Dipinang CEO

Dipinang CEO
Sakitnya tuh disini....


__ADS_3

Mila berangkat pagi dan belum ada pasien hari ini. Mila datang lebih awal dari jam kerjanya. Kebetulan CEO Handoko juga datang lebih awal pagi ini. Dia ada rapat dan tidak sengaja dia melihat ke ruangan Mila.


Open


Artinya Mila sudah datang dan ada didalam ruanganya. Tadinya dia akan mengetuk pintu dan masuk keruanganya, tapi akhirnya CEO Handoko mengurungkan niatnya.


Sejak Mila memutuskan untuk memilih Regan maka sejak saat itu juga CEO Handoko sedikit menjaga jarak dari Mila.


Bukan karena dia marah kepada Mila, tapi karena dia tidak ingin terluka lebih dalam. Dan dia juga tidak ingin membuat Mila bingung jika terus mendekatinya padahal Mila sudah memutuskan siapa yang akan dia pilih.


CEO Handoko lalu pergi keruanganya dan menghubungi sekretaris nya. Dia akan mengadakan rapat sesama pemegang saham rumah sakitnya.


Dan rapat akan berlangsung hingga sore hari. Ada banyak hal yang akan dibahas mulai dari perbaikan gedung dan pembaharu beberapa alat yang kesehatan.


***


Mila tidak keluar makan siang. Dia masih memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Apa yang maminya Regan katakan sangat mengganggunya.


Dia memang mencintai Regan dan Matthew juga adalah darah dagingnya. Tapi jika maminya tetap tidak merestuinya, maka dia juga tidak bisa melanjutkan hubungan ini.


Dia tidak ingin pernikahan bermasalah bahkan saat hubungan itu belum dimulai. Bagaimana jika yang dlkedua ini juga gagal, maka apa kata dunia tentang dirinya?


Seorang dokter Mila, ahli kandungan, diberitakan gagal lagi dalam pernikahanya. Sayang sekali, nasibnya sungguh berbanding terbalik dengan karirnya yang cemerlang.


Mila lalu menutup matanya dan bernafas dengan teratur dan perlahan.


Dia mulai dibayangi oleh berbagai pikiran negatif yang belum terjadi tapi sudah menghantuinya.


Jam makan siang sudah lewat. Dan sekarang sudah sore hari.


"Dokter, apakah anda akan lembur?" tanya seorang suster padanya.


Mila lalu menatap suster itu dan melihat jam didinding ruanganya. Dia baru sadar jika sekarang sudah sore.


"Tidak, saya akan segera pulang." kata Dokter Mila pada suster yang akan memberesi ruanganya.


"Baiklah, saya akan pulang." Mila lalu mengambil tas dan keluar dari ruanganya. Dia berjalan sambil melamun dan tidak fokus hingga menabrak CEO Handoko yang sedang berjalan buru-buru dengan berkas ditanganya.


Mereka bertabrakan dan berkas itu berhamburan.


"Ohh, maaf, saya tidak sengaja." kata Mila dan langsung memungut semua berkas yang berhamburan dilantai. Dia masih tidak menyadari jika yang dia tabrak adalah CEO Handoko. Dia pikir dia menabrak rekanya sesama dokter.


CEO Handoko tetap berdiri ditempatnya dan hanya memperhatikan Mila yang seperti sedang banyak pikiran.


"Dokter Mila." Akhirnya CEO Handoko ikut membantunya dan berjongkok didepanya. Tangan mereka berpaut dan Mila kaget saat melihat ternyata orang yang dia tabrak adalah CEO Handoko, atasanya.


"Pak,...."


"Mila, kau sakit? Wajahmu terlihat pucat?"


"Ohh, tidak, saya hanya kelelahan saja. Saya akan pulang dan beristirahat."


Tiba-tiba seorang suster ikut berbicara, dia adalah teman akrab dokter Mila.

__ADS_1


"Dokter Mila melewatkan jam makan siang." kata suster itu dan dia langsung menutup mulutnya saat dia sadar dia mungkin tidak harus ikut campur urusan mereka.


Dia langsung buru-buru pamit dan CEO menatap Mila dengan tatapan penuh rasa kekhawatiran.


"Suster, tolong taruh berkas ini ke ruangan saya!" titahnya dan dia lalu memegang tangan dokter Mila dan mereka berdiri berhadapan.


CEO lalu mengajak Mila pergi ke restoran miliknya dan mereka makan disana.


"Kenapa kau melewatkan jam makan siang? Kau tahu kan? Bagi seorang dokter, kesehatan adalah hal yang paling penting. Jika dokter saja lalai terhadap kesehatanya sendiri, lalu bagaimana kau bisa menganjurkan pasienmu untuk menjaga kesehatannya." kata CEO pada Mila yang sedang makan seperti tidak berselera.


"hum, iya..." kata Mila pendek.


"Apakah ada masalah? Bisakah kau ceritakan padaku? Mungkin dengan berbagi, maka masalahmu akan lebih terasa ringan."


"Tidak." jawab Mila pendek.


"Jika tidak ada masalah, lalu kenapa wajahmu muram seperti itu?"


"Aku hanya sedang lelah saja." kata Mila yang tidak mau menceritakan apa yang membebani pikiranya saat ini.


Regan yang masih mengkhawatirkan Mila, mencari kerumahnya dan ternyata Mila belum pulang. Dia lalu dayang kerumah sakit, dan suster asistenya mengatakan jika Mila sudah pulang bersama CEO Handoko.


Regan lalu pergi mencarinya dan tanpa sengaja dia melihat mobil yang biasa dipakai CEO Handoko. Regan lalu parkir disebelah mobilnya.


Dia masuk dan mencari Mila didalam.


Dia melihat Mila sedang makan bersama CEO Handoko. Regan lalu berfikir jika Mila tidak boleh seperti itu.


Regan memegang tangan Mila dan Mila menatap Regan dengan kaget. CEO Handoko hanya mematung dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi diantara mereka.


"Mila! Apa yang kamu lakukan denganya?" tanya Regan dengan menahan cemburu didalam hatinya.


"Kami hanya makan." kata Mila kaget dengan sikap Regan yang tiba-tiba menjadi posesif.


"Lepaskan tanganku!" kata Mila mengibaskan tangan Regan.


CEO masih diam saja.


"Ikut denganku!" kata Rrgan menarik lengan Mila.


"Lepaskan!" kata CEO Handoko.


"Jika dia tidak mau pergi denganmu maka kenapa kau harus memaksanya!?" hardik CEO Handoko dan menarik Mila kesampingnya.


"Dia adalah kekasihku! Dan kami akan segera menikah. Siapa kau berani ikut campur urusan kami?" Regan membalas CEO dan menarik Mila kedekatnya.


"Mila belum makan siang, dan aku mengajaknya makan karena aku melihat dia sedang sedih dan pucat. Kalian belum menikah dan kau sudah bersikap kasar padanya?" Kata CEO Handoko memojokkan Regan.


"Kau! Jangan mencari kesempatan untuk menarik perhatiannya. Dan kau pikir siapa dirimu? Mundurlah, dia akan ikut pulang denganku!" Kata Regan mendorong CEO Handoko dan menarik Mila kedekatnya.


CEO Handoko mundur tapi Mila kemudian menarik tangannya dari genggaman Regan dan berdiri disamoinh CEO Handoko.


"Aku akan pulang bersamanya." kata Mila dan menarik CEO Handoko berlari dan segera masuk kemobil CEO Handoko.

__ADS_1


Regan hanya berdiri seperti patung dan kaget dengan sikap Mila.


"Mila! Tunggu! Ada yang harus kita bicarakan!" kata Regan berlari tapi tidak bisa mengejar Mila. Dia sudah masuk kemobil dan mengunci pintunya.


Dok!


Dok!


Regan menepok kaca dimana Mila duduk dan terus berteriak agar Mila ikut dengannya. Tapi Mila tidak peduli dan tidak membuka kaca jendela itu.


Regan akhirnya hanya bisa menatap kepergiannya dan tidak mengejarnya lagi.


CEO bingung dengan sikap Mila.


Bukankan dia kemarin bilang jika akan milih Regan? Lalu kenapa sekarang dia tidak mau pulang bersamanya?


"Kau baik-baik saja Mila?" tanya CEO Handoko saat dia lihat Mila hanya diam saja.


Dan ada setitik airmata menggenang dan mulai jatuh membasahi pipinya yang halus.


CEO Handoko mengambil tissue dan memberikannya pada Mila. Mila lalu mengusap airmatanya.


Tapi bukanya semakin berhenti, malah airmata yang keluar semakin deras.


CEO lalu menghentikan mobilnya di bahu jalan dan menatap Mila.


"Mila, ada apa? Jika tidak ada masalah apapun, kenapa kau menangis?" tanya CEO lembut dan menyibakkan sebagian rambut Mila yang menutupi mukanya karena dia tertunduk.


Mila sebenarnya mencintai Regan, dan yang barusan dia lakukan hanya karena dia kesal. Tapi dalam hati dia juga takut, jika Regan benar-benar marah dan pergi meninggalkanya.


"Ada apa Mila? Katakan, siapa tahu aku bisa membantumu?"


"Hiks, hiks....."


"Bisakah anda putar balik dan antarkan saya pada Regan?"


Apa?


Apakah dia tidak salah dengar? Mila tadi ingin bersamanya dan sekarang ingin agar diantarkan pada si brandal itu?


Tapi karena cintanya terlalu besar pada Mila, akhirnya dia mengiyakan permintaan Mila.


CEO berputar arah dan kembali ke restoran itu. Regan masih berdiri dan tidak bergeming dari tempatnya tadi.


Regan kaget saat melihat Mila datang bersama CEO.


Regan lalu berlari ke arah Mila dan Mila turun dari mobil.


Mereka lalu berpelukan dan Regan tidak melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku Mila, aku tadi kasar padamu." kata Regan dan dia lihat CEO masih didalam mobil dan mobil itu segera pergi.


"Ahh...kenapa harus adegan seperti ini....?" Gumam CEO lalu memutuskan untuk memalingkan mukanya.

__ADS_1


__ADS_2