Dipinang CEO

Dipinang CEO
Luka yang tidak terlihat


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Mila sudah bangun dan seperti biasa, karena dia tinggal dirumah suaminya makan dia menyiapkan sarapan untuk suaminya. Apalagi sekarang Weni, sepupunya, juga tinggal dirumah mereka.


Jadi sebagai istri yang baik, dia memasak dan menyiapkan keperluan suaminya, meskipun kadang harus menahan rasa mual dan tidak nyaman akibat kehamilannya.


Weni bangun dan melihat Irwan masih tertidur dikamarnya, Weni kaget karena Irwan tidak pindah kekamarnya.


Bagaimana kalau istrinya mencarinya?


Biasanya setelah berhubungan, Irwan akan pindah kekamarnya sendiri. Tapi kali ini dia tertidur dikamarnya, Dan jika Mila tahu maka akan menimbulkan kecurigaan didalam hatinya. Karena Irwan mengenalkan Weni sebagai sepupunya.


"Irwan, bangun! Cepat mandi dan pergilah kekamarmu!" kata Weni cemas.


Irwan membuka matanya dan dia melihat wajah seseorang.


"Mila...."


"Bukan! Aku Weni!"


"Ohh, Sorry, ya aku akan bangun. Aku mau mandi." kata Irwan lalu pergi kekamarnya sendiri.


Weni hanya menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak tahu apa yang terjadi antara suami istri itu. Dan dia tidak mau tahu, karena dia hanya bekerja untuk melayani tamu yang membayarnya tanpa ikut campur urusan mereka.


Tapi sebenarnya dalam hati, dia sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga dokter Irwan dan juga Dokter Mila.


Karena setahunya, kadang dokter Irwan memperlakukan Mila dengan sangat baik. Dan mereka juga terlihat baik-baik saja. Weni tidak melihat ada pertengkaran pernah terjadi pada mereka.


***


Mila sudah selesai menyiapkan semuanya dan dia melihat kelantai dua. Jam segini biasanya suaminya sudah turun dan sarapan. Apa mungkin dia bangun kesiangan?


Tapi sejak mereka berpisah kamar, Mila belum pernah sekalipun masuk kekamar suaminya. Dia merasa, sungkan untuk masuk kesana. Dan dia menghormati privasi dokter Irwan.


Mila akhirnya hanya menunggu dan tidak lama kemudian Dokter Irwan turun lebih dulu. Weni yang merasa sungkan, tetap diatas dan didalam kamarnya.


Dia membiarkan suami istri itu sarapan berdua saja. Dan dia memilih untuk pura-pura tidur.


"Kok sendirian? Apakah Weni tidak mau sarapan?" tanya Mila karena melihat Irwan sendirian.


Irwan lalu menoleh kebelakang, dia pikir Weni ada dibelakangnya dan ikut sarapan bersamanya.


"Ohh, dia belum turun? Mungkin dia masih tidur."


"Apakah aku perlu untuk membangunkannya?" tanya Mila.


"Ehm, tidak usah. Mungkin dia masih capek. Biarkan saja." kata Dokter Irwan karena khawatir, ada barangnya yang tertinggal dikamar Weni.


Dan dia tidak mau Mila curiga jika setiap malam dia tidur dikamar Weni.


"Baiklah...."


Mila lalu mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


"Sarapan nasi ya, aku tadi memasak," kata Mila karena biasanya dia hanya membuatkan roti untuk suaminya.


"Ya, sedikit saja...." kata Irwan.


"Tumben kamu masak nasi, apakah kamu tidak mual?" tanya dokter Irwan.


"Tidak, hanya mual sedikit," kata Mila.


Setelah sarapan dokter Irwan berpamitan pada Mila untuk berangkat kekantor.


Mila mengangguk dan masih berdiri ditempatnya hingga dokter Irwan pergi dengan mobilnya.


Biasanya suaminya akan mencium keningnya saat seorang istri mengantarkannya.

__ADS_1


Tapi hal itu tidak akan pernah dia alami karena hubungan mereka sudah retak akibat bayi dalam kandungan Mila.


Mila mengusap airmatanya dan dia lalu masuk kedalam. Dia lihat Weni turun dari lantai dua.


"Wen, sarapan dulu, aku sudah menyiapkanya untukmu juga," kata Weni.


"Ohh, ngga usah Mila, terimakasih. Aku akan langsung pergi saja. Aku tidak terbiasa sarapan pagi," kata Weni lalu berpamitan pada Mila dan masuk ke taksi yang sudah dia panggil.


"Ohh, ya sudah....kalau begitu. Aku juga akan kekantor hari ini. Aku akan membereskan semuanya nanti pulang nya saja." kata Mila lalu naik kelantai dua.


***


Mila mulai bekerja dirumah sakit yang berbeda dari suaminya. Dan disana Mila disambut baik oleh teman-teman sesama dokter. Mereka tahu jika Mila adalah dokter yang populer.


Kehadirannya dirumah sakit itu akan menjadi magnet tersendiri bagi pasien untuk datang berobat atau sekedar berkonsultasi dengannya.


Hari pertama dia bekerja terasa sangat menyenangkan.


Dan satu Minggu dia bekerja, pasien yang harus dia tangani begitu banyak dan semua ingin agar bisa dirawat dan dilayani olehnya.


Mereka senang cara dokter Mila dalam merawat pasien, terutama saat menyampaikan pesan. Dia sangat ramah dan suaranya enak didengar.


***


Catrine adalah salah satu pasiennya. Dan Mila kaget saat melihat Catrine hamil. Mungkinkah itu anaknya Regan?


"Hai...." sapa Catrine seperti teman.


"Nyonya Cathrine, selamat datang, silahkan duduk." kata Mila sambil tersenyum ramah.


"Sudah berapa bulan?" tanya Mila.


"Mungkin satu bulan lebih." kata Catrine.


"Aku ingin bantuanmu." kata Catrine tiba-tiba.


Tapi Catrine tetap duduk dan mengatakan hal yang membuat Mila kaget.


"Aku ingin kau membantuku menggugurkan kandungan ini." kata Catrine pada dokter Mila.


"Catrine? apa maksudmu? Kau ingin menggugurkannya?" tanya Mila kaget.


"Iya. Aku tidak ingin dia lahir kedunia ini. Bayi ini akan mempersulit hidupku. Aku masih mencintai Regan, dan aku ingin kembali padanya. Tapi, aku mabok saat itu dan temanku membuatku hamil. Katakan dokter! Kau bisa melakukanya bukan?"


Mila terpana mendengar perkataan Catrine.


"Dokter Mila, kau bisa melakukanya bukan?"


Mila menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku, tugasku adalah membantu ibu dan bayinya agar tetap sehat hingga mereka lahir kedunia, bukan membunuhnya."


"ck, aku datang kesini karena aku berharap kau bisa menggugurkannya. Tapi rupanya aku datang kedokter yang salah. Aku pikir kita berteman dan kau bisa membantuku. Tapi aku telah salah dengan mendatangimu!" kata Catrine kesal karena Mila tidak mau membantunya.


"Catrine, itu sangat beresiko dan bahkan bisa menyebabkan ibunya meninggal dunia." kata Mila pada Catrine, mantan istrinya Regan.


"Karena itulah aku mendatangimu. Aku berharap kau bisa melakukanya tanpa membahayakan nyawaku. Orang bilang kau adalah dokter yang hebat," kata Catrine.


"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukanya. Tapi aku harap kau mengubah keputusanmu. Jangan kau gugurkan bayi itu. Dia adalah bayi yang tidak berdosa."


"Cukup! Jangan katakan apapun jika kau tidak bisa membantuku!" Catrine lalu pergi dan meninggalkan obat yang diberikan Mila.


Mila menatap obat itu dan berfikir jika bukan hanya dirinya yang mengalami masalah tentang bayi yang tidak diinginkan.


Catrine juga mengalaminya. Hanya saja Catrine ingin menggugurkannya sedangkan Mila menerima kehadirannya, meskipun membuat kehidupanya lebih sulit dan membuatnya menderita.

__ADS_1


Orang lain melihat sosok dokter Mila adalah dokter yang sukses, bersuamikan pria tampan dan mapan. Punya keluarga yang bahagia, dan kehamilanya membuat keluarganya lengkap. Tapi pada kenyataanya, dia sudah pisah ranjang dengan suaminya.


Dan orang lain tidak ada yang tahu, jika kebahagiaan yang mereka lihat itu hanyalah semu.


Kenyataanya dia sangat menderita secara batin dengan keadaanya saat ini.


Dreeettt. Dokter Mila mengangkat teleponnya.


"Halo Mila...."


"Jihan...."


"Maafkan aku Mila, waktu itu aku tidak bisa pergi kesana. Bagaimana kalau kita bertemu sekarang saja." kata Jihan.


"Baiklah...." kata Mila lalu menutup teleponnya.


Dokter Mila lalu pergi sembari makan siang diluar. Dia punya waktu satu jam untuk makan dan beristirahat.


Jihan sudah menunggunya direstoran tidak jauh dari kantor dokter Mila.


"Mila....!" Jihan berteriak saat melihat Mila mencarinya. Jihan sudah sampai lebih dulu.


Mereka akhirnya berpelukan dan Mila kaget saat melihat wajah Jihan yang agak lebam dan biru.


"Jihan, kenapa wajahmu....?" tanya Mila lalu duduk disamping sahabatnya.


"Aku...aku...." Jihan tadinya berniat untuk menceritakan masalah rumah tangganya pada Mila. Tapi dia masih ragu untuk mengatakanya.


"Jihan....apakah kau mengalami kdrt?" tanya Mila.


Jihan diam saja.


"Jika kau mengalaminya, dan suamimu memperlakukanmu dengan buruk, kenapa kau masih bertahan dalam rumah tangga yang membuatmu menderita?" tanya Mila dan terlihat Jihan meneteskan airmata.


"Aku punya anak. Dan dia sangat menyayangi papanya," kata Jihan.


"Tapi kau....kau...."


"Mila, aku mungkin memang salah karena memilih bertahan. Tapi aku tidak bisa melihat anakku menderita. Dan aku senang bisa bertemu denganmu. Aku dengar kau sudah menikah dan hidup bahagia dengan suami tampan dan sukses," kata Jihan.


"Aku...."


"Mila, jangan khawatirkan tentang aku. Aku datang karena aku sangat kangen denganmu. Tapi aku bahagia saat melihatmu bahagia dengan keluargamu, Mila," kata Jihan sambil memegang tangan Mila.


"Tapi aku...." Mila belum sempat mengatakan apapun karena Jihan selalu memotongnya.


"Mila, jangan katakan apapun tentang rumah tanggaku jika kau bertemu dengan ibuku. Aku memang jarang menemuinya, suamiku melarangnya. Dan jika kau bertemu dengannya, katakan jika aku sangat bahagia hingga lupa untuk mengunjunginya...." kata Jihan lalu cepat-cepat pergi setelah mendapatkan pesan.


Mila belum sempat mengatakan apapun tapi Jihan sudah menghilang.


Jihan sepertinya sangat takut dengan suaminya dan itu pesan pasti dari suaminya yang mencarinya.


Mila lalu memesan makan siang dan masih duduk disana hingga makananya habis.


Dia melihat kejalan raya dan menunggu hingga waktu istirahat habis.


Aku tidak menyangka Jihan mengalami hal yang lebih buruk. Dan dia tetap bertahan dalam rumah tangga toxic demi putrinya.


Dan aku? Aku juga mengalami yang kau alami. Hanya saja kau terluka diluar dan aku terluka didalam.


Lukamu terlihat dan lukaku hanya aku yang merasakannya.


Kau mengalami kekerasan fisik dan aku mengalami tekanan secara psikis dan batin.


Seandainya kita masih bisa kembali memakai putih abu-abu seperti dulu. Saat kita tertawa dan berbicara lepas tanpa beban. Tapi sekarang kita telah menjadi dewasa dengan cepat.

__ADS_1


Mila lalu berdiri dan kembali kerumah sakit untuk melakukan tugasnya.


__ADS_2