
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan mandi, setelah itu aku mengganti baju seragam untuk berangkat ke sekolah. Karena rumah tuan Regan jauh dari jalan raya dan agak masuk ke dalam komplek maka aku harus berjalan kaki untuk bisa naik angkot ke jalan raya. Sehingga aku harus berangkat lebih pagi.
Namun ternyata Tuan Reganpun berangkat pagi dan ingin mengantarkan aku pergi ke sekolah.
Kemudian Ibu Monic menegurnya, dan membuatku kaget karena saat itu aku ada didekat Tuan Regan.
"Regan, kamu mau kemana sepagi ini?" Tanya Ibu Monic yang berjalan menuju dapur.
"Mau kekantor Oma."
"Sepagi ini?" Ibu Monic heran, karena kantor buka jam delapan tapi dia berangkat jam 5.30.
"Sekalian mau nganter Edsel dan Eiden kesekolah Oma."
"Biarkan saja mereka diantar oleh sopir. Nanti kamu malah kecapean kalau harus mengantar mereka dulu." Kata Ibu Monic.
"Tidak Oma. Biarkan saja sekali-kali saya mengantarkan sikembar kesekolah."
"Ya sudah kalau begitu Oma bangunin sikembar dulu."
Kemudian Ibu Monic berjalan kelantai atas untuk membangunkan Edsel dan juga Eiden yang masih lelap tertidur.
Sebenarnya membangunkan mereka adalah tugasku, karena saat ini akulah pengasuh Edsel dan juga Eiden. Namun sepertinya aku belum mendapatkan kepercayaan dari Oma untuk mengasuh sikembar. Sehingga aku lebih sering membantu pekerjaan mbak Mutia untuk bersih-bersih dan memasak.
"Hai Mila...kamu sudah bangun?" Tegur Mbak Mutia.
"Sudah Mbak. Karena hari ini saya masuk sekolah, jadi saya bangun lebih pagi. Oya Mbak...saya bantuin pekerjaan mbak Mutia nanti sepulang sekolah ya..." Aku mengatakan ini karena tidak enak dengan mbak Mutia yang sudah banyak membantuku dan menyemangati ku.
"Eehhhh tidak apa Mila. Kamu bisa bantu sepulang sekolah. Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus fokus pada sekolah kamu karena sebentar lagi ujian dan kelulusan. Masalah pekerjaan jangan kamu pikirkan. Ini memang sudah tugas sehari-hari aku. Nanti sepulang sekolah kamu boleh membantu. Sekarang sana....kamu sarapan dulu." Kata Mbak Mutia.
"Mbaaakkk...baik sekali sama Mila. Mila seperti mendapatkan kakak perempuan saat ini." Mataku mulai berkaca-kaca karena terharu mendapatkan teman sekaligus seperti kakak sendiri yang sangat pengertian.
"Hai Mila! Kok malah bengong....sudah sana sarapan dulu. Ada mie instan dilemati atas. Mbak belum sempat masak. Makan mie instan dulu aja ya."
"Iya mbak. Ya sudah Mila turun kebawah dulu ya mbak..." Aku kemudian turun kelantai satu dan masak mie instan. Dengan cepat aku memakanya selagi panas dan agar bisa kesekolah pagi-pagi sekali.
Aku kemudian mengambil tasku dan berjalan keluar.
"Mila!" Namun tiba-tiba Tuan Regan memanggilku dan akupun menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Tuan...." Aku kaget saat tiba-tiba Tuan Regan sudah ada dibelakangku persis.
"Ayo sekalian ikut kemobil. Sekolah kamu kebetulan dekat dengan sekolah Edsel juga Eiden."
Benarkah?
Apakah ini suatu kebetulan? Sehingga aku tidak perlu berjalan kaki dan naik angkot?
Belum sempat aku menjawab tiba-tiba Ibu Monic sudah berkata dengan ketus dan menatap tajam ke arahku.
"Kamu mau antar dia juga Regan?" Tanyanya sambil menatapku dengan tajam.
"Iya Oma...kebetulan sekolah Edsel dan Eiden dekat dengan sekolahnya Mila."
"Biarkan saja dia naik angkot Regan. Biar belajar mandiri. Dia yang bekerja kok malah jadi kamu yang repot ngurusin dia."
"Omaaa...ini kan satu arah. Sudahlah...biarkan saja Mila ikut. Lagian biar sekalian jagain Edsel dan juga Eiden."
"Mereka kan ada didalam mobil. Jadi ngga perlu dijagain. Nanti kamu malah terlambat kekantor loh!"
"Tidak Oma...ini masih pagi. Kantor buka jam 08.00."
"Iya Tuan....biar saya naik angkot saja. Saya tidak usah ikut mobil Tuan. Nanti Tuan malah terlambat kekantor." Aku tidak ingin Oma tambah tidak menyukaiku jika Tuan Regan terlalu peduli padaku.
"Tapi...Tuan...."
"Masuk Mila...."
Tuan Regan berjalan kedalam mobil dan membukakan pintu depan untuku. Aku kemudian masuk kedalam, sedangkan Oma menatapku dengan tajam dan sinis. Aku tetap tersenyum dan menganggukkan kepalaku pada Oma sebelum masuk kedalam dan Tuan Regan menutup pintu mobilnya.
Diikuti sikembar yang juga masuk kedalam mobil.
"Oma...Regan berangkat dulu." Kata Tuan Regan berpamitan pada Omanya.
"Ya kamu hati-hati dijalan." Kata Oma sambil melihat mobil Tuan Regan hingga keluar dari pintu garasi.
Kemudian mobil Tuan Regan melaju dan meninggalkan kompleks perumahan elit itu.
Saat ini kami sudah berada dijalan raya. Jalanan masih lengang dan sepi. Aku melihat jalanan sambil menghalalkan nama-nama jalan supaya saat pulang sekolah nanti aku pulang dan tidak tersesat.
__ADS_1
Setidaknya aku bisa sampai dirumah majikan aku tepat waktu dan tidak terlambat. Aku mengingat setiap nama jalan yang dilewati hingga kami sampai disekolah Edsel dan juga Eiden.
Aku kemudian turun dan membukakan pintu untuk kedua adik Tuan Regan.
"Kalian hati-hati dan jangan nakal..."Seru Tuan Regan dari dalam mobil.
Aku kemudian masuk kembali kedalam mobil dan jarak sekolah sikembar dengan sekolahku sangat dekat, hanya berjarak 100 meter.
"Mila...apakah kamu sudah sarapan?" Tanya Tuan Regan sambil melihat ke arahku.
"Sudah Tuan..."
"Makan apa Mila?"
"Mie Instan Tuan."
"Ngga baik makan mie instan setiap hari. Lain kali aku akan memberikanmu roti untuk kamu sarapan sebelum berangkat sekolah."
"Tidak usah Tuan. Jika Tuan terlalu baik pada saya nanti Oma akan marah dan semakin tidak menyukai saya Tuan."
"Tidak papa Mila. Jangan khawatir soal Oma. Oma sebenarnya orangnya sangat baik."
"Tapi saya takut Tuan...."
"Jangan takut...tidak papa, jangan terlalu dipikirkan." Kata Tuan Regan sambil tersenyum hangat dan menatap lama kewajahku. Membuat kulit diwajahku memerah karena malu.
"Saya turun dulu Tuan...." Kata Mila yang saat ini sudah sampai didepan sekolahnya.
Di gerbang sekolah kebetulan saat ini sedang ada Jihan yang baru saja datang.
"Jihan!" Aku memanggil sahabatku saat aku baru saja turun dari mobil dan kulihat Jihan sendirian di gerbang sekolah.
"Hai Mila....."
Mata Jihan langsung terpaku pada Ferrari merah yang baru saja mengantarkan aku pergi kesekolah.
Tuan Regan nampak mengangguk pada Jihan sebelum melajukan mobilnya kembali.
"Milaa..apakah kamu diantar oleh pangeran tampan itu lagi?" Tanya Jihan sahabatku.
__ADS_1
"Iya..." Aku mengangguk dan belum sempat bercerita pada Jihan jika saat ini aku bekerja pada Tuan Regan. Dan setiap hari kami bertemu bahkan satu rumah.
Tapi akan aku ceritakan nanti saja. Sekarang aku mau masuk ke kelas dulu. Ada beberapa PR yang belum aku kerjakan akibat bekerja sepanjang hari.