Dipinang CEO

Dipinang CEO
Bertemu orang tua dokter Irwan


__ADS_3

Sampai dirumah Dokter Irwan kedatangan tamu yang tidak lain adalah orang tuanya yang datang dari kampung.


Mereka sengaja datang tanpa memberinya kabar. Ini adalah kejutan agar putranya kaget saat melihat mereka.


"Apakah setiap hari kau pulang selarut ini?" Tanya Ibunya yang sudah menunggunya diruang tamu dengan kunci duplikat.


Dokter Irwan kaget dan menatap mereka berdua lalu tersenyum.


"Ohh, mama?! Papa!? Kalian kenapa tidak memberitahuku, jadi aku bisa pulang lebih cepat."


"Kau dari kantor atau habis mengantar pacarmu?" Tebak mamanya yang menunggu reaksi putranya dengan nadanya yang bercanda.


"Ehm, darimana mama tahu?"


"Benar kan perkiraan mama. Kau pasti habis pacaran?!" Kata mamanya.


"Ehm, tapi ngomong-ngomong mama tahu darimana?" Tanya dokter Irwan yang kaget karena mama tahu jika saat ini dia sudah punya kekasih.


"Mama bisa merasakan, mama ini seorang ibu. Insting mama pasti kuat. Kau terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta. Iya kan pa?"


"Ya. Matamu tidak bisa berbohong. Lekas bawa kesini, kenalkan pada mamamu. Dia sudah tidak sabar menimang cucu."


"Iya Irwan. Usiamu juga sudah 30 tahun. Kau sudah waktunya memikirkan untuk berumah tangga."


"Hhhmmmm, besok saya akan mengenalkan Mila pada kalian."


"Namanya Mila?" Tanya mamanya antusias.


"Ya, dokter Mila. Dia adalah dokter spesialis kandungan."


"Kalian sama-sama dokter?" Tanya papanya.


"Ya, kami bekerja dirumah sakit yang sama." Kata Dokter Irwan yang juga sudah tidak sabar untuk memperkenalkan Dokter Mila pada kedua orang tuanya.


"Besok bawalah kekasihmu itu kesini. Mama akan memasak yang enak untuk makan siang." Kata mamanya.


"Baiklah, besok siang kami akan makan dirumah." Kata Dokter Irwan sambil tersenyum malu-malu.


***


Keesokan harinya Dokter Irwan menemui dokter Mila diruanganya.


"Kau sedang sibuk?" Tanya dokter Irwan.

__ADS_1


"Tidak. Silahkan masuk." Kata dokter Irwan.


"Nanti siang, makanlah dirumahku. Mama mengundangmu dan ingin berkenalan denganmu?" Kata dokter Irwan.


Dokter Mila menatap dokter Irwan dengan kaget.


"Makan siang dirumahmu?"


"Iya, nanti aku akan kesini begitu jam makan siang tiba. Sekarang lanjutkan tugasmu. Aku akan kembali keruanganku." Kata Dokter Regan.


Setalah kekasihnya pergi dokter Mila duduk termenung dan memikirkan hubunganya dengan dokter Irwan.


Kenapa secepat ini?


Haruskah aku menemui orang tuanya?


Aku memberi kesempatan padanya untuk membuka hatiku yang kuncinya masih terbawa pada masa laluku.


Kenapa sulit sekali menyingkirkan Tuan Regan dan menggantikanya dengan dokter Irwan?


Tuan Regan masih sepenuhnya bertahta didalam benakku. Meskipun aku tahu kita tidak akan bersatu.


Tapi hatiku tetap berdebar saat mengingatnya.


Aku tidak mungkin mengecewakannya dengan menolak ajakan makan siangnya.


Aku benar-benar terjebak sekarang.


Seorang pasien masuk dan mengatakan jika perutnya kram sebelum menstruasi.


"Apakah ini sering terjadi?" Tanya dokter Mila.


"Iya, hampir setiap bulan saya mengalami kram yang menyakitkan." Kata pasien tersebut.


Dokter Mila lalu memberikan obat pada pasiennya.


Sementara Dokter Irwan berdiri didepan ruang kerja dokter Mila.


Dia berdiri dan menunggu diluar, karena masih ada pasien di dalam.


Tidak lama kemudian seorang pasien keluar dari ruangan dokter Mila.


Setelah melihat pasien itu keluar, dokter Irwan lalu masuk kedalam, dan dokter Mila juga sudah mengambil tasnya untuk keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Kau sudah menunggu dari tadi? Maaf, tiba-tiba ada pasien dan dia sudah tidak tahan. Dia mengalami kram perut." Kata Dokter Mila sambil mengunci ruanganya.


"Itu harus segera mendapatkan penanganan. Kasus kram perut sangat menyakitkan." Kata Dokter Irwan sambil menatap kekasihnya dengan bahagia.


"Kita jalan sekarang!"


"Mari....."


Didalam perjalanan hati dokter Mila gelisah tidak menentu.


Ada rasa ragu dan bimbang terhadap hubungan yang sedang berkembang kearah serius ini.


Hatinya masih belum sempurna untuk memulai hidup baru bersama Dokter Irwan


Jantungnya masih belum bergetar dan berdebar hingga saat ini, yang ada hanya rasa canggung yang kadang membuatnya tidak nyaman.


"Kita sudah sampai." Kata dokter Irwan tiba-tiba mengejutkan dokter Mila.


Dokter Irwan membukakan pintu untuk kekasihnya. Mereka lalu berjalan masuk kedalam.


"Siang Tante, Om," Sapa Dokter Mila pada kedua orang tuan yang keluar untuk menyambutnya.


"Waaahhh, kau cantik sekali. Apa kabar? Kami adalah orang tuanya Irwan." Kata mamanya.


Mereka lalu duduk dimeja makan karena waktu dokter Mila yang terbatas.


"Anakku sangat cakap memilih calon istri, mama bangga padamu." Bisik mamanya pelan ditelinga putranya.


"Irwan sudah banyak bercerita tentang dirimu. Kami sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu."


"Benarkah Tante?"


"Mama, jangan membuat Irwan malu dong." Kata dokter Irwan.


"Dia banyak bercerita tentang dirimu." Kata Mamanya.


"Mama...." Kata dokter Irwan, karena dokter Irwan tidak pernah bercerita tentang Sharmila. Tapi mamanya mengada-ada.


Dokter Mila lalu menatap dokter Irwan.


"Oh ya, ngomong-ngomong kapan kami bisa menemui orang tuamu?" Tanya mama dokter Irwan.


Sesaat dokter Mila nampak kaget dan bingung. Dia lalu terdiam hingga begitu lama.

__ADS_1


Dan suasana dimeja makan itu menjadi hening seketika.


__ADS_2