
Kok ke toko baju wanita ya? Apakah Tuan Regan mau membelikan baju untuk kekasihnya? Atau hari ini ibunya sedang berulang tahun, sehingga Tuan Regan mengajakku, sekalian memilihkan hadiah untuk ibunya.
"Ayo Mila turun!" Titahnya.
"Iya Tuan. Untuk siapakah Tuan akan membeli baju? Apakah untuk kekasih Tuan? Tapi selera fashion ku terlalu payah, jadi mungkin tidak akan cocok untuk kekasih Tuan. Atau untuk ibu Tuan, tapi saya kan belum pernah bertemu ibu Tuan, jadi saya juga tidak tahu seleranya?" Aku berkata sambil melihat toko baju yang besar dan didalamnya pasti hanya menjual baju-baju branded saja.
"Sudah?!"
"Kok sudah? Maksud Tuan Regan."
"Ayo masuklah!"
Aku kemudian mengikuti Tuan Regan sambil melihat baju-baju yang sangat bagus. Kapan ya aku bisa membeli baju seperti yang dipatung itu? Pasti sangat bagus saat kupakai dan dalam sekejap akan mengubah auraku. Jadi bersinar gituuuu...Akh! Jangan menginginkan sesuatu yang diluar batas kemampuanmu Mila? Buat makan aja susah boro-boro bisa kebeli baju yang indah seperti itu.
Ya sudah! Cukup melihat-lihat saja, jangan sampai mematahkan hatiku karena tidak mampu membelinya.
"Mila pilihlah baju yang kamu sukai!"
"Saya?"
"Iya, kamu."
"Benarkah? Untuk saya?"
"Baju yang kamu pakai sudah tidak layak. Maksudku jangan tersinggung. Itu terlalu kekecilan, mungkin kamu membelinya lima tahun lalu."
"Iya. Kok bisa pas gitu sih nebaknya? Betul Tuan, saya membelinya waktu kelas satu SMP itu juga karena dapat hadiah uang kaget. Dan sudah lama saya tidak beli baju baru."
"Ya sudah! Buruan sekarang pilih beberapa untuk kamu pakai nanti dirumahku."
Iya juga sih! Jika aku jadi pengasuh adik Tuan Regan dan bajunya kotor and the kumel maka tentu aku ini seperti dipungut dari jalanan dan akan memalukan.
Baiklah aku akan memilih dua baju saja. Aku kemudian memilih baju yang harganya paling murah dan membutuhkan waktu lama untuk menemukan harga yang paling murah.
"Kamu cari yang modelnya kayak apa? Ini sudah satu jam dan kamu belum dapat satupun."
"Saya mencari yang harganya murah Tuan. Tapi ternyata semua harganya mahal-mahal. Saya jadi bingung mau pilih yang mana?"
"Ya sudah aku yang pilihkan saja. Kau terlalu lama."
Kemudian Tuan Regan langsung mengambil satu lusin baju tanpa melihat harganya.
"Berdiri disini." Kata Tuan Regan. Aku kemudian berdiri dan Tuan Regan mengukur semua baju yang dia pilih. Dan setelah semua baju cocok dengan ukuranku maka Tuan Regan kemudian membawanya ke kasir untuk dibayar.
"Berapa?" Tanya Tuan Regan.
"Lima juta."
Aku langsung shock! Untung aku tidak pingsan. Lima juta? Yaelah mending dikasih mentahnya aja Tuan. Aku belikan baju yang harganya 35.000 an kan sisanya bisa buat makan berbulan-bulan.
"Nih bawa. Kok malah bengong." Kata Tuan Regan memberikan paper bag itu kepadaku.
"Tuan...harganya mahal sekali."
"Tidak Mila. Itu biar awet. Kalau beli yang mahalan dikit kan lebih awet setelah dipakai."
"Saya biasa beli yang harga 35.000 an Tuan."
__ADS_1
"Pantesan satu jam kamu tidak memilih satu bajupun."
"Apakah nanti gaji saya akan dipotong Tuan?"
"Hah? Apa!?"
"Maksud saya kalau dipotong lima juta...maka..."
"Tidak Mila. Kamu pakai baju itu dan gaji kamu tidak dipotong." Kata Regan sambil geleng-geleng kepala.
"Terimakasih Tuan...Anda baik sekali. Mungkin di kehidupan sebelumnya saya pernah berbuat baik sehingga bisa bertemu orang sebaik anda Tuan."
"Ahk kamu lagi-lagi berlebihan. Ayo masuk mobil."
"Iya Tuan...."
Tuan Regan membukakan mobil untuk aku? Lagi-lagi aku diperlakukan dengan sangat baik. Dan jika terlalu lama aku diperlakukan seperti ini maka jika aku bermimpi terlalu tinggi, pasti kalau jatuh bukan hanya hatiku yang patah tapi seluruh tulangku akan remuk. Rasanya pasti sakit sekali, lebih sakit dari menahan rasa lapar selama tiga hari.
Lagi-lagi Tuan Regan memutar musik. Ternyata dia adalah penggemar musik. Sama seperti aku.
It's amazing how you
Menakjubkan caramu
Can speak right to my heart
Berbicara menyentuh hatiku
Without saying a word
Tanpa sepatah katapun
Kau bisa menerangi kegelapan
Try as I may, I could never explain
Meski kucoba, tak pernah bisa kujelaskan
What I hear when you don't say a thing
Apa yang ku dengar saat kau tak mengatakan apapun
The smile on your face
Senyum di wajahmu
Let's me know that you need me
Beritahuku bahwa kau membutuhkanku
There's a truth in your eyes
Kebenaran dimatamu
Saying you'll never leave me
Mengatakan kau takkan pernah meninggalkanku
__ADS_1
The touch of your hand saya you'll catch me where we I fall
Sentuhan tanganmu mengatakan kau 'kan menangkapku kemanapun aku jatuh
You say itu best when you say nothing at all
Kau mengatakan yang terbaik saat kau tak mengatakannya sama sekali
Aku melirik Tuan Regan yang bersenandung lirih. Untung saja sedikit banyak aku mengerti bahasa Inggris, jadi aku bisa mengetahui apa arti dari lirik lagu Ronan K. itu.
Kamu terlihat manis dan menawan saat bersenandung, dan entah kenapa aku lebih tertarik pada senandungmu daripada penyanyi aslinya. Whaaattt???? Lagi-lagi aku berkhayal dan berpikir yang tidak-tidak!
"Kita sudah sampai." Kata Tuan Regan dan kami turun dari mobil.
Aku melihat rumah yang sangat mewah dan seperti istana sultan.
Aku menarik nafas panjang berulang kali sebelum memasuki istana itu dengan sepatu kaca, ups! sandal jepit maksudku. Emang aku ini Cinderella? Hai....sadarlah Mila...
Aku menenteng koper dan paper bag lalu dengan langkah yang pelan memasuki rumah Tuan Regan.
"Ayo Mila, jangan takut..." Tuan Regan kemudian membantuku membawa beberapa barangku.
Aku berjalan memasuki ruang tamu dan disana tampak seorang nenek sedang mengasuh kedua anak kembar itu. Anaknya usianya kira-kira sudah 7 tahun. Mungkin kedua anak ini yang harus aku asuh.
"Kakaakkkk." Kedua anak itu langsung mendekat dan mengambil tangan Tuan Regan. Kemudian membawa Tuan Regan untuk duduk disamping nenek itu.
"Mila....kemari duduklah disini." Kata Tuan Regan mempersilakan aku untuk duduk bersamanya disebuah sofa putih yang indah.
"Iya Tuan..." Kemudian aku duduk dilantai. Aku rasanya tidak pantas untuk duduk disofa milik majikannya.
"Kok malah duduk dilantai? Ayo duduk diatas saja!" Kata Tuan Regan sementara nenek dan media bocil itu menatapku aneh.
"Tidak Tuan. Saya duduk dibawah saja." Aku berkata dengan jantung yang berdebar-debar.
"Siapa dia?" Nenek itu tersenyum padaku dan menanyakan tentang diriku kepada Tuan Regan.
"Dia adalah orang yang aku tabrak waktu itu Oma. Dan sekarang dia akan bekerja disini."
"Apakah kamu mau bekerja disini?" Tanya Oma.
"Iya....." Aku harus memanggilnya apa ya? Ya sudah Nyonya saja."Iya Nyonya....."
"Panggil saya Oma, tidak usah nyonya..." Sahut Nenek itu.
"I...iya Oma..."
"Apakah kamu bisa masak?"
"Tidak Oma...saya masih sekolah...."
"Nah masih sekolah kok sudah bekerja. Nanti bagaimana kamu akan bekerja dan akan sekolah?"
"Ehmmmm saya.....saya...."
"Dia akan mengasuh bocil ini setelah pulang sekolah Oma. Kan selama ini tidak ada satupun yang betah sama kedua jagoan neon ini. Biar Oma ngga capek maka biarlah Sharmila membantu Oma mengasuh kedua bocil ini."
Omanya kemudian melebarkan matanya dan menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
Aku bahkan sampai gemetar karena takut jika tidak diterima bekerja maka aku harus tinggal dimana?