
Mereka singgah dulu di sebuah restoran dan masuk lalu duduk berhadapan. Setelah memesan makanan mereka tanpa sengaja bertatapan.
Mila langsung mengalihkan pandanganya dan Regan masih tetap menatapnya sambil tersenyum.
"Makanlah yang banyak, seharusnya kau pesan dua porsi. Kau makan untuk dua orang." kata Regan.
"Ehm, tidak, satu porsi sudah cukup." kata Mila dan memang sudah merasa sangat lapar.
Mereka makan dan Mila dengan cepat menghabiskan makanannya, sementara Regan masih tersisa separo.
Regan lalu tersenyum melihat kebiasaan Mila yang tidak hilang dari dulu. Jika dia lapar, rasa jaimnya tidak terlihat, dan dia akan menghabiskan makanannya dengan cepat.
"Nambah ya?" tanya Regan.
"Tidak, cukup saja. Aku sudah kenyang. Aku lupa jika hari ini aku harus kedokter. Ohh, aku tidak ingat sama sekali." kata Mila.
Regan segera menghentikan makanya dan menatap Mila.
"Ayo, aku akan mengentarmu." kata Regan lalu bangun.
"Tapi, makananya...makan dulu..."
"Tidak, aku sudah kenyang," kata Regan lalu membayar ke kasir.
Setelah itu Regan mengantarkan Mila kedokter dan kali ini Regan ingin masuk kedalam.
Dokter yang biasa memeriksa Mila tersenyum pada Regan.
Regan mengangguk sopan padanya dan membalas senyumnya.
Terdengar dokter itu menegur Mila.
"Aku belum pernah melihat suamimu mengantarmu kemari? Kalian baik-baik saja bukan? Biasanya para suami sangat over protective saat istrinya hamil anak pertama. Itu yang dulu aku rasakan." Kata Dokter Yosep yang sudah seperti kakak sendiri bagi Mila.
Mereka sudah lama akrab sejak Dokter Yosep bertugas kerumah sakit itu. Dan Mila menganggapnya seperti kakaknya sendiri.
Regan mendengar perkataan dokter Yosep dan kaget saat tahu jika Irwan sama sekali tidak pernah mengantarkan Mila kerumah sakit.
Melihat hal itu, Regan curiga jika ada yang Mila sembunyikan dan pasti ada sesuatu yang sudah terjadi diantara mereka.
Tapi sayangnya, dia tidak begitu akrab dengan dokter Irwan dan tidak bisa menggali informasi darinya. Mila juga tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
Regan hanya bisa menatapnya dan berbuat sebisanya.
Mila keluar dan tersenyum melihat Regan lalu mereka kemobil.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan bayinya?"
"Ehm, dokter mengatakan dia sehat. Dan sebentar lagi akan lahir."
"Sebaiknya kau cuti saja Mila. Perutmu sudah semakin besar."
"Ya, aku akan mengambil cuti mulai besok." kata Mila dan menatap kosong kedepan.
"Apakah Irwan menelponmu dan menanyakan keadaanmu?"
"Ehm, tidak, dia mungkin sibuk dikantor." jawab Mila.
Regan terlihat mengangguk-angguk dan membelokkan mobilnya kekanan.
Rumah Mila sudah kelihatan dan Regan menghentikan mobilnya.
Terlihat mobil dokter Irwan sudah terparkir dirumah.
Mila masuk kedalam dan dia lihat Weni sedang memasak ditemani oleh suaminya.
Mereka menoleh saat Mila datang. Mila tertegun melihat suaminya yang menemani Weni memasak dan membantunya. Pemandangan yang menusuk relung hatinya. Seandainya rumah tangganya baik-baik saja, maka dia juga ingin didapur dan suaminya membantunya.
"Mila, kau baru pulang? Tapi, makananya belum matang, tunggulah sebentar lagi." kata Irwan.
"Aku akan naik keatas dulu."kata Mila lalu naik kelantai dua.
***
Dokter Yosep memintanya datang kerumah sakit. Mila lalu menghubungi Irwan dan Irwan segera pulang. Irwan lalu menjemput Mila dan mengantarnya kerumah sakit.
Mila lalu menemui dokter Yosep dibantu oleh Irwan. Saat ini sepertinya rasa mulas diperutnya semakin kuat. Mila bahkan merasa kesulitan saat berjalan.
Mila lalu dibawa keruangan dan Dokter Irwan ada didalam menemaninya. Tidak lama kemudian terdengar suara bayi dan ternyata Mila melahirkan bayi laki-laki yang sehat dan gemuk.
Bahkan dia melahirkan dengan cepat dan secara normal.
Beberapa perawat lalu membawa bayi itu dan membersihkanya. Mila tersenyum karena akhirnya dia bisa melahirkan dengan normal.
***
Dua hari dirumah sakit, Mila lalu membawa bayinya pulang kerumah. Dan dirumah sudah ada ibu mertuanya dan juga Kinan kakak iparnya.
"Selamat ya Mila, kau sudah melahirkan." kata Kinan sambil tersenyum.
"Selamat Mila." kata ibu mertuanya.
__ADS_1
Selama ada mereka berdua, Mila tidak terlalu repot, karena Kinan sangat baik dan mengurus Mila dengan tulus. Sementara Ibunya hanya menginap semalam dan setelah itu pulang kerumahnya.
Weni tidak ada disana begitu Mila dibawa kerumah sakit. Weni membawa semua bajunya dan sekarang kamarnya dipakai oleh Kinan yang sengaja menginap untuk membantu Mila.
Mila sangat beruntung memiliki kakak ipar seperti Kinan, dia menganggap Mila seperti adiknya sendiri.
"Aku pulang dulu, bagaimana kalau aku carikan Art untuk membantumu? Kau sendirian, dan aku khawatir. Kau tahukan, mengurus bayi dan rumah secara bersamaan sangat merepotkan. Dulu, mama sering membantuku, tapi kau disini sendirian. Sebaiknya kau punya satu orang untuk membantumu." kata Kinan.
"Irwan sangat sibuk, dia tidak bisa kau andalkan." kata Kinan yang mulai curiga juga dengan sikap Irwan yang terlihat berbeda.
Mila akhirnya mengangguk dan tidak lama kemudian Kinan menelpon kendalanya yang suka menyalurkan art dari desa ke kota.
"Katanya ada satu masih tersisa. Usianya sekitar 30 an. Kau mau?"
"Baiklah."
"Kalau begitu nanti sore dia akan diantar kemari." kata Kinan.
Tiba-tiba dokter Irwan datang dan mengatakan jika dia akan dipindahkan keluar kota karena ada masalah dicabang rumah sakit milik bosnya.
"Apa!?" Kinan terkejut karena Mila baru saja melahirkan dan Irwan malah akan meninggalkanya.
"Kau tahukan istrimu baru saja melahirkan? Sebaiknya kau tolak saja. Masa istrimu sendirian dirumah?" kata Kinan kakaknya.
"Tidak bisa Kinan. Aku adalah direktur utama. Kau tahukan aku belum lama terpilih, jadi aku harus pergi." kata Irwan.
"Jika kau mau, kau bisa tinggal disini menemani Mila." Kata Irwan.
"Tidak apa. Kau pergilah Irwan. Aku nanti ada art yang akan membantuku disini." kata Mila.
"Tapi Mila...dia ini suamimu...seharusnya dia lebih mementingkan keluarganya daripada karirnya." kata Kinan.
"Tidak papa mbak. Karirnya juga penting. Dan ini mungkin kebetulan saja. Aku baik-baik saja." kata Mila yang tidak ingin menghalangi Irwan.
Bagaimanapun, Irwan bukan ayah dari bayi yang baru saja lahir. Dan mungkin sebentar lagi dia akan mendaftarkan perceraiannya, gumam Mila.
Irwan menemui mamanya dan mengeluh tentang rencana nya yang berantakan.
"Itu salahmu! Kau seharusnya mendorongnya saat kau pergi ke bukit itu. Tapi kau sok pintar!" kata Mamanya dan kesal dengan Irwan yang menundanya sangat lama.
"Dimana kakakmu?" tanya Wandah.
"Dirumah." kata Irwan sambil memegangi kepalanya yang tidak berat
"Sebaiknya kau segera menceraikanya. Dan kau buat dia menderita. Kau terlalu lama memanjakannya." kata Wandah.
__ADS_1
"Saat itu dia hamil ma...." Irwan juga sedang kalut saat ini karena Weni juga hamil. Dan ternyata Weni menuntut untuk dinikahi olehnya. Jika tidak Weni mengancam akan merusak citra dirinya. Weni sudah hamil dua bulan. Dan jelas itu anak Irwan karena dia disewa berbulan-bulan olehnya.