Dipinang CEO

Dipinang CEO
Berdebar


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dan Regan mulai setiap hari ngedate dengan dokter Mila. Regan terus meyakinkan Mila jika Ibunya pasti menyukainya.


Sebentar lagi ada acara pernikahan salah seorang sepupu Regan, dan Regan ingin Mila datang bersamanya. Dan Regan akan mengenalkanya pada semua keluarga besarnya.


"Hatiku berdebar-debar..." kata Mila mendengar keinginan Regan.


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa. Mereka pasti menyukaimu." kata Regan dan menatap Mila sambil menggenggam tangannya.


"Apakah kau yakin mereka akan menyukaiku?"


"Iya." Regan mengangguk dan menatap Mila semakin dekat.


Mila memejamkan matanya dan jantungnya semakin berdebar kencang. Bahkan mungkin terdengar oleh Regan karena saking cepatnya.


Kepala Regan semakin terdorong mendekat dan hidungnya menyentuh hidung Mila.


Mila membuka matanya perlahan dan Regan masih tetap pada posisinya.


Mata mereka bertemu dan bertatapan sangat lama. Regan lalu menarik kepalanya ke belakang dan tidak jadi mencium bibirnya.


Regan tersenyum hangat pada Mila, sementara Mila tertunduk dan berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak sangat cepat.


"Aku sangat mencintaimu Mila. Dan aku berjanji untuk membahagiakanmu hingga kau tidak akan pernah terluka." kata Regan sambil memegang pipi Mila dan membelai rambutnya.


"Semoga kau bisa menepati apa yang kau katakan." kata Mila dan menggenggam tangan Regan dan dia taruh kedadanya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan matamu mengeluarkan airmata selain airmata kebahagiaan." kata Regan menatap Mila dengan mesra.

__ADS_1


***


CEO Handoko datang ke ruangan Mila dan mengatakan jika kursi direktur tidak boleh kosong terlalu lama. Dan direktur yang sekarang hanyalah bersifat sementara.


"Mila sebaiknya kau persiapkan segalanya, aku akan melantikmu secepatnya." kata CEO Handoko.


Mila berfikir dan mulai mengubah apa yang dia rencanakan dahulu.


"Saya melihat dokter Irwan mulai berubah sekarang. Dia sepertinya sudah menyadari kesalahannya dan tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan kedua baginya."


"Maksudmu? Bukankah kau ingin membuatnya...."


"Ya. Awalnya saya sangat marah dan ingin membuatnya jatuh hingga aku puas melihatnya. Tapi terlalu banyak kejadian yang diluar rencana dan Weni juga sudah menerima hukumannya, begitu pula dokter Irwan. Secara psikis saya yakin dia sudah sangat tertekan karena istrinya di penjara dan anak yang ada didalam kandunganya pasti selalu membuatnya cemas setiap hari. Dan itu sudah cukup. Saya tidak akan melanjutkan apa yang sudah saya rencanakan dahulu."


"Lalu bagaimana dengan posisi direktur?"


"Dokter Irwan cukup baik dan bertanggung jawab. Meskipun ada sedikit kesalahan tapi jika bapak tidak keberatan maka biarkan dia memperbaiki kesalahannya."


"Ya. Jika bapak tidak keberatan."


"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan. Maka semua akan seperti keinginanmu." kata CEO Handoko lalu pergi dari ruangan Mila.


***


CEO Handoko memanggil dokter Irwan keruanganya dan mereka berbicara dengan pintu yang tertutup.


Tidak lama kemudian Dokter Irwan keluar dengan wajah yang ceria dan terlihat senang.

__ADS_1


Dokter Irwan lalu menelpon mamanya dan mengatakan apa yang baru saja CEO Handoko katakan padanya, jika dia akan menjadi direktur lagi seperti sebelumnya.


"Ma, ada kabar baik untuk kita ma?" kata Irwan sambil berjalan disepanjang koridor.


"Apa? Mama bosan dengan kabar buruk yang terus saja terjadi." kata Wandah acuh.


"Kali ini mama pasti senang."


"Apa? Cepat katakan?!" kata Wandah sudah tidak sabar.


"Irwan akan menjadi direktur lagi ma. Tadi CEO Handoko memanggil Irwan dan akan memberikan jabatan itu lagi pada Irwan." kata Irwan dengan perasaan yang bahagia.


"Benarkah?" Mamanya langsung menutup teleponnya dan akan berkemas untuk kesalon. Dia akan datang ke acara perkumpulan teman-teman nya nanti malam.


"Ma....." Tapi mamanya ternyata sudah menutup teleponnya.


Dokter Irwan lalu tersenyum dan berjalan ke ruangannya.


Sementara CEO Handoko menelpon Mila dan mengatakan jika dia sudah berbicara pada Irwan.


"Aku sudah mengatakan apa yang kau inginkan." kata CEO pada Mila.


"Terimakasih...." Mila menoleh kejendela dan dia lihat dokter Irwan baru saja melintas dengan senyum di bibirnya.


"Aku melihatnya." kata Mila masih dengan menggenggam telepon di tanganya.


"Siapa?"

__ADS_1


"Dokter Irwan. Dia baru saja lewat."


"Ohh...."


__ADS_2