
Dokter Mila menunggu kabar dari Regan yang mengatakan akan menjemputnya makan siang. Tapi hingga waktu makan siang berakhir, Regan tidak datang juga.
"Kenapa aku harus menunggunya?"
"Dia pria beristri, tentu saja dia akan makan bersama keluarganya. Untuk apa dia justru makan siang dengan wanita lain?"
"Pasti saat ini mereka sedang makan sambil bercanda dan tertawa. Sementara aku begitu bodoh, karena terus menunggunya dan kelaparan."
Tiba-tiba pintu diketuk dan dokter Irwan masuk membawakan makanan paket nasi untuk dokter Mila.
"Kau belum makan bukan? Aku membawakan makan siang untukmu." Kata Dokter Irwan.
Mata dokter Mila berkaca-kaca. Dia begitu kecewa hingga saat melihat kebaikan dan perhatian dokter Irwan, membuat airmatanya hampir jatuh.
"Kau menangis?" Tanya dokter Irwan yang tiba-tiba melihat mata dokter Mila basah.
"Kenapa kau menangis?" Tanya dokter Irwan dengan sikapnya yang lembut.
"Saya hanya sedang teringat pada seseorang. Dan mengingatnya membuat saya sedih."
"Apakah dia mantan kekasihmu?"
Tanya Dokter Irwan pada Mila kekasih hatinya.
"Bukan...dia adalah teman dekat saya, saya sangat merindukannya."
"Apakah dia temanmu yang waktu itu?"
Tanya dokter Irwan.
Dokter Mila mengangguk.
"Iya, biasanya kami berbagi banyak hal dan saling berbagi cerita. Tapi sekarang aku... tiba-tiba aku sangat merindukannya." Kata dokter Mila.
"Bagaimana kalau aku mengantarkanmu menemuinya?" Tanya dokter Irwan yang sedih melihat Mila tiba-tiba menangis.
"Baiklah." Kata Mila sambil mengusap airmatanya.
"Aku pergi dulu. Ada pasien yang harus aku lihat." Kata Dokter Irwan.
Dokter Mila mengangguk dan berusaha bersikap tenang.
"Kenapa aku menangis didepanya? Aku terpaksa berbohong karena dia bertanya. Dan hari ini aku terlihat buruk sekali dimatanya. Aku menangis untuk pria yang sudah beristri. Aku menunggunya, karena dia berjanji akan makan siang bersamaku. Dan entah kenapa hatiku sakit, saat dia tidak datang."
Dokter Mila lalu membuka makanannya. Dia memang sudah sangat lapar hingga makan dengan sangat lahap.
***
Beberapa hari kemudian Catrine sudah terbangun dari koma, dia membuka matanya perlahan.
Dikamarnya hanya ada ayahnya saat itu. Regan batu saja pulang karena dia memilih untuk rawat jalan. Nadiya membawanya pulang dan melanjutkan pengobatan dirumahnya.
"Apa yang terjadi denganku Pa? Kenapa aku ada disini?" Tanya Catrine dengan merasakan pegal-pegal pada setiap anggota tubuhnya.
Papanya menatap Putri semata wayangnya dengan bahagia. Tanpa sadar papanya meneteskan airmata karena terharu.
"Kamu koma nak." Kata Papanya sambil mengusap airmatanya.
"Koma?" Tanya Catrine dengan terkejut. Dia tidak ingat apapun. Bagaimana dia bisa koma dan kemana Regan? Apakah dia sudah mengatakan pada kedua orang tuanya jika pernikahanya hanya sandiwara?
"Apa yang kamu pikirkan nak?" Tanya Papanya saat melihat wajah putrinya yang terlihat bersedih.
"Apa yang terjadi dengan Catrine pa? Apakah papa bisa menceritakanya?"
Tanya Catrine yang ingin tahu apakah papanya sudah tahu jika pernikahan mereka hanya diatas kertas atau semuanya belum terbongkar.
"Papa tidak tahu pasti apa yang sebelumnya terjadi. Tapi yang papa tahu dari pengakuan Regan jika kau menabrakkan mobilmu setelah kalian bertengkar." Kata Papanya menjelaskan yang dia ketahui.
Selebihnya Regan tidak mengatakan apapun termasuk masalah rumah tangga mereka hingga membuat mereka bertengkar.
"Apakah hanya itu saja?" Tanya Catrine dan perlahan kecemasannya hilang saat dia tahu jika Regan tidak mengatakan apapun.
Artinya hingga saat ini mereka masih menjadi suami istri yang sah. Dan Regan belum membongkar rahasia pernikahanya pada siapapun.
Tiba-tiba polisi datang saat tahu jika Catrine sudah siuman.
"Pa, kenapa ada polisi disini?" Tanya Catrine pada papanya.
Dia takut dan gemetar. Catrine memegang erat jari papanya hingga keringat membasahi dahinya karena cemas.
"Jangan takut nona Catrine." Kata seorang polisi itu karena melihat wajah Catrine yang ketakutan.
"Kami hanya membutuhkan sedikit informasi tentang bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi."
"Hanya itu saja pak? Bapak tidak akan menahan saya bukan?" Tanya Catrine.
__ADS_1
Papanya menatap wajah putrinya dan bisa melihat wajahnya yang begitu cemas dan takut.
"Jangan takut nak, berikan jawaban yang jelas. Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi."
Catrine lalu menceritakan pertengkarannya dengan Regan dan tiba-tiba terlintas dalam benak Catrine untuk menghentikan mobilnya.
"Baiklah, karena jawaban kalian sama. Maka tidak ada yang ditutupi disini dan semua ini murni karena masalah keluarga. Terimakasih, semoga lekas sembuh. Besok kami akan kemari lagi." Kata polisi itu lalu berpamitan pada Catrine dan papanya.
***
Regan sedang termenung dirumahnya sendirian.
Regan lalu teringat jika dia pernah berjanji akan makan siang dengan Mila, dan dia lupa tidak mengabarinya hingga berhari-hari.
Regan segera meraih ponselnya dan mencari nomor dokter Mila.
"Halo."
"Mila, maaf, waktu itu aku berjanji makan siang denganmu, tapi aku tidak datang." Kata Regan.
"Tidak papa. Aku juga tidak menunggumu. Aku juga lupa mengabarimu jika aku sangat sibuk." Kata Mila berbohong.
"Baiklah, jika begitu," Regan belum sempat menutup teleponnya tiba-tiba terdengar Mila berbicara dengan seseorang.
"Ya...dokter Irwan. Mari kita makan malam bersama." Kata Mila lalu menutup teleponnya.
Regan menutup teleponnya dengan pelan. Regan mendengar apa yang baru saja dikatakan Mila pada tunangannya itu.
"Mereka akan makan malam. Sepertinya Mila terlihat sangat bahagia. Aku sudah berfikir bahwa aku akan masuk kedalam kehidupannya. Tapi melihatnya bahagia, sebaiknya aku tidak menghancurkan kebahagiaannya. Dokter Irwan mungkin lebih baik dari aku dan lebih menyayanginya." Kata Regan dengan sedih.
Tiba-tiba maminya masuk dan memberi tahu Regan jika istrinya sudah siuman.
"Kita akan kerumah sakit sekarang. Catrine sudah siuman. Kau ikut bukan?" Tanya Nadiya pada putra kesayangannya.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut mi."
"Kau ini bagaimana kau kan suaminya, masa kau tidak ikut kesana. Bagaimana nanti tanggapan ayah mertuamu jika kau tidak kesana."
"Katakan saja jika aku sedang tidak enak badan Mi." Kata Regan dengan malas.
"Regan, ayo ikutlah dengan kami. Tidak enak lho, dengan papanya Catrine. Dia itu istrimu. Kau ini bagaimana sih?" Kata Omanya menasehati Regan.
"Tapi...." Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya kau harus ikut." Kata Omanya dengan tegas.
"Kau ini suami macam apa? Kau sangat berbeda dari Prasetyo. Dia sangat perhatian pada ibumu? Kau harusnya mencontohnya."
Nasehat Omanya.
"Bedalah Oma. Kalau Om Pras kan menikah karena keinginannya sendiri. Sedangkan aku? Aku menikah demi bisnis keluarga."
"Apa yang kau katakan! Tutup mulutmu! Jika mamimu mendengarnya maka kau akan menyinggung perasaannya."
"Tapi itu kenyataan Oma, dari awal aku menolak pernikahan ini. Tapi kalian terus saja berargumen dan memaksaku."
"Kau ini banyak bicara. Sudah! sudah! Itu mamimu sudah keluar dari kamarnya! Nanti dia dengar!"
"Aku muak dengan semua ini....." Kata Regan sambil duduk dimobil dibantu oleh Omanya.
Kakinya masih sakit sehingga dia harus menggunakan tongkat agar bisa berjalan.
Prasetyo berangkat dari kantor dan langsung kerumah sakit begitu mendengar jika menantunya sudah siuman.
Sementara Nadiya yang menyetir mobilnya, Oma duduk disampingnya dan Regan dibelakangnya.
"Regan, perbaiki sikapmu, terlebih terhadap istrimu." Kata Nadiya.
"Mami ngomong apa sih?" Kata Regan sambil melihat keluar jendela.
"Mami lihat Catrine begitu tertekan hingga melakukan hal nekat seperti itu. Jika kalian ada masalah sebaiknya selesaikan baik-baik dan jangan keluar rumah dalam keadaan marah. Akibatnya bisa buruk. Contohnya ya seperti ini?"
"Regan sedang tidak ingin membahas ini mami."
"Dengarkan nasehat mamimu Regan. Kau sudah dewasa, bersikaplah bijaksana. Makanya, Oma bilang, cepatlah punya anak, jika kau sudah punya anak, ikatan hati dan cinta kalian akan semakin kuat." Kata Omanya.
"Anak lagi! Anak lagi! Oma ngomongnya begitu melulu. Ujung-ujungnya ngomongin masalah anak." Kata Regan.
"Kehadiran anak itu menjadi ikatan yang kuat antara suami istri."
"Tapi kalau emang belum dikasih ya harus sabar Oma."
"Bukanya belum dikasih, kau tidak menginginkannya."
"Oma kok ngomongnya gitu sih? Mojokin Regan terus?"
Kata Regan yang mulai kesal dengan pembicaraan mengenai anak.
__ADS_1
"Kita sudah sampai." Kata Oma lalu turun lebih dulu.
Sementara Nafiya membantu Regan turun dan memberikan tingkatnya padanya.
"Kau harus bersikap sopan disana. Karena ada papanya Catrine. Jaga bicaramu. Jangan berbicara seperti tadi?"
"Iya mi."
Mereka masuk kedalam dan Catrine sudah tidak sabar menunggu kedatangan Regan. Dia ingin minta maaf padanya.
"Regan, maafkan aku, aku sudah bertindak gegabah dan menyebabkan kau dan aku terluka."
"Ya, sebaiknya kau cepat sembuh. Agar kau lekas pulang kerumah." kata Regan lalu duduk disamping Catrine.
Mereka yang ada disana terlihat sangat bahagia saat melihat kedua suami istri itu sudah berbaikan.
***
Orang tua dokter Irwan sedang mempersiapkan acara untuk pernikahan putranya.
Karena dokter Irwan berjanji untuk melangsungkan pernikahan bulan depan. Karena Mila sudah menyetujui jika mereka akan menikah bulan depan.
Sejak kejadian siang itu, Mila berusaha sepenuh hati menepiskan harapan cintanya pada masa lalunya.
Dia memutuskan untuk cepat menikah agar bisa melupakan semuanya.
Malam ini mereka sedang makan romantis disebuah restoran.
Dokter Mila terlihat sangat bahagia karena hatinya kini terbuka untuk dokter Irwan.
Sejak dia kecewa karena Regan tidak datang, hatinya perlahan-lahan mulai luluh dan terbuka apalagi bulan depan mereka akan menikah.
"Kau terlihat cantik hari ini." puji dokter Irwan.
"Terimakasih. Iya, apakah kau sudah mengatakan pada kedua orang tuamu? Kita akan menikah dengan sedikit tamu undangan. Kau tahukan, aku tidak punya keluarga. Jadi aku lebih suka pernikahan yang sederhana dan hanya dihadiri beberapa orang dan sahabat saja." Kata dokter Mila.
"Iya aku sudah mengatakanya dan mereka akan mempersiapkan semuanya."
"Aku merasa tidak enak karena mereka yang mempersiapkan semuanya."
"Tidak apa. Kau sangat sibuk. Dan semuanya begitu mendesak. Jadi harus ada uang mempersiapkan semuanya." Kata dokter Irwan.
Tiba-tiba dari pintu masuklah Regan dan keluarga besarnya kecuali Catrine.
Begitu pulang dari rumah sakit, mereka memutuskan untuk makan diluar.
Dan kebetulan mereka makan direstoran yang sama dengan Dokter Mila dan dokter Irwan.
Mila melihat mereka dan memilih untuk pura-pura tidak melihatnya.
Mereka duduk agak jauh dari tempat Mila dan dokter Irwan duduk.
Dokter Irwan juga tidak menyadari kehadiran mereka karena sedang makan dengan penuh kebahagiaan malam ini.
Regan melihat Mila sedang disuapi oleh dokter Irwan. Hatinya sakit melihat pemandangan itu. Tapi kemudian dia berbesar hati dan menepis semua perasaan yang harusnya tidak boleh dia rasakan.
"Aku bukan jodohnya."
Kata Regan tanpa sengaja.
"Kau bilang apa?" Tanya Oma.
"Tidak. Regan tidak bilang apa-apa. Oma ini kenapa sih, sensitif sekali."
Hahahaha....
Mereka semua tertawa melihat mereka berdua bertengkar terus sepanjang hari.
"Besok aku akan pulang kerumahku." Kata Regan.
"Kenapa? Kau tidak betah sekarang tinggal dirumah mamimu?" Tanya Oma.
"Bukan begitu Oma. Regan kan sudah punya rumah sendiri. Jadi Regan mau bersih-bersih sebelum Catrine pulang."
"Nah, begitu jadi suami. Jangan egois." Kata Oma.
Regan asal jawab saja. Karena sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan dengan Catrine tanpa ada yang mendengarnya.
Dirumah maminya terlalu banyak orang dan jika mereka bertengkar, maka akan terdengar oleh mereka.
Ada masalah yang harus segera diselesaikan. Dan hanya dia dan Catrine yang akan memutuskannya. Tanpa melibatkan keluarga besar.
Melibatkan mereka hanya membuatnya semuanya bertambah rumit saja.
Regan masih terus melirik kearah meja dokter Mila. Namun dia kaget saat meja itu telah kosong. Artinya mereka sudah pulang dan pergi meninggalkan restoran itu.
__ADS_1