menabrak Mila.
__ADS_1
Weni pikir Mila akan tiada dan tidak selamat, tapi ternyata Mila bisa selamat meskipun mengalami luka di kepala yang sangat parah.
Polisi hingga saat ini belum bisa meminta keterangan dari Mila karena kondisinya dan juga dia belum bisa diajak berbicara.