
Dokter Mila berjalan dengan anggun memasuki ruangan dengan hiasan full bunga mawar segala warna.
Seperti sudah diketahui jika Nadiya sangat menyukai bunga mawar, sehingga ruangan itu harum dengan aroma mawar.
Seluruh keluarga berkumpul disana termasuk Regan dan berdiri disampingnya Catrine dengan gaun yang sama yang dipakai Dokter Mila.
Dokter Mila nampak terkejut dan kaget saat bajunya sama seperti yang dipakai Catrine.
Perasaan dokter Mila menjadi tidak gelisah, dan ada rasa tidak nyaman. Namun dokter Mila segera mengatur nafasnya dan tetap berjalan dengan anggun kedalam ruangan.
Untunglah Catrine sedang menerima telepon dan menjauh dari keluarganya.
Sementara CEO Regan tidak berkedip menatap Mila. Matanya memberi isyarat jika hatinya menyimpan perasaan padanya.
Dimatanya Mila adalah gadis polos yang lucu dimasa yang lalu. Namun sekarang dia sudah menjadi wanita yang dewasa dan mempesona.
Pernikahannya yang tidak bahagia bersama Catrine, membuat benih cinta yang terpendam menjadi bersemi setiap kali dia melihat dokter Mila.
Dokter Mila memberi ucapan selamat pada Nadiya dan juga Prasetyo.
Setelah itu Regan mengajaknya berbincang-bincang dan agak menjauh dari keluarga besarnya.
"Kau datang sendirian?" Tanya Regan menatap Mila dengan matanya yang hangat.
"Iya, kebetulan, rumahku tidak jauh dari hotel ini."
"Apakah kau ada waktu besok siang?" Tanya Regan pada Mila dengan penuh harap agar Mila mau diajaknya makan siang.
"Tapi,..."
"Ayolah Mila, katakan iya. Bukankah dulu kita sangat dekat dan sering berbagi banyak hal. Kau juga belum resmi menjadi istrinya dokter Irwan. Pergi denganku makan siang tentu tidak akan menjadi masalah bukan?"
"Tapi...." Mila bingung harus menjawab apa? Didalam hatinya mengiyakan ajakan Regan. Tapi akalnya masih menimbang-nimbang, apakah dia pantas menerima ajakannya?
Aku memang belum bersuami, tapi Regan sudah beristri. Bagaimana jika ada yang melihat kami? Atau bagaimana jika istrinya melihat kami makan siang?
__ADS_1
Aduuuhhhh gimana ini?
"Besok aku akan menjemputmu diparkiran. Kau bersiaplah." Kata Regan karena dokter Mila tidak memberikan jawaban.
Sementara dari jauh Dokter Irwan berjalan kearah mereka berdua.
"Hai, Regan!" Kata Dokter Irwan.
"Hai juga."
"Kau datang lebih awal?" Tanya Dokter Irwan.
"Ya, tadi aku datang lebih awal." Kata dokter Mila.
Regan perlahan-lahan mundur dan menghilang diantara para tamu yang hadir.
"Kemana perginya dia?" Tanya Dokter Irwan pada Mila.
Dokter Mila mengangkat bahunya dan matanya mencari ke sekelilingnya, namun dia tidak menemukan Regan.
Tidak lama kemudian acara dimulai. Nadiya memotong kuenya dan memberikannya pada suaminya.
Reganpun berdansa dengan Catrine. Dia berharap Mila juga akan berdansa dengan Dokter Irwan hingga mereka bisa bertukar pasangan dansa.
"Mau dansa denganku?" Tanya Irwan pada Mila.
"Tapi aku, aku tidak pernah berdansa sebelumnya."
"Aku akan mengajarimu." Kata dokter Irwan lalu menggandeng Mila naik berbaur dengan yang lainnya.
"Aduh!" Kata dokter Mila saat kakinya terinjak oleh Irwan.
"Maaf." Kata dokter Irwan.
"Tidak apa." jawab Mila sambil terus berusaha mengikuti setiap gerakan dokter Irwan.
__ADS_1
Saat mereka berputar dan melepaskan tangan pasangannya, tiba-tiba dokter Mila sudah berada dalam genggaman Regan.
Sedangkan Catrine berdansa dengan Dokter Irwan.
"Kau sangat pandai berdansa Nina Catrine." Kata dokter Irwan.
"Ya, aku terbiasa berdansa, hanya saja Regan sangat sibuk dan aku sering melakukanya bersama teman-temanku." Kata Catrine pada dokter Irwan yang saat ini menjadi pasangan dansanya.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Catrine pada dokter Irwan. "Kalian terlihat sangat serasi. Sebaiknya cepatlah menikah, menundanya hanya akan membuat celah dan hati-hati, nanti keburu ada orang lain yang meminangnya." Kata Catrine memperingatkan dokter Irwan.
Dalam hati dia juga berharap agar Dokter Mila segera menikah, agar kecemasannya segera berakhir.
Catrine diam-diam sering melihat Regan menatap Mila dengan tatapan yang berbahaya.
Apalagi jika mengingat rumah tangga mereka yang hanya diatas kertas.
Catrine khawatir Regan benar-benar akan meninggalkanya jika Mila tidak cepat menikah.
Wajar dia khawatir. Selama ini Regan sangat tertutup pada para gadis. Tapi dengan Mila, dia terlihat lebih terbuka dan berbeda.
Bahkan dengan mantan kekasihnya Madina, Regan tidak menatapnya sebagaimana dia menatap Mila dengan begitu hangat.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Regan pada dokter Mila.
"Entahlah, kami masih belum lama dekat. Jadi aku belum berfikir kapan kami akan meneruskan ke pelaminan."
"Menikah dengan sesama dokter tentu tidak mudah."
"Maksudmu?" Tanya Mila kaget dengan pernyataan Regan.
"Maksudku kau dan dia akan sangat sibuk. Jadi mungkin kau akan sulit menjalani jika sama-sama sibuk." Kata Regan asal bicara saja.
"Kami akan mengatur waktu dan tidak masalah dengan profesi kami yang sama-sama dokter."
"Hehe, tapi lebih bagus kalau kau menikah dengan yang tidak seprofesi." Kata Regan dan dokter Mila menatap Regan dengan aneh.
__ADS_1
"Maksudmu, dokter Irwan buruk?"
"Hehe, tidak. Aku tidak mengatakan dia buruk. Tapi....."