
Keesokan harinya Mila masih belum sadarkan diri. CEO Handoko baru saja bangun dari tidurnya. Dia bertemu dengan dokter dan menanyakan apakah Mila sudah sadar?
"Dokter, apakah pasien atas nama Mila sudah sadar?"
"Belum, sore ini mungkin akan sadar."
"Ini sudah satu hari dan dia belum sadar."
"Semoga pasien akan sadar siang atau sore nanti." kata Dokter sambil berlalu dan memegang bahu CEO Handoko.
"Berdoalah, agar dia lekas sadar."
CEO duduk kembali dan dia terlihat sedih.
Dalam hati dia juga bingung karena tidak ada satupun keluarga Mila yang mencarinya.
Apakah dia benar-benar sebatang kara? Atau keluarganya tidak ada yang tahu jika dia mengalami kecelakaan?
***
Sore harinya, Mila perlahan membuka matanya.
"Dokter, pasien mulai sadar." kata seorang suster yang menunggu didalam.
Dokter lalu mendekat dan memeriksanya. Pertama memeriksa matanya, apakah dia bisa melihat atau ada perubahan penglihatan dengan matanya.
Dan ternyata matanya tidak apa-apa. Artinya Mila bisa melihat dengan normal. Hanya saja saat ini Mila belum bisa berbicara atau menggerakkan kepalanya.
Mila menatap dokter dan ingin menanyakan tentang anaknya? Mila sangat khawatir dengan putranya, tapi dia tidak diijinkan berbicara atau mengangkat kepalanya
Untunglah, dokter cepat tanggap dan memberikan kertas serta pulpen pada Mila, tanganya yang sebelah kanan bisa digerakkan dan hanya luka memar saja.
Mila menulis nama Matthew tanpa melihat tulisannya dan tanpa menggerakkan kepalanya.
Tulisannya berantakan tapi Dokter bisa membacanya.
"Matthew?" tanya Dokter.
Dan dia lihat Mila mengedipkan matanya mendengar dokter menyebut nama Matthew yang dia tulis.
"Tunggu disini, aku akan memberikan kertas ini pada orang yang menunggumu diluar."
Dokter menemui CEO Handoko dan memberikan kertas padanya?
"Matthew?"
"Ya, pasien menulis nama itu. Bisa antarkan dia kemari? Itu bagus untuk perkembangan kesehatan pasien."
__ADS_1
"Baiklah." CEO Handoko berfikir, siapa Matthew?
Kemudian dia teringat jika Matthew adalah putranya yang masih bayi.
CEO lalu kerumah Mila dan dia lihat rumahnya sepi. Setelah dia memegang gagang pintunya ternyata pintunya tidak dikunci.
Dia lihat Regan sedang memberikan susu pada Matthew.
"Kau?" CEO terkejut melihat apa yang Regan lakukan.
"Bibinya pulang kampung. Anaknya sakit." kata Regan.
CEO lalu memberikan kertas itu padanya.
"Mila yang menulisnya?"
"Dia ingin bertemu dengan Matthew." kata CEO lalu rebahan disofa sambil menunggu dia selesai minum susu.
"Kau bisa membuat susu?"
"Aku tidak bodoh, hingga tidak bisa membuat susu untuk seorang bayi...." kata Regan melihat sekilas pada CEO yang seperti mengantuk.
"Hhhhhhmmmmm..." CEO lalu tertidur karena mengantuk saat bayi itu masih minum susu yang dibuat Regan.
Regan mengambil dot dari mulut Matthew dan menoleh pada CEO Handoko.
Regan lalu menggendong Matthew dan akan mengajaknya kerumah sakit bertemu ibunya.
Karena tidak terbiasa menyetir sambil menggendong bayi, sepertinya Regan agak kerepotan.
Akhirnya dia turun dan memesan taksi online.
Tidak lama kemudian taksi yang dia pesan datang dan Regan masuk kedalamnya.
Regan kerumah sakit dimana Mila dirawat.
Begitu sampai diluar kamar, seorang dokter mengatakan agar tidak mengajak pasien berbicara.
"Apakah anda bernama Matthew?"
"Bukan, saya Regan, dia Matthew..." kata Regan ramah pada seorang dokter yang merawat Mila.
"Ohh, maaf. Silahkan masuk kedalam."
Mila membuka matanya dan dia lihat Matthew ada dalam gendongan Regan.
Melihat Mila seperti itu, tiba-tiba Matthew menangis karena takut. Meskipun masih bayi, tapi apa yang dia lihat pada ibunya membuatnya takut.
__ADS_1
Entah karena tidak mengenali ibunya yang penampilannya penuh dengan perban, atau karena kaget melihat ibunya berbeda.
"Aku akan membawanya keluar." kata Regan pada Mila. Dan Mila mengedipkan matanya.
"Tuan, Regan, sebaiknya anda membawanya pulang. Saya pikir Matthew sudah besar, dan saya tidak tahu jika dia ternyata masih bayi. Rumah sakit tidak cocok baginya."
Kata seorang dokter pada Regan. Regan mengerti karena bayi masih rentan terhadap virus yang mungkin menyebar didalam rumah sakit yang terbawa dari pasien. Dan tidak baik, berada lama didalam rumah sakit.
"Nanti saya akan mengatakan pada pasien." kata Dokter menyuruh Regan membawanya pulang tanpa berpamitan dengan Mila.
Regan mengangguk dan membawa Matthew keluar dari rumah sakit.
Sampai dirumah Mila, dia lihat CEO Handoko masih terlelap disofa dengan dengkuran khas.
Regan melihatnya dan tersenyum sendiri dengan suara yang aneh itu.
"Ssshh, dia mendengkur." kata Regan sambil masuk kekamar dan mengajak Matthew tidur disampingnya.
Regan sengaja tidak membangunkanya dan membiarkanya tertidur semaunya.
Pagi harinya, CEO sudah bangun dan melihat Matthew sudah membuka matanya dan Regan masih tertidur disampingnya.
"Hhhsssttt, apa yang dia lakukan? Matthew sudah bangun dan dia masih tidur!" kata CEO dan mendekati mereka berdua.
Tapi, tiba-tiba Matthew menangis dengan keras karena lapar, atau karena ketakutan dan membuat Regan terbangun dengan kaget.
Lalu Regan membuka matanya dan dia lihat CEO berdiri dipintu?
"Apa yang kau lakukan disitu? Kau membuatnya ketakutan!" kata Regan lalu bangun dan menggendong Matthew.
"Apakah kau ingin membantuku?"
CEO diam saja dan menatap Regan tanpa berbicara.
"Kau bisa membuatkan susu untuknya? Aku akan mengganti popoknya." kata Regan lalu membuka celana Matthew yang masih menangis.
CEO lalu membuatkan susu dan memberikanya pada Regan.
Regan sudah selesai mengganti pempers dan Matthew sudah tidak menangis lagi.
Sekarang Matthew sedang minum susu.
"Kau tidak pergi?" tanya Regan.
CEO lalu teringat jika Mila mungkin sudah siuman.
"Aku akan pergi kerumah sakit." kata CEO lalu pergi kerumah sakit dan ingin melihat keadaan Mila.
__ADS_1