
Mila datang kerumah sakit tempat dia bekerja dengan menggunakan wig. Tentu saja penampilannya sedikit berbeda dari biasanya. Wig yang dipilih Regan sangat modis dan membuatnya terlihat lebih smart.
"Dokter Mila, kau nampak cantik dengan penampilan yang baru." Sapa seorang sesama dokter.
"Terimakasih." kata Mila dan menghentikan langkahnya.
"Apakah kau benar-benar sudah sembuh?"
"Berkat doa kalian aku sudah sembuh dan bisa bekerja kembali."
"Aku senang, rumah sakit terasa sepi jika kau tidak datang."
Mereka lalu tersenyum dan berbicara sebentar karena sudah lama tidak bertemu.
Mila juga berpapasan dengan dokter Irwan yang baru saja keluar dari ruangan CEO Handoko. Dokter Irwan menyerahkan beberapa berkas pada CEO dan menganggukkan kepalanya pada Mila.
Mila menatapnya dan tidak berekspresi. Mila lalu mengejar Dokter Irwan dan mereka berbicara karena tiba-tiba teringat pada kecelakaan yang dia alami.
"Kau sudah sembuh? syukurlah jika kau bisa bekerja kembali. Aku senang mendengarnya." kata dokter Irwan pada mantan istrinya.
"Apakah kau terlibat?" tanya Mila tanpa ekspresi dan memasang wajah datar.
"Maksudmu, aku menyuruh Weni mencelakaimu?" Dokter Irwan menatap Mila dengan sedikit senyum tak percaya.
"Aku sebenarnya tidak punya masalah denganya. Kau yang bermasalah dengan masa laluku bukan? Aku sudah tahu semuanya. Aku tidak percaya kau bisa sekejam itu."
"Aku tidak menyuruh Weni mencelakaimu. Jika aku ingin mencelakaimu, bukankah kau tinggal lama denganku? Aku punya banyak kesempatan untuk melakukanya bukan?"
"Weni ada didalam penjara karena dirimu." kata Mila.
__ADS_1
"Dia marah karena ibu tidak merestui hubungan kami. Ibu ingin aku bercerai begitu anaknya lahir. Dan aku sering memarahinya, dia depresi." kata dokter Irwan.
"Lalu apa hubungannya denganku? Kenapa dia harus menabraku? Bagaimana jika aku mati? Dan Matthew, dia masih bayi...."
"Maafkan aku atas kesalahan istriku. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Aku juga tidak akan membahas masa lalu lagi. Kuharap kau juga melupakan apa yang sudah terjadi diantara kita."
"Kau sangat kejam. Kau membuat pernikahan seperti permainan. Kau mempermainkan pernikahan kita, dan sekarang kau juga melakukanya pada dirinya."
"Mungkin aku menang salah, dan aku akan memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku sedih anakku harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya."
"Akhirnya kau sadar pada kesalahanmu?"
"Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini." kata Irwan menyesali perbuatannya.
"Kau dan Weni layak mendapatkanya. Apa yang kalian lakukan sekarang kalian memetik hasilnya." kata Mila lalu pergi meninggalkan Irwan yang memegang kepalanya dan wajahnya terlihat sedih.
"Kau kerja hari ini?" tanya CEO pada Mila dan mempersilahkan duduk.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah kau benar-benar sudah pulih?"
"Iya, dan terimakasih, karena sudah banyak membantu.." kata Mila duduk disofa berdampingan dengan CEO Handoko.
"Kau mau minum?"
Kata CEO lalu memberikan minuman seperti jus instan untuk Mila.
Mila meminumnya dan menatap CEO dan mereka saling bertatapan.
"Tadi saya bertemu dengan dokter Irwan." kata Mila dan CEO terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"Kau berbicara padanya?"
"Iya. Aku melihat penyesalan dan kesedihan diwajahnya." kata Mila.
"Dia tidak akan mengganggumu lagi." kata CEO.
"Saya juga berfikir demikian. Semoga dengan kejadian ini, dia berfikir dua kali untuk mempermainkan hidup orang lain."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan sepertinya ada yang ingin bertemu dengan CEO Handoko.
"Pak, saya permisi," kata Mila yang pamit karena atasnya sedang ada tamu.
***
Sore harinya Irwan pulang dan mampir kerumah mamanya. Dan saat membuka pintu, Irwan terkejut melihat dalam rumah yang berantakan.
Mamanya terlihat sedang memukul dan memecahkan sebuah figura. Dan saat irwan mendekat, itu ternyata adalah foto ayahnya yang selama ini tersimpan di dalam lemari.
Irwan segera mengambil foto itu dan mengajak mamanya bangun dan memapahnya untuk duduk di sofa.
"Mama baik-baik saja? Kenapa berantakan dan apa yang sudah terjadi?" tanya Irwan sambil menaruh figura itu disampingnya.
"Mama bertemu perempuan itu di tempat Weni ditahan. Dan dia mengatakan jika ayahmu berusaha menodainya hingga berujung pada musibah itu. Mama tidak menyangka, papamu tega mengkhianati mama...." kata Wandah sambil menangis.
Suaminya yang sekarang sedang keluar kota, dan Wandah tinggal sendirian.
Irwan diam saja, karena dia memang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Irwan memeluk mamanya dan mengusap air matanya.
__ADS_1