Dipinang CEO

Dipinang CEO
Baper


__ADS_3

Tuan Regan kemudian duduk dan warga desa mengerubunginya. Ada juga yang langsung keluar dan seperti biasa mereka tidak mau melewatkan kesempatan untuk Selfi.


Banyak pertanyaan dari warga desa sementara Tuan Regan hanya tersenyum dan mengangguk.


Kasihan dia.....


Aku harus menyelamatkanya dan membawanya keluar dari sini.


Kemudian aku berpamitan kepada semua warga yang sedang berkumpul disitu. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada mereka semua, lalu dalam sekejap aku sudah menarik Tuan Regan keluar dari rumahku, dan dengan cepat masuk kedalam mobil.


Syukurlah! Akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan Tuan Regan.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa menarik tanganku kencang sekali?"Tuan Regan berkata sambil melihat pergelangan tangannya yang memerah. Kulitnya begitu putih. Sehingga langsung membekas tanda merah akibat pegangan Sharmila yang begitu kuat.


"Saya pikir Tuan harus segera keluar dari kerumunan warga desa, atau mereka akan menyusahkan Tuan."


"Kau ini ada-ada saja. O ya ini surat milikmu bukan?"


"Loh kok bisa ada sama Tuan?" Tanyaku keheranan.


"Iya kau menjatuhkannya didalam mobil. Aku berfikir mungkin kau sangat membutuhkan surat ini." Tuan Regan berkata sambil memberikan surat keterangan dokter. Aku memang sangat membutuhkan surat ini.


"Betul Tuan, jika tidak ada surat ini maka saya akan dikeluarkan dari sekolah."


"Lain kali jika surat ini sangat berarti dan penting kau harus menyimpanya dengan baik."


"Kenapa wajahmu merah begitu?" Tuan Regan Mendekat. "Itu sepertinya bintik nyamuk."


"Iya Tuan tadi malam saya tidur dihutan." Tuan Regan langsung kaget.


"Kenapa kamu tidur dihutan?" Kaget syok. Apakah dia anak yang diasuh oleh orang utan seperti di film itu?


Pantas saja aku tidak pernah melihat keluarganya.


"Ada preman dirumahku Tuan. Dia akan menculik saya dan menjual saya. Tuan ingat kenapa saya sampai tertabrak waktu itu. Itu karena saya lari dari kejaran preman itu "


"Kenapa kamu tidak lapor polisi?" Katanya sambil mengemudikan mobilnya.


Aku menggelengkan kepalaku pelan.


"Tidak Tuan."


"Lalu apakah setiap malam kau akan tidur dihutan?"


"Saya sedang mencari pekerjaan Tuan. Bersih-bersih atau apa saja yang penting saya bisa menginap."


Tuan Regan berfikir sejenak.


"Bagaimana jika kau menjaga kedua adikku saja?"


"Maksud Tuan saya bisa menginap dirumah Tuan?"


"Ya, jika kau mau "


"Baiklah Tuan saya mau."

__ADS_1


"Kau tetap bersekolah seperti biasa, bukankah kau sudah hampir lulus?"


"Iya Tuan."


"Kalau begitu kamu akan bekerja setelah pulang sekolah "


"Baik lah Tuan."


"Dimana rumah Tuan?"


"Aku akan menjemputmu nanti jam tiga dirumahmu."


"Baiklah Tuan. Tuan sangat baik. Dan seperti dewa penolong bagi saya."


"Kamu terlalu berlebihan."


Sebelum mengantarmu ke sekolah, kita mampir kerumah seseorang dulu ya.


Kemudian mobil itu menuju sebuah komplek rumah mewah. Dan berhenti tepat didepan seorang gadis.


"Masuklah!" Tuan Regan berbicara pada seorang gadis yang tinggi dan semampai bak model. Rambut tertata rapi dan wajah yang cantik seperti bidadari.


Siapakah dia?


Apakah ini kekasih Tuan Regan?


Aku kemudian mau turun dari mobil tapi Tuan Regan mencegahku.


"Tetaplah disini. Setelah ini aku akan mengantarmu kesekolah."


Aku tetap duduk di bangku depan disamping Tuan Regan.


"Kau sangat terlambat!"


"Maafkan aku Catherine." Kata Tuan Regan.


"Siapa dia?" Melihatku dengan meremehkan. Ya.aku masih anak ingusan dengan seragam abu-abu ini. Aku masih dalam proses metamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu. Dan saat ini aku masih menjadi kepompong.


"Dia adalah anak yang akan mengasuh kedua adikku."


"Syukurlah! Jadi aku tidak perlu membantumu mengasuh kedua jagoan neon itu. Kemarin mereka menumpahkan susu dibaju baruku. Dan entah apalagi. Demi dirimu aku harus mencari simpati ibumu."


Oouhhh jadi ini memang kekasih Tuan Regan.


"Ya kenakalan mereka memang kadang kelewatan. Semua itu karena semua orang menyayanginya. jadi dia menjadi kelewat manja. Terutama nenek, jangan harap kau akan lepas dari omelanya jika sampai kedua adikku itu terluka atau lecet sedikitpun."


"Pantas saja tidak ada yang betah menjadi baby sitternya."


"Ya setiap satu Minggu pasti mereka minta pulang. Ada yang baru satu hari bekerja sudah minta pulang."


"Entah dulu Tante Nadiya ngidam apa hingga kedua adikmu bisa senakal itu."


"Kata oma itu karena setiap hari mami makan kepiting, jadi mereka tidak bisa diam barang satu menit."


"Apa hubungannya?"

__ADS_1


"Entahlah! Oma selalu mengatakan hal itu berulang-ulang. Setiap kali dia mencari kacamata dan ternyata kedua adikku yang menyembunyikanya."


"Jika kita sudah menikah aku tidak mau tinggal dirumahmu."


"Hai... kenapa?"


"Aku tidak sanggup melihat kenakalan mereka."


"Kau nanti juga akan menjadi seorang ibu."


"Tapi tentunya aku tidak akan punya anak senakal itu!" Sahut Catherine.


"Oya kok dari tadi kamu diam aja mila?"


Ya orang ngga diajak bicara? Apa saya harus bicara sama spion ini?


"Ehhh iya..."


"Kamu nanti siap-siap ya. Nanti saya jemput jam tiga."


"Iya Tuan."


"Nah sudah sampai disekolah. Bye Mila hati-hati...jangan lupa suratnya."


"Iya Tuan terimakasih."


Aku mengangguk dan tersenyum pada Tuan Regan juga pada wanita cantik dibelakangku.


Tapi teman wanita Tuan Regan hanya menatapku datar. Dan tidak merespon senyumanku.


Aku kemudian turun dan berdiri dipinggir jalan raya sebelum menyeberang kesekolahku.


Aku melihat hingga mobil itu menghilang. Dari seberang kulihat Jihan terpana dan juga beberapa temanku yang lainya.


Sepertinya mereka tidak sabar untuk memberondongku dengan banyak pertanyaan. Tapi aku sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Apakah aku sedang kecewa? Tapi untuk apa? Apakah aku takut perhatian yang Tuan Regan berikan padaku akan berakhir?


Siapakah diriku ini hingga terus berharap pria tampan dan kaya raya itu terus mempedulikanmu dan memperhatikanku. Apakah aku secantik bidadari hingga pantas untuk selalu diperhatikan olehnya. Wajah pas-pasan ekonomi kekurangan tapi mimpiku terlalu tinggi.


Sadarlah Mila sebelum salah satu sayapmu patah saat anganmu terbang terlalu tinggi.


Kaca! Mana kaca?


Aku mencari kaca yang besar dan bening. Terlihat jelas bahwa kaca tidak akan berbohong. Inilah diriku. Jangan berharap terlalu banyak dan bermimpi terlalu tinggi. Lihatlah wajahmu dicermin?


Aku tertunduk malu. Aku kelewat baper! Dan hatiku ini rasanya sakit sekali akibat kebaperanku itu.


Jihan berlari dan berdiri di belakangku.


"Hai apa yang kamu lakukan didepan cermin ini?"


"Aku sedang melihat siapa diriku."


"Kamu adalah Mila, sahabatku. Dan kamu baru saja diantar oleh seorang pangeran. Kamu sangat beruntung Mila."


"hehehe ..." Aku tertawa malu.

__ADS_1


"Aku akan keguru BP dulu."


"Ya sudah sana! Aku akan menunggumu diluar." Kata Jihan.


__ADS_2