
Aku yang saat ini bekerja menjadi pengasuh kedua adik Tuan Regan pun mulai membiasakan diri untuk mengasuh si kembar yang memang hiperaktif.
Belum lagi ditambah neneknya atau Omanya yaitu ibu Monik yang sangat bawel dan sering memarahi ku karena dianggap belum bisa bekerja.
"Mila bukan begitu caranya membuat susu." Kata Ibu Monic yang tiba-tiba ada dibelakangku. Aku sampai terkaget dan hampir saja gelas yang aku pegang jatuh kelantai saking kagetnya. Tidak nyaman sekali bekerja dengan grogi dan juga rasa takut yang berlebihan. Aku menjadi mudah kaget dan tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.
Saat ini Oma menyuruhku untuk membuat susu. Sementara Edsel juga Eiden sedang tiduran untuk istirahat siang. Mungkin mereka akan tidur siang.
"Caranya begini Mila. Kamu ini benar-benar ngga bisa bekerja." Kata Ibu Monic yang sepertinya masih kesal karena salah satu cucunya jatuh.
"Kamu tidak boleh menuang susu kedalam air panas." Kata Oma.
"Lalu caranya gimana Oma?" Aku pikir ya pakai air panas seperti menyeduh teh celup. Tapi ternyata orang kaya punya cara tersendiri dalam menyeduh susu.
"Kalau kamu langsung menuang susu kedalam air panas maka gizinya akan berkurang. Jadi sebaiknya kamu campurkan air panas dan air dingin sampai hangat, baru setelah itu kamu masukan tiga sendok makan susu bubuk dan kamu aduk hingga benar-benar tercampur." Kata Oma yang masih berdiri dibelakangku sampul melihat setiap gerak gerikku yang serba canggung.
Aku kemudian mengambil air dingin di kulkas.
"Kamu mau ngapain Mila?" Aku pun kaget dengan suara Oma lagi yang sepertinya, aku membuat kesalahan.
"Mau mengambil air dingin Oma?"
"Untuk apa?"
"Untuk membuat susu Oma. Kan tadi Oma bilang air panas dicampur dengan air dingin."
"Hiiih ini anak dasar bodohnya kelewatan!" Kata Oma kesal padaku. Kan tadi Oma sendiri yang bilang kalau pakai air panas dan air dingin. Tapi kok salah lagi ya? Aku pun jadi bingung.
"Maksudnya Mila, Air panas dan air biasa. Bukan air es. Bikin susu aja bisa satu jam! Bagaimana kamu bisa mengurus kedua cucuku itu?" Gerutu Oma.
Padahal aku begitu pandai disekolah dan sering mendapat juara satu bahkan aku mendapat beasiswa karena menurut mereka aku pandai. Tapi...kenapa setalah bekerja disini ternyata aku begitu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Bahkan bikin susu saja harus diajarin dan diomelin dulu.
__ADS_1
Tapi aku harus sabar, aku tidak boleh sampai dipecat dan kembali kekampung itu.
"Begini ya Oma?" Tanyaku sambil mencampurkan air biasa kedalam gelas yang sudah berisi air panas.
"Coba kau cek dipunggung tangan kamu. Apakah panasnya sudah pas atau belum. Jangan sampai terlalu panas, karena nanti kedua cucuku sudah keburu tidur jika kamu membuatnya terlalu panas dan mereka tidak bisa langsung meminumnya."
"Baik Oma."
"Setelah panasnya pas, baru kamu masukan susunya. Kamu mengerti?" Kata Oma kemudian meninggalkanku sendirian didapur.
"Mengerti Oma." Tidak terasa bulir air mata jatuh dari ujung mataku. Tapi aku cepat mengusapnya. Aku tidak boleh mudah tersinggung dan terlalu perasa, agar betah bekerja disini.
Kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat keruang tamu.
"Hai Mila...gimana? Kamu sudah berkenalan sama Edsel juga Eiden?" Kata Tuan Regan dengan ramah.
"Sudah Tuan."
"Susu Tuan, untuk Edsel juga Eiden."
Kemudian kulihat dari bawah seorang wanita bak model naik keatas lantai dua. Ternyata dia adalah wanita yang sama yang pernah satu mobil waktu itu. Kalau tidak salah namanya Catherine. Dia melihatku dan aku tersenyum padanya sambil menganggukan kepalaku.
Namun dia tidak memberikan reaksi apapun malah pura-pura tidak melihat diriku. Dan dia langsung berjalan mendekati Tuan Regan.
"Tuan...saya akan membawa susu ini untuk Edsel juga Eiden." Aku berkata sambil berlalu dan meninggalkan mereka berdua diruang tamu.
Aku kemudian mengetuk pintu dan Oma langsung mengangkat tangannya.
"Berhenti disitu." Artinya aku tidak boleh masuk kedalam.
Akupun berhenti dan Oma kemudian berjalan mendekatiku dan mengambil susu dari kedua tanganku.
__ADS_1
Aku lihat Edsel dan juga Eiden menatapku dari tepat tidur mereka. Akupun tersenyum kepada keduanya dengan senyuman yang tulus dan berusaha mengambil hati mereka berdua.
Namun Edsel dan juga Eiden sepertinya masih takut padaku, sehingga mereka tidak memberikan reaksi apapun.
Beginikah saat orang asing masuk ke keluarga sultan? Sulit sekali beradaptasi dan meyakinkan mereka bahwa kita orang baik dan bukan pencuri yang setiap kali harus dicurigai.
Hanya Tuan Regan yang menjadi alasanku tersenyum karena kebaikan dan ketulusannya. Dan aku masih harus meyakinkan mereka jika meskipun aku orang yang tidak punya, tapi aku tidak akan mencuri dirumah ini.
Diterima dan diberikan tempat tinggal saja aku sudah bersyukur sekali.
Aku kemudian turun kebawah dan berniat menyapu dan mengelap dapur, dan mambantu mbak Mutia sementara Edsel dan juga Eiden tidur siang.
"Mila....apakah kamu sudah makan?" Tanya Tuan Regan mengagetkanku yang sedang memegang sapu.
"Eehhmmm..."
"Pasti kamu belum makan."
"Mila..apakah kamu belum makan?" Tanya Mbak Mutia.
"Sudah sana, makan dulu...nyapunya ntar saja. Nanti kamu sakit lo..." Kata Mbak Mutia.
"Iya Mila...sana makan dulu..." Kata Tuan Regan sambil mengambil segelas air mineral untuk nona Catherine.
Aku kemudian turun kelantai bawah. Rumah Tuan Regan sangat besar. Lantai dasar adalah taman, kolam renang dan juga garasi mobil. Lantai dua, ruang tamu yang sangat besar dan kamar tamu juga kamar asisten rumah tangga. Lantai tiga kamar untuk keluarga, dan lantai empat tempat untuk karaoke dan juga bersantai.
Aku saat ini ada dilantai dua. Karena dapur keluarga ada dilantai dua, sedangkan dapur asisten rumah tangga ada dilantai satu. Dapur utama dan dapur para pekerja mang sengaja dipisah mungkin menurutku. Jadi asisten rumah tangga juga bebas kalau masak sendiri atau sekedar bikin mie instan.
Aku kemudian membuka tudung saji dilantai bawah dan mengambil sedikit nasi juga lauk untuk makan. Entah kenapa aku tidak terlalu ingin makan, mungkin karena aku diomelin terus sama Oma, sehingga membuat nafsu makanku berkurang. Atau mungkin karena suasana yang berbeda dan masih dalam proses adaptasi.
Dengan cepat aku menghabiskan makananya dan aku kemudian naik lagi kelantai dua untuk membantu Mbak Mutia. Mumpung anak-anak masih tidur, aku bisa melakukan kegiatan yang lainya.
__ADS_1