Dipinang CEO

Dipinang CEO
Mila pergi dari rumah suaminya


__ADS_3

Weni tinggal di apartemen dan sedang menatap ke jendela. Dia juga tidak pernah menyangka akan hamil. Dia rupanya telat meminum pil yang biasanya dia minum untuk mencegah kehamilan.


Dia memang wanita panggilan kelas atas tapi dia saat ini sudah menginjak usia 32 tahun, entah kenapa dia juga mulai bosan dengan pekerjaannya.


Menjadi simpanan dokter Irwan selama ini telah membuatnya nyaman dan dia berfikir untuk mengakhiri pekerjaannya sebagai wanita panggilan dan menjadi istri dari dokter Irwan.


Dia juga sudah pantas menjadi seorang ibu. Pekerjaannya harus dia tinggalkan dan dia akan hidup seperti wanita normal, itu yang dipikirkan Weni.


Menjadi wanita panggilan tidak selamanya menguntungkan. Karena usia yang tidak lagi muda, tentu akan tergeser oleh mereka yang masih muda. Dan semakin bertambah usianya, maka pekerjaan menjadi wanita panggilan tentu bukan pilihannya.


Weni lalu mendatangi Mila dan mengatakan apa yang terjadi dengan dirinya.


Mila yang tiba-tiba mendengar pengakuan Weni dan dia baru saja melahirkan menjadi sesak dada nya. Hanya airmata yang keluar dari sudut matanya. Dia tidak mampu mengatakan apapun lagi.


Irwan telah mempermainkannya selama ini. Dan untuk apa dia tinggal dirumahnya lagi?


"Mila, aku tahu jika kau telah membuat kesalahan dan itu yang menyebabkan pernikahanmu gagal. Dan Aku sebenarnya bukan sepupunya Irwan. Dia membayarku untuk tinggal dirumahnya." kata Weni terus terang karena dia tidak ingin berlama-lama. Bagaimana pun perutnya akan semakin membesar dan dia ingin menikah sebelum perutnya bertambah besar.


"Jadi...kalian bukan sepupu?" tanya Mila dan menatap Weni dengan tajam.


Artinya jika Weni dibayar oleh suaminya, maka setiap malam, Weni akan melayaninya sebagai istrinya?


Itu yang Mila pikirkan.


"Saat ini aku hamil, dan aku ingin agar Irwan bertanggung jawab atas perbuatannya. Mungkin Irwan tidak lama lagi akan menceraikanmu." kata Weni pelan.


Mila mengusap airmatanya dan mengangguk.


"Aku akan segera pergi dari sini. Aku tidak ingin tinggal disini lagi." kata Mila tanpa ingin berkata panjang lebar dengan Weni.


"Dia boleh menceraikan aku." kata Mila yang sudah siap diceraikan Irwan karena dia merasa apa yang dilakukan Irwan sudah sangat menyakitkan.


Mila lalu mengemas semua bajunya dan memasukkanya kedalam kopernya. Weni menatap apa yang Mila lakukan lalu keluar dari kamar Mila.


Irwan masih ada diluar kita dan tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Irwan juga tidak tahu jika Mila pergi dari rumahnya. Dan Weni tidak mengatakan apapun pada Irwan.

__ADS_1


"Mbak, ayo kita pergi sekarang." kata Mila pada artnya.


"Kemana Bu?"


"Kita pulang kerumah."


"Tapi bapak belum pulang?"


"Tidak papa." kata Mila dan menggendong bayinya masuk kedalam taksi yang dia pesan.


Sementara mbaknya membawa koper dan semua tentengan yang sudah dipak rapi oleh Mila.


***


Keesokan harinya Kinan datang dengan membawa makanan untuk Mila. Kebetulan hari ini dia masak banyak dan karena rumahnya tidak terlalu jauh dari Mila maka dia berniat memberikanya untuk adik iparnya.


Dia mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada jawaban.


Akhirnya dia menelpon Mila dan kebetulan saat itu Mila juga sedang mandi, jadi dia tidak menjawabnya.


Kinan lalu pulang menemui Edo, suaminya.


"Apa? Mila pergi? Itu tidak mungkin, dia kan baru saja melahirkan?"


"Tapi aku lihat rumahnya kosong. Dan tidak ada siapapun dirumahnya." kata Kinan.


"Coba kau telepon Irwan." kata Edo.


Kinan lalu menelepon Irwan dan saat ini Irwan sedang dalam perjalanan pulang kerumah.


"Ya, aku sudah mau sampai dirumah." kata Irwan lalu menutup teleponnya.


Irwan memarkir mobilnya seperti biasanya. Tapi dia lihat rumahnya sepi, dia lalu membual kunci dan masuk kedalam.


Rumahnya sudah kosong, Mila sudah pergi bersama bayi dan juga pembantunya.

__ADS_1


Irwan lalu naik kelantai dua dan melihat lemari baju Mila. Dan ternyata, lemari baju itu juga sudah kosong.


Mila mungkin pulang kerumahnya, batin Irwan.


Irwan lalu duduk dan melepaskan lelahnya setelah lama dalam perjalanan.


Irwan lalu keluar lagi dan pergi kerumah Mila. Saat itu Mila sedang menjemur bayinya.


Irwan turun dari mobil dan mendekati Mila.


"Mila, kau meninggalkan rumah?" tanya Irwan dan Mila menoleh kaget padanya.


Mila lalu memanggil bibinya dan mengajak Irwan masuk kedalam.


"Duduklah." kata Mila lalu mengambilkan air minum untuk suaminya.


"Mila, ayo kita pulang." kata Irwan.


"Tidak Irwan. Sebaiknya aku tinggal dirumahku. Aku tidak bisa tinggal dirumahmu lagi." kata Mila.


"Kenapa?"


"Karena kita akan segera bercerai." kata Mila dengan tenang.


"Bercerai?" Irwan kaget mendengar apa yang dikatakan Mila.


"Iya Irwan. Aku sudah melahirkan. Dan seperti yang kau tahu, dia bukan anakmu. Pernikahan kita juga tidak membuat kita bahagia. Jadi sebaiknya kita bercerai." kata Mila.


Irwan tertegun karena Mila tiba-tiba meminta cerai darinya. Dia pikir Mila akan mempertahankan hubungan itu dan tidak mau bercerai darinya.


"Tapi Mila, kenapa mendadak seperti ini?" tanya Irwan.


"Karena kita telah menundanya sangat lama. Dan terima kasih karena selama aku hamil kau masih menjadi suami ku dan menjagaku." kata Mila sambil melihat jauh keluar jendela.


"Tapi..."

__ADS_1


"Irwan...aku tahu yang tidak kamu katakan padaku. Aku tahu semuanya. Dan pernikahan kita hanya sandiwara, untuk apa kita bertahan dalam pernikahan seperti itu? Tadinya aku pikir, setelah anakku lahir, kita akan semakin dekat. Tapi ternyata tidak bisa. Terlalu banyak racun dalam hubungan kita." kata Mila dan pergi masuk kedalam meninggalkan Irwan sendirian.


Irwan memegang kepalanya dan tiba-tiba dia merasa tidak ingin kehilangan Mila. Karena Mila tidak keluar juga, akhirnya Irwan pergi dari rumahnya.


__ADS_2