Dipinang CEO

Dipinang CEO
Terbuka


__ADS_3

Aku kemudian cepat mengusap air mataku dan menyadari kalau aku terlalu emosional. Aku menatap Tuan Regan dan langsung meminta maaf.


"Maaf Tuan....saya tidak bermaksud mengatakan yang barusan saya ucapkan. Seharusnya saya tidak mengatakanya. Tuan sangat baik kepada saya. Dan saya sangat berterimakasih. Sayalah yang tidak tahu diri dan telah lancang. Maaf Tuan....Tuan tidak marah kan?"


"Tidak Mila. Kamu kenapa? Apakah kamu lagi ada masalah?"


Ini adalah saat yang tepat untuk minta izin kepada Tuan Regan untuk mengunjungi kedua orang tuaku didalam penjara.


"Tuan...jika saya katakan sesuatu apakah Tuan tidak marah?"


Tuan Regan menatapku dengan bingung.


"Tidak." Dia lalu menjawabnya dan menunggu aku mengatakan sesuatu. "Katakanlah."


"Sebenarnya kedua orang tuaku ada didalam penjara. Tapi saya tidak berani mengatakan kepada Tuan Regan atau siapapun. Saya terlalu naif dan malu untuk mengatakan kenyataan ini."


"Dipenjara?" Tuan Regan langsung terkejut. Dan menatapku dengan sangat tajam dan jantungku berdetak lebih cepat dari nafasku yang mulai tidak beraturan.


"Iya Tuan." Aku menjawab sangat pelan. Dan takut untuk meneruskan kalimatku juga untuk terbuka tentang kedua orang tuaku. Walau bagaimanapun aku ingin secepatnya menjenguk mereka. Jika saja ada waktu dan majikanku ini mengizinkan.


"Kenapa Mila? Ayah dan Ibumu masih ada dan disini?"


"Iya Tuan. Saya tidak sendirian. Mereka masih ada namun saat ini ada didalam penjara...dan saya belum pernah menjenguknya disana."


"Kenapa kamu tidak kesana?"


"Tadinya saya tidak punya uang untuk pergi kesana, dan setelah itu saya tidak punya waktu dan tidak berani meminta izin untuk pergi kesana."


"Ya sudah. Besok saya antarkan kamu untuk menjenguk mereka." Kata Tuan Regan sambil menatap lurus kedepan. "Kenapa orang tuamu bisa ada didalam penjara Mila?"


"Maaf Tuan. Bolehkah pertanyaan ini diskip saja...Saya terlalu malu untuk mengatakanya."


"Ya sudah jika kamu tidak mau bercerita. Tapi jika nanti kamu sudah siap untuk bercerita. Maka katakanlah, aku akan mendengarkan dan mungkin aku bisa membantumu jika kau katakan penyebabnya."


"Baik Tuan. Terimakasih Tuan sudah sangat baik dan apakah saya akan dipecat karena orang tua saya ada didalam penjara?"


"Apa hubungannya dengan mereka Mila? Mereka dipenjara atau tidak bukankah kamu tetap bisa bekerja dirumah selama kamu mau?"


"Saya pikir mereka akan membuat aib dan Tuan tidak mau memperkerjakan saya karena nama baik Tuan bisa tercemar."


"Tidak Mila, pikiran kamu ini aneh dan sempit sekali."


"Karena dulu kami dikucilkan ditempat tinggal kami. Dan menurut mereka keluarga kami yang miskin dan hina merupakan aib bagi masyarakat."


"Tidak Mila. Semua orang bisa membuat kesalahan. Dan apa yang mereka perbuat tidak menjadi tanggung jawab kamu, mereka sudah dewasa dan tahu akibat dari setiap perbuatan. Namun menganggap kamu layak mendapat hukuman atas perbuatan mereka maka itu salah besar. Kamu gadis yang baik. Saya tahu itu. Jadi jangan berkecil hati, ya...." Kata Tuan Regan sangat bijaksana dan membuat hatiku tenang.


"Terimakasih Tuan....mungkin Tuhan mendengar doa saya dan mengirimkan Tuan sebagai malaikat penyelamat."


"Ahk kau mulai berkhayal dan berlebihan lagi."


"Benar Tuan. Tuan adalah malaikat tanpa sayap bagi saya."


Kamudian Tuan Regan memutar lagu dan mulai asyik dengan iramanya. Sesekali aku melirik kearahnya. Wajahnya begitu tenang dan aku tidak pernah melihat ada kemarahan dalam auranya.

__ADS_1


Melukis Senja


Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang menaklukan hari-hari mu yang tak mudah


Biar ku menemanimu membasuh lelah mu


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa


Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Aku disini walau letih coba lagi jangan berhenti


Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri


Biar ku menemanimu membasuh lelah mu


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa


Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia hah


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita

__ADS_1


Menangis tertawa


Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Lagunya nyesek banget, tapi kenapa ya setiap kali Tuan Regan memutar radio dan yang terdengar pas lagu kesukaanku dan aku bahagia sekali ada yang menemaniku saat aku mendengarkan beberapa lagu favoritku. Meskipun yang menemaniku bukan kekasihku, melainkan majikanku.


Namun aku tetap senang dan semua ini terasa berbeda saat mendengarkan musik sendiri dan saat berdua. Ini adalah saluran Radio Popular, yang memutar musik sepanjang hari dan semua lagu yang diputar rata-rata lagu yang lagi hits.


Akhirnya kami sampai dirumah. Tuan Regan mematikan musiknya dan aku langsung turun tanpa menunggu Tuan Regan membukakan pintu untukku.


Kulihat dari jendela atas, Oma menatapku tajam. Aku langsung mengngguk hormat dan tersenyum ramah padanya, meskipun Oma tidak membalasnya dan tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Mila ayo masuk. Nanti setelah ganti baju kau naik keatas ya. Kau bisa menggantikan Oma untuk menemani sikembar." Kata Tuan Regan.


"Baik Tuan." Aku kemudian cepat masuk kedalam kamarku dan mengganti baju."


Lalu setelah itu aku naik keatas dan bermaksud menemani keduanya. Dan saat sampai dipintu Oma langsung menegurku.


"Kamu dijemput Tuan ya?"


"Iya Oma. Saya tidak tahu tiba-tiba Tuan ada didepan sekolah saya."


"Lain kali kamu pulang sendiri bisa kan?"


"Bisa Oma."


"Ya sudah sekarang kamu bikinin jus buah jambu merah untuk mereka. Setelah itu kamu suapi mereka."


"Iya Oma." Syukurlah akhirnya Oma memberiku kesempatan untuk melakukan tugas dan kewajibanku sebagai pengasuh mereka.


Aku kemudian langsung menuju ke lemari pendingin dan ngambil dua jambu merah untuk dijus.


"Mila nanti jangan pakai gula putih. Ada gula batu diatas meja. Kamu pakai itu saja jika kurang manis. Gulanya jangan banyak-banyak agar gigi mereka sehat." Kata Oma sambil keluar kamar dan mengamati caraku membuat jus buah.


"Iya Oma."


"Cuci dulu buahnya Mila. Baru setelah itu kamu potong dan kamu blender."


"Iya Oma."


Aku memang tidak pernah memegang alat seperti ini. Karena dirumahku kami tidak punya perabot rumah tangga. Sehingga ini pertama kalinya aku membuat jus buah pakai blender. Namun aku yakin aku pasti bisa karena meskipun belum pernah menggunakannya, aku sering melihat beberapa demo masak dan aku tahu cara menggunakan blender ini dari acara di televisi.


Aku juga tidak punya Televisi sih, tapi aku suka nonton diwarung Mpok Ijah sambil belanja saat ada waktu senggang.

__ADS_1


Aku seperti hidup dimensi lain. Semua elektronik sudah serba canggih dan modern namun aku tidak memilikinya. Aku seperti hidup dizaman batu. Aku hanya punya panci dan penggorengan untuk memasak. Itupun sudah hitam semua.


Tapi sekarang Tuhan memberiku surga didunia. Yaitu aku bisa tinggal dirumah mewah dan besar dan semua kenikmatan ini, meskipun aku bukan pemiliknya namun aku kadang ikut menikmati barang-barang mewah milik mereka tanpa harus membelinya. Si itik buruk rupa ini saat ini sedang tinggal dirumah sultan yang semua serba putih dan bersih.


__ADS_2