
Regan langsung menyalakan mobilnya dan pergi kerumah Mila. Saat itu Mila sedang menyusui bayinya.
"Bu, ada Tuan Regan didepan." kata artnya setelah mengetuk pintu kamar Mila.
"Siapa bi? Wartawan?"
"Bukan, tapi Tuan Regan."
"Ohh, suruh masuk saja Bi, bilang saya lagi menyusui Matthew ( artinya anak pemberian Tuhan).
"Iya Bu...."
Bibi lalu mempersilahkan Regan masuk kedalam.
"Ibu sedang menyusui Matthew, silahkan menunggu disini."
"Terimakasih."
Regan lalu duduk dan menunggu Mila selesai menyusui anaknya.
Tidak lama kemudian Mila keluar dan memanggil bibi agar menemani Matthew yang sedang tidur setelah minum asi.
"Kenapa kau malam-malam datang kemari?" tanya Mila pada Regan.
"Mila, katakan sejujurnya, siapakah ayah dari Matthew?"
Mila kaget hingga terhenyak. Kenapa tiba-tiba Regan bertanya seperti itu? Meskipun Regan memang ayahnya tapi setahunya hanya dia yang tahu siapa ayah dari bayinya.
"Maksudmu apa? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan kenapa tiba-tiba kau bertanya siapa ayahnya?"
"Aku tahu Mila, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Yang kita lakukan malam itu, dia anakku bukan?" Kata Regan pelan dan lirih.
Mila diam dan tidak bergeming. Dia juga tidak mengatakan apapun.
Regan menggenggam tangan Mila, dan menatap matanya.
"Tatap mataku Mila, dan katakan siapa ayahnya?" tanya Regan menatap lurus tepat kemata Mila.
Mila diam dan menghela nafas, otaknya berfikir keras, sampai pada akhirnya dia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Dia bukan anak Irwan," kata Mila.
"Itu yang sedang aku tanyakan. Jawablah, jika dia bukan anak Irwan, lalu dia...anakku bukan?" Regan menatap Mila tanpa berkedip.
Mila diam saja.
"Benar kan Mila? Dia adalah anakku?"
"Dia adalah anakku...." kata Mila.
"Haha, itu sudah jelas. Tapi dia punya ayah bukan?"
__ADS_1
"Aku juga ayahnya." kata Mila tenang.
Regan memegang kepalanya dan membuang nafasnya dengan kasar.
"Baiklah...oke...Aku tahu itu tidak mudah. Dan aku tahu apa yang kau takutkan. Aku tidak akan memaksamu." kata Regan.
Mila masih belum siap mengatakan siapa ayah dari bayi yang dia lahirkan.
***
Di dalam tahanan terdengar seorang teman Bella yang baru saja menerima kunjungan mengatakan jika pasangan dokter ternama baru saja bercerai.
Dan dia mengatakan namanya adalah Dokter Irwan dan Dokter Mila.
Bella kaget seketika mendengar apa yang dikatakan temannya itu. Mila adalah putrinya. Dan dia tidak percaya jika dia bercerai.
Beberapa bulan yang lalu, Mila mengunjunginya dan diantar oleh suaminya, pikirnya. Jadi mana mungkin tanpa sebab mereka bercerai.
Bella lalu mendekati temannya yang baru saja menerima kunjungan dari saudaranya dan bertanya tentang kabar itu.
"Darimana kau tahu kabar itu?" tanya Bella.
"Dari keluargaku, dia adalah pasien dokter Irwan."
"Ya, apakah kabar itu benar? Kau tahu siapa yang sedang kau bicarakan? Mila, dokter Mila adalah putriku...."
Kata Bella keceplosan mengatakan jika Mila adalah putrinya didepan teman-temannya.
Tidak lama kemudian mereka semua tertawa.
Hahahaha
Hahahaha
"Dia sudah gila! Bella sudah gila!" Mereka mengejek Bella karena mengaku sebagai ibu dari dokter ternama seperti Dokter Mila.
"Kau berkhayal hah? Mana mungkin orang jahat seperti dirimu punya anak seorang dokter? Hahahaha, hahahaha...."
Teman-teman nya tertawa semakin keras dan mengira jika Bella sudah gila dan banyak berkhayal.
Bella yang merasa keceplosan segera sadar dan ikut tertawa.
"Hehehe,iya...aku memang sudah gila....aku berkhayal jika putrinya adalah seorang dokter!"
Bella lalu menjauh dari teman-temannya dan duduk sendirian dipojokan.
Dia tertunduk dan mengusap air matanya. Dia sadar jika sampai publik tahu tentang hubunganya dengan putrinya, maka nama baik putrinya akan mulai menjadi gosip.
Dan tidak hanya itu, masa lalunya akan dicari-cari oleh wartawan. Dan apalagi jika benar uang mereka katakan, jika putrinya benar-benar bercerai, maka saat ini dia pasti sedang sedih.
Seandainya saja Bella bisa keluar dan memeluknya. Pasti kesedihan putrinya akan berkurang. Sayangnya, dia ada dalam tahanan.
__ADS_1
Dalam hati Bella berdoa, apapun yang terjadi dan ujian yang sedang dialami putrinya, dia kuat dan sabar.
Sejujurnya dia juga tidak yakin jika putrinya sudah bercerai. Bella bahkan sudah membunuh Johan demi pernikahan putrinya. Dan jikaerrka bercerai, apalah dayanya, dia juga tidak tahu apa yang dialami dan terjadi dalam rumah tangga mereka.
Bella hanya bisa menunggu kedatangan Mila saat menengoknya.
***
Mila belum siap menemui ibunya didalam penjara. Mila juga belum siap mengabarkan kenapa dia bercerai dengan Irwan. Sedangkan Mila juga tahu, apa yang sudah dilakukan ibunya demi pernikahanya.
Dia bahkan membunuh Johan, dan sekarang ada didalam tahanan, tapi dia belum juga dibebaskan, pernikahanya terpaksa berakhir.
Mila sedang duduk diruang kerjanya, beberapa teman sesama dokter menatapnya dengan tatapan aneh. Beberapa suster juga kadang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Mila tahu kenapa tatapan mereka menjadi terasa aneh dalam benaknya. Semua itu tidak lain karena berita yang disebarkan Wandah, jika Mila berselingkuh dan mengandung anak orang lain.
Itulah alasannya kenapa Mila menunda mengatakan pada Regan jika Matthew adalah anaknya.
Jika Regan tahu bisa dipastikan, Regan akan sering datang, dan semakin lama dia tidak akan bisa menahan perasaanya dan gosip akan menimpanya lagi.
Tekanan dari keluarga Regan juga bukan hal yang mudah untuk dihindari.
Tekanan dari publik dan juga kebenaran jika dia mengandung anak orang lain juga akan mempengaruhi karirnya.
Mila merenung dan dia melewatkan jam makan siang.
Sampai seseorang mengagetkanya. Dia adalah CEO Handoko. Biasa Mila memanggilnya pak Han.
Dia pemilik banyak rumah sakit, termasuk tepatnya Irwan bekerja dan Mila juga bekerja disalah satu cabang rumah sakit miliknya.
Usianya sudah 35 tahun, tapi dia belum berumah tangga. Dia belum tertarik dengan satu gadispun, dan saat bertemu pertama kali dengan Mila dia sebenarnya sudah sedikit tertarik, tapi saat itu, Mila dekat dengan Dokter Irwan dan menikah dengan cepat.
Begitu mendengar Mila bercerai CEO Handoko tiba-tiba sering ada dirumah sakit dimana Mila bekerja.
Dan Mila kaget dengan kehadirannya diruanganya.
"Pak Han...maaf saya...." Mila melamun dan tidak menyadari kedatangan atasannya.
"Tidak apa. Kau sepertinya tidak keluar makan bersama teman-teman mu. Sekarang jam makan siang. Dan hampir lewat."
"Ohh, ya saya hampir lupa. Sebaiknya saya keluar makan..." kata Mila dengan sungkan dan salah tingkah. Mukanya merona merah, melihat atasanya ada diruanganya.
"Mari makan bersama." kata Pak Han tiba-tiba dan sontak saja Mila mendongak dan menatapnya kaget.
"Apakah kau ada janji makan dengan orang lain?" tanya Pak Han sekali lagi.
"Tidak. Baiklah, mari...."
Mereka keluar dan semua mata menatap Mila dan atasanya dengan kaget.
Mereka berdiri seperti patung ditempatnya. Mereka menatap tanpa berbicara hingga Mila masuk mobil mewah atasanya, Pak Han.
__ADS_1