Dipinang CEO

Dipinang CEO
Didekati dua CEO


__ADS_3

Mila diajak ke restoran mewah yang baru saja dibuka. Ini adalah restoran pertamanya yang dia buka agak jauh dari rumah sakit. Dan dibangun didekat destinasi wisata.


Selain mempunyai banyak rumah sakit, saat ini CEO Handoko mulai merambah ke dunia kuliner. Dan ini adalah restoran pertama miliknya. Jika restoran ini sukses maka, CEO Handoko akan membuka cabang di banyak kota yang lainnya.


Mila dan Pak Han keluar dari mobil lalu masuk kedalam restoran itu. Didalam ternyata sudah banyak orang yang mulai mencoba rasa dari restoran yang baru dibuka itu.


Pak Han disambut dengan penuh hormat oleh supervisor dan dipersilahkan duduk dikursi yang agak dalam.


Mila tersenyum pada beberapa karyawan karena pak Han tadi sudah mengatakan jika restoran ini adalah miliknya.


"Mila, kau harus mencicipi semua menu dari restoran ini." kata Pak Han.


"Baiklah...." kata Mila sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian beberapa karyawan membawa beberapa hidangan menu favorit dari restoran ini.


Mila menatapnya dengan senang, dalam hati dia berbisik. Ini terlihat sangat lezat.


"Ayo, silahkan dimakan Mila...." kata Pak Han dan mulai menyendok hidangan didekatnya.


Mila makan satu persatu hidangan yang tersedia. Pak Han sampai tercengang melihat porsi yang dimakan Mila. Mila memang hobi makan sejak masih remaja. Meskipun begitu, badannya tetap proporsional dan tidak gemuk.


Mila menghabiskan semua hidangan dimeja hingga semua karyawan tercengang melihatnya.


Dia tidak percaya, seorang dokter Mila yang cantik dan begitu populer, ternyata tanpa malu-malu menghabiskan makanan yang begitu banyak.


Pak Han tersenyum setelah Mila menyelesaikan suapanya yang terakhir.


Pak Han, bahkan langsung merasa kenyang melihat Mila makan dengan porsi sebanyak itu.


Pak Han tertawa sedikit dan menganggukkan kepalanya. Mila tersenyum dan pipinya merah merona.


"Aku senang melihatmu makan seperti itu. Sungguh tidak sia-sia aku mengajakmu kemari." kata Pak Han dan tersenyum lagi pada Mila.


Dalam hati dia masih menyangkal jika dokter cantik seperti Mila ternyata makan dalam porsi yang sangat besar. Dia menghabiskan semua hidangan yang disediakan tanpa sisa.


"Maaf pak, saya.....jadi malu..."


"He, kenapa harus malu? Jika kau makan seperti ini, maka aku akan sering mengajakmu makan siang. Melihatmu, semua makanan terasa begitu nikmat."

__ADS_1


"Hehe, sungguh pak?" kata Mila sambil mengusap sisa makanan yang tertinggal diujung bibirnya.


Setelah makan, pak Han mengantarkan Mila sampai dirumahnya.


"Ini rumahmu?" tanya Pak Han.


"Ya pak, ini rumah saya, dan terimakasih makan siangnya."


Pak Han tersenyum dan mengangguk. Pak Han mengatakan jika Mila boleh langsung pulang, dan tidak perlu pergi kerumah sakit lagi. Karena hari juga sudah sore akhirnya Pak Han mengantarkan Mila hingga kerumahnya.


"Oh ya Mila, kau tinggal dengan siapa?"


"Ada bibi dirumah." kata Mila, terlihat pak Han mengangguk-angguk.


***


Baru saja masuk, ternyata diruang tamu Regan sudah duduk disana sambil menggendong Matthew.


"Regan....kau disini?"


"Hehe, Iya, kebetulan tadi aku lewat, dan aku mampir, aku dengar Matthew menangis sangat keras, jadi aku tidak tega, aku pikir, dia kenapa-kenapa..." kata Regan beralasan supaya Mila tidak kesal padanya. Dan dia juga menjaga imejnya agar tidak terlihat mengintai Mila.


Matthew tidak mengerti apa yang dibicarakan Regan, tapi, dia terus tertawa karena mimik muka Regan yang melucu didepannya.


"Dia terlihat senang denganmu." kata Mila dan duduk didekat Regan.


"Dia terus tertawa dari tadi." kata Regan dan dia melirik wajah Mila.


"Aku lihat tadi kau diantarkan seseorang. Siapa dia?" Regan cemburu karena dia lihat pria itu gagah dan tampan. Mobilnya juga sekelas dengan mobil yang dipakai Regan. Itu mobil Mewah dan hanya orang kaya raya yang bisa memilikinya.


"Ohh, itu atasanku. CEO Handoko. Dia mengajakku makan siang di restoran yang baru saja dia buka. Dan dia mengantarkan aku pulang." kata Mila tanpa ada yang berusaha dia sembunyikan.


"Dia sepertinya mengistimewakan dirimu. Kalau tidak untuk apa dia mengajak dokter spesialis kandungan untuk makan siang." Regan mulai cemburu jika ada pria lain yang berusaha mendekati Mila.


"Hahahaha...kau bercanda ya. Mana mungkin, aku ini hanya dokter kandungan. Dan dia adalah pemilik banyak rumah sakit dinegara ini. Kau tahu....dia sangat kaya raya...dan dia mungkin bersimpati padaku karena berita yang tersebar."


Kata Mila yang mulai terbiasa dengan tatapan dan cibiran banyak orang saat melihatnya.


Dokter Irwan tetap dipuji karena dia hanyalah korban. Dan banyak berita yang sengaja disebarkan hanya menyalahkan Mila saja. Dan Mila tidak membela diri atau mengklarifikasi berita yang disebarkan oleh Wandah.

__ADS_1


"Aku melihat berita hari ini, dan seharusnya kau membela diri." kata Regan sambil bermain dengan Matthew. Dia melirik Mila sebentar dan tersenyum lagi pada Matthew.


"Aku tidak ingin mendengar apapun yang mereka katakan. Semua itu tidak benar. Dan aku tidak ingin membela diri."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah tidak ada masalah karena berita itu?"


"Sedikit. Mereka hanya menatapku dengan tatapan aneh dan tidak bertanya apapun. Mereka menyimpulkan sendiri apa yang mereka lihat dan dengar."


"Aku rasa begitu. Tapi aku senang, tidak ada masalah di pekerjaan mu."


"Haha, tentu saja tidak. Mereka datang untuk berobat, bukan untuk manjadi hakim."


Regan tersenyum dan dia merasa tenang karena Mila tidak mengindahkan berita miring tentang dirinya.


"Hanya pecundang yang suka menjatuhkan dengan curang."


"Aku tahu. Sebaiknya kau juga tidak terlalu memikirkan berita itu." kata Mila pada Regan.


"Aku khawatir padamu...."


"Aku baik-baik saja." kata Mila lalu menggendong Matthew.


***


Berita tentang CEO Handoko yang mengajak Mila makan siang sampai ketelinga dokter Irwan dari seorang suster yang tidak sengaja berbicara pada temannya dan dokter Irwan mendengarnya.


Dia lalu memanggil suster itu dan bertanya lebih detail.


"Apakah yang kudengar tadi itu benar?"


"Iya." kata suster sambil memberikan beberapa berkas pada Dokter Irwan.


"Mereka sering pergi?" tanya Dokter Irwan pura-pura tidak tertarik.


"Satu Minggu sekali, kadang dua kali." kata suster itu lalu pergi.


Dia takut berbicara lebih jauh tentang atasanya. Dia tidak mau salah bicara dan dipecat.


Bagaimanapun dia tidak peduli siapa Mila, tapi dia peduli jika atasanya bisa memecatnya jika dia bergosip tentang dirinya.

__ADS_1


__ADS_2