
CEO Handoko datang kekantor dan melewati ruangan Mila. Dia berhenti sejenak dan tersenyum melihat ruangan itu.
Ruangan itu masih tertutup dan Mila belum datang. Siang harinya, CEO lewat ruangan itu lagi dan bertanya pada suster kenapa Mila tidak datang hari ini.
"Dokter Mila tidak menghubungi kami." kata Suster lalu masuk keruangan Mila dan mengambil beberapa berkas.
CEO lalu keluar dan masuk kedalam mobilnya. Dia akan kerumah Mila melihat keadaanya.
Sampai disana dia lalu menanyakan pada Bibi dimana Mila. Bibi itu mengatakan jika Mila tidak ada dirumah dan tidak berpesan padanya kemana dia pergi.
"Saya sangat khawatir. Perasaan saya tidak enak." kata Bibi yang mengkhawatirkan majikanya.
"Kira-kira kemana Mila pergi bi?"
"Saya juga tidak tahu Tuan. Ibu pergi buru-buru kemarin malam, dan tidak pulang hingga hari ini. Teleponnya juga ada dirumah, mungkin ibu lupa membawanya."
CEO Handoko lalu duduk dan menunggu Mila. Tapi hingga sore hari, Mila juga tidak pulang. CEO Handoko bangun saat mobil Regan masuk kehalaman rumah Mila.
CEO Handoko berfikir mungkin ada Mila didalam mobil itu, tapi ternyata Regan turun sendirian.
"Kau disini?" tanya Regan.
"Apakah Mila bersamamu?" tanya CEO Handoko.
"Aku baru ingin menemuinya. Dimana Mila?" tanya Regan balik.
"Non Mila pergi sejak tadi malam dan belum pulang." kata Bibi menjawabnya sambil menggendong Matthew.
"Dengan siapa Mila pergi bi?" tanya Regan khawatir.
"Saya tidak tahu Tuan." kata Bibi. "Ibu juga tidak membawa handphone nya."
"Dimana telepon Mila?" kata CEO Handoko tiba-tiba.
"Sebentar saya ambilkan." kata Bibi lalu pergi kekamar majikanya dan mengambil telepon yang tertinggal.
Bibi menyerahkannya pada CEO Handoko dan karena cemas terpaksa CEO membuka ponsel Mila.
"Tidak bisa dibuka." kata CEO
Regan lalu menatapnya dan berfikir mungkin dia bisa membukanya.
"Biarkan aku yang coba." kata Regan dan mengingat kode yang mungkin dipakai Mila.
Sampai akhirnya Regan bisa membukanya. Dan Regan melihat pesan terakhir.
"Dia bicara pada seseorang." kata Regan.
"Siapa?"
"Namanya Jihan."
"Aku tidak mengenalnya." kata CEO Handoko yang tiba-tiba menjadi akrab dengan Regan.
"Aku ingat! Ya, aku ingat siapa Jihan? Dia teman SMA Mila." kata Regan.
__ADS_1
"Kita bisa melacak rumahnya." kata CEO Handoko.
"Ayo....." kata Regan.
"Pakai mobilku." kata CEO Handoko dan Regan masuk ke mobil CEO Handoko dan mereka menjadi akur lalu bersama-sama pergi mencari Mila.
Mereka mendatangi rumah orang tua Jihan. Tapi ternyata Jihan tidak ada disana. Ibunya bilang jika putrinya jarang menemuinya.
"Bagaimana ini?" tanya CEO Handoko.
Regan berusaha mengingat lagi teman-teman Mila yang lainya.
"Edo!"
"Dimana rumahnya?"
"Dokter Irwan. Dia adalah saudara iparnya." kata Regan yang pernah bertemu mereka dipermukaan Mila.
CEO lalu menelpon dokter Irwan dan menanyakan alamat Edo.
Setelah mendapatkan alamatnya mereka berdua lalu pergi kerumah Edo dan disambut oleh Kinan istrinya ada juga Wandah disana.
"Kalian kesini untuk mencari Mila?"
"Iya, Mila hilang sejak tadi malam." kata Regan.
Edo keluar dari kamarnya dan dia bilang jika dia tidak tahu rumah Jihan.
"Aku tidak tahu dimana rumahnya, tapi....aku pernah bertemu sekali denganya dipasar tradisional. Mungkin rumahnya disekitar sana." kata Edo.
Semoga Mila tidak pernah ditemukan! gumam Wandah sambil tersenyum sinis melihat kedua CEO yang tajir itu mencemaskan Mila, mantan menantunya.
Keesokan harinya karena Mila belum ditemukan, Edo berniat untuk membantu mencarinya.
Edo lalu berfikir jika pernah melihat Jihan disekolah TK tidak jauh dari pasar tradisional.
"Kau mau kemana?" tanya Wandah mertuanya.
"Keluar sebentar ma." kata Edo dan menghidupkan motornya lalu pergi kepasar tradisional yang berdekatan dengan sekolah TK.
Edo lalu duduk diatas motornya dan menunggu hingga anak-anak dijemput oleh orang tua masing-masing.
Dari kejauhan, Edo melihat Jihan membonceng suaminya untuk menjemput anaknya.
Edo lalu mendekati Jihan dan suaminya terlihat tidak suka dan melotot padanya.
"Jihan, lama tidak bertemu. Aku sedang mencari Mila, apakah kau tahu dimana Mila? Kau orang terakhir yang berbicara padanya." kata Edo yang dikasih tahu oleh Regan jika sebelum menghilang Jihan berbicara dengan Mila melalu pesan singkat.
Baru saja Jihan akan menjawabnya, suaminya memotong nya.
"Dia sudah lama tidak bertemu dengan Mila. Jadi hilangnya Mila tidak ada sangkut paut dengan Jihan."
Edo kesal karena dia bertanya pada Jihan tapi yang menjawab suaminya. Bukan hanya itu saja, Edo merasa jika Jihan mengetahui sesuatu tapi suaminya menutupinya.
Tiba-tiba Nayla berlari dan Jihan berpamitan pada Edo jika dia akan pulang.
__ADS_1
"Hati-hati...." kata Edo dan dia sangat khawatir juga karena Mila belum juga ditemukan.
Akhirnya Edo mendapat pesan dari Regan jika Mila sudah ditemukan.
Polisi menemukan Mila melalui rekaman CCTV dari mobil yang dilalui Mila.
Mila berjalan kearah puncak dan dari rekaman itu polisi lalu menyelusurinya dan menemukan mobil Mila terparkir di sebuah perumahan yang baru saja dibangun dan penghuninya juga masih sedikit.
Polisi membawa Mila kerumah sakit Handoko dan Regan serta CEO Handoko menunggu diluar ruangan dimana Mila mendapatkan perawatan karena mengalami dehidrasi.
Dia tertahan didalam rumahnya dalam kondisi terikat selama dua hari.
"Siapa yang sudah melakukan ini? Aku akan meremasnya!" kata Regan kesal.
"Aku akan membuatnya tidak bisa berdiri lagi. Kurang ajar!" CEO Handoko juga kesal dengan orang yang sudah tega mengikat Mila selama dua hari dan tidak melepaskanya.
Tidak lama kemudian mereka sudah boleh masuk karena Mila sudah siuman.
Mila tersenyum pada Regan dan juga CEO Handoko. Beruntung ada mereka sehingga Mila bisa ditemukan dan selamat. Tapi tetap saja melihat mereka berdua mendekatinya membuat Mila tertekan jika harus memilih diantara keduanya.
"Mila bagaimana keadaanmu?" Kata Regan dan CEO bersamaan.
Regan menggenggam tangan kanan Mila dan CEO Handoko menggenggam tangan kiri Mila.
Mereka mulai lagi, membuatnya merasa tertekan dengan cara mereka memperlakukanya.
Mila lalu menarik tangannya dari genggaman kedua CEO itu.
"Aku sudah lebih baik." kata Mila.
"Terimakasih...kalian sudah mencariku dan aku ditemukan." kata Mila sambil tersenyum.
"Siapa yang sudah melakukan ini padamu?" kata Regan dan CEO Handoko bersamaan.
Mila menarik nafas panjang dan menatap kedua pria yang berada didekatnya secara bergantian.
"Aku tidak mengenalnya." kata Mila berbohong.
Dia harus menanyakan pada Jihan jika ingin memasukkan suaminya kedalam penjara. Bagaimana pun Jihan adalah sahabatnya dan dia punya Nayla.
Jihan mungkin membenci suaminya, tapi memasukkanya kedalam penjara, dia pasti berfikir dua kali untuk melakukanya.
Dia pasti keberatan karena Nayla akan sedih jika ayahnya dipenjara.
"Bagaimana kau bisa tidak mengenalnya?" Mila menggelengkan kepalanya.
"Ada CCTV di sana?" tanya Regan.
Mila menggelengkan kepalanya.
"Tapi polisi pasti punya sidik jari orang itu." kata CEO Handoko.
Deg.
Mila kaget dan mungkin yang dikatakan CEO Handoko benar. Polisi pasti punya sidik jari orang itu dari tali yang digunakan untuk mengikatnya dan juga gagang pintunya.
__ADS_1