
Nadiya bersiap untuk mengajak Mila dan putranya Regan pergi fitting baju pengantin. Kalau urusan yang lainya, dia serahkan pada wedding organizer.
tok tok tok!
"Regan, bangunlah! sudah siang! Kenapa kau bangun sesiang ini? Kita akan fitting baju untuk pernikahan kalian," teriak Nadiya dari luar kamar Regan.
Nadiya berdiri dan tidak ada respon dari dalam. Dia berteriak lebih keras, "Regan, cepat buka pintunya!"
Tanpa sengaja, Nadiya mendorong pintu kamar Regan. Dan ternyata tidak dikunci, "Ternyata tidak dikunci. Dasar anak ini!"
Nadiya melihat Regan masih meringkuk dibawah selimut tebalnya. Nadiya dengan cepat mematikan AC dikamarnya.
cetek!
"Dingin sekali kamarmu," gumam Nadiya dan melihat sekeliling yang berembun.
Nadiya lalu berjalan ke jendela dan membuka tirainya dengan lebar, "Matahari sudah sepenggalah naik, sepertinya hari ini akan terik."
Nadiya lalu menarik selimut putranya,"Regan, kau mau menikah apa ngga?"
"Eehhhh, ntar lagi mi," rengek Regan.
"Sudah siang, mami ada arisan nanti sore, ayo kita fitting baju sekarang sama-sama satu keluarga. Kedua adikmu juga sudah ada dibawah."
"Mereka pulang?" Regan langsung duduk dan senang mendengar adik kembarnya pulang dari asrama.
"Baiklah.....Regan mandi dulu."
"Jangan lupa, telepon Mila untuk bersiap-siap. Mami banyak urusan, mami tidak mau menunggu lama kalian bersiap," kata Nadiya sembari merapikan selimut putranya.
"Mami, tunggu dibawah, cepatlah turun."
"Iya mi," Regan segera berlari kekamar mandi dan menyalakan shower.
Tiba-tiba, dia teringat jika tadi malam, Mila pergi bersama CEO Handoko.
"Si lajang itu, terus saja mengincar Mila, awas saja jika setelah menikah dia berani mendekati istriku. Aku akan menghajarnya tanpa ampun!"
"Hehe...."
Regan tertawa sendiri melihat dirinya dari pantulan kaca. Dia merasa geli melihat tubuhnya yang mungkin tidak sekekar dan se atletis CEO Handoko, tapi dia berniat menghajarnya, hal itu membuatnya terkekeh sendiri.
"Tetap saja! Biarpun aku kalah, aku tidak akan membiarkan dia menyentuh dan dekat-dekat dengan Mila. Hhhhh!" Regan mengangkat kedua tangannya dan otot dari lengannya sedikit menonjol.
"Aku akan rajin fitnes setelah menikah denganya. Ini sangat penting, agar pria lajang seperti dia berpikir dua kali untuk menggoda Mila."
Cia! cia!
Regan meninju udara kosong dan juga menendangnya didalam pancuran shower.
Ssiiiuuuttt!
Buuuukkkk!
Dia malah terpeleset karena sangat antusias membayangkan sedang menghajar CEO Handoko.
Aduhhhh! Bokongku sakit sekali!
Regan bangun dan maminya sudah berteriak dari luar kamarnya.
"Regan! Kenapa kau lama sekali? Cepat! Semua sudah siap!"
__ADS_1
"Iya mi! Lagi ganti baju!" teriak Regan dan dengan cepat mematikan shower dikamar mandi.
Dia berjalan sambil memegangi bokongnya dan pinggangnya yang sakit karena terpeleset barusan.
Tidak lama kemudian Regan turun dan seluruh keluarga sudah siap.
Regan lalu menelpon Mila,"Mila, kau sudah siap?"
"Aku sudah disini, ditempat fitting baju," jawab Mila tersenyum.
"Ok, kau memang paling bersemangat."
"Apa kau bilang?"
"Ohh, tidak....kami sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi sampai."
Terdengar suara Nadiya yang berbicara dengan bibinya.
"Bi, kami akan pergi keluar, bibi tidak usah masak untuk makan siang."
"Kau bohong!" kata Mila, "kau bilang dalam perjalanan. Aku mendengar suara Tante Nadiya berbicara dengan bibi."
"Hehe....kami pasti akan cepat sampai. Jadi, tunggulah ya ..."
"Huh, dasar!"
Mila lalu menutup teleponnya dan dia menyusui Matthew karena lupa membawa botol susu.
Tidak lama kemudian Regan dan keluarganya sudah sampai.
Mereka lalu diarahkan untuk fitting sesuai ukuran masing-masing, sedangkan Regan tidak melihat Mila, dia hanya melihat bibinya sendirian.
"Bi, dimana Mila?"
Regan lalu pergi keruangan khusus menyusui.
Untunglah disana hanya ada Mila.
"Keluarlah, ini ruang khusus ibu menyusui,"
"Sebentar," kata Regan dan melihat ke bawah leher Mila.
Mila dengan cepat tahu jika Regan memperhatikan Matthew yang sedang minum susu padanya.
"Apa yang kau lihat...."
"Ehm, itu.....sepertinya lezat, dia terlihat menikmatinya."
"Kau banyak alasan. Kau tidak memperhatikan Matthew, tapi kau melihat yang lainya."
"Ahh, Mila, kau jangan bicara begitu, aku jadi malu."
"Jika begitu, cepat lah keluar. Atau kau akan menunggu diusir?"
"Ya, aku akan tunggu diluar."
Regan keluar dan duduk sendirian sambil melihat-lihat.
Tidak lama kemudian Mila keluar. Nadiya berjalan mendekatinya.
"Mila, biarkan Matthew bersamaku, kau pergilah fitting dengan Regan."
__ADS_1
"Eh, iya Tante...."
Mila lalu menyerahkan Matthew pada Nadiya, dan dia berjalan beriringan dengan Regan.
Tiba-tiba, Regan menariknya kesebuah kamar pas dan memepetnya ke tembok.
"Regan, apa ya g kau lakukan? Disini banyak orang," Mila khawatir ada yang melihatnya dan dia akan malu jika mereka tahu dia diruang pas berduaan dengan Regan.
"Diamlah. Tatap aku....." Titah Regan sambil memegang punggung Mila dan menariknya agar dadanya menempel di tubuhnya.
"Kita akan menikah."
"Hem, lalu...."
"Kau akan menjadi istriku."
"Ya...."
"Kau seutuhnya akan menjadi milikku."
"Ehem...."
"Kau hanya boleh menatapku, kau tidak boleh dekat dengan pria lain. Kau tidak boleh menyentuh mereka," kata Regan sambil mengencangkan pelukannya.
"Lalu....apa yang ingin kau katakan sebenarnya?"
"Tidak ada, hehe....Aku hanya tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain."
"Ok. Aku hanya akan dekat denganmu dan hanya akan menatapmu...."
"Baiklah....cup!"
Regan mengecup bibir Mila agak lama dan meremas sesuatu miliknya yang sensitif.
"Aku sangat mencintaimu Mila, " Regan berbisik ke telinga Mila.
"Tante memanggil kita." Kata Mila dan mendorong Regan.
"Bagaimana jika ada yang melihat kita?"
"Mereka tahu jika kita akan menikah, jadi tidak akan ada yang bertanya?"
"Dasar!" Mila lalu berjalan mendahului Regan dan berbicara pada wo yang sedang melihat di kembar fitting baju juga.
"Kalian seperti dua pangeran tampan dengan stelan jas ini," kata Mila sambil mendekat pada sikembar.
"Tante....maafkan kami ya? Dulu kami suka nakal dan membuat Tante dimarahi Oma," kata sikembar teringat saat Mila bekerja menjadi baby sitter mereka dan mereka sering berbuat nakal.
"Tante sudah lama melupakanya. Sekarang Tante adalah seorang dokter, jika kalian nakal dan sakit, Tante yang akan menyuntik kalian."
"Tidak Tante." mereka ketakutan begitu mendengar kata suntikan. "Kami sudah besar dan tidak akan nakal lagi."
Mereka tertawa dan Regan memegang kepala kedua adiknya.
"Kakak! Sakit!" Teriak Edsel dan juga Eiden saat Regan memegang kepala mereka dan mengadukan kening mereka berdua saking gemasnya.
"Kalian diet hah! Kalian nampak kurusan sekarang!"
"Ohh, ini idenya dia! Dia bilang para gadis tidak suka dengan tubuh gendut seperti ini. Kami lalu makan sedikit."
Regan lalu tertawa dan memegang kedua telinga mereka. "Kalian kecil-kecil pacaran hah!?"
__ADS_1
"Tidaaaakkkk!" Jawab mereka serempak. Regan lalu melepaskan kedua tangannya dari telinga mereka berdua.