
Pagi ini Mila sedang memasak masakan yang enak. Dia akan pergi mengunjungi ibunya di dalam tahanan. Dan tidak lupa dia membawa bekal makanan untuk ibunya.
Handphone yang Mila letakkan di meja makan tiba-tiba berbunyi. Mila laluengangkatnya, ternyata itu dari Regan.
"Mila, apakah kau sudah siap? Aku dalam perjalanan ke rumahmu."
"Ya, aku sudah siap. Datanglah." kata Mila lalu memasukan teleponya ke dalam tasnya.
Tin tin!
Terdengar klakson dari luar. Mila segera berjalan untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Regan sudah ada didepan gerbang rumahnya.
"Regan?" gumam Mila dan melihat Regan turun dan berjalan masuk ke dalam.
Mila tersenyum dan membukakan pintu untuknya.
"Kau baru saja menelpon dan sekarang sudah sampai sini?"
"Ya, aku sengaja mengagetkan mu. Tapi kau sepertinya tidak terkejut sama sekali." kata Regan sambil mengangkat bahunya.
Mila memanyunkan bibirnya dan mencubit lengan Regan.
"Auuu....sakit...." teriak Regan dan melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Mila.
Regan lalu mengajak Mila duduk dan Mila memberikan minum yang ada didekatnya untuk Regan.
"Kita jadi pergi?" tanya Regan yang mendapat pesan dari Mila jika dia akan bertemu dengan ibunya yang ada di dalam tahanan.
"Tentu. Aku sudah menyiapkan semuanya."
"Kita pergi sekarang?" Tanya Regan dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah dia rasa tidak ada siapapun diruangan itu, Regan lalu menarik tubuh Mila sangat dekat dengannya dan memeluknya. Dengan cepat dia juga mencium bibirnya yang mungil.
"Aku sangat merindukanmu, Mila...."
"Ehm...." Mila menatap Regan dengan lekat.
Dan Regan mencium mata indah itu dengan lembut.
"Kita berangkat sekarang?" Regan lalu berdiri dan mengulurkan tanganya pada Mila.
Setelah menitipkan Matthew dan berpamitan pada bibi, mereka masuk mobil Regan dan pergi ke penjara dimana ibunya ditahan.
***
Ibunya sedang berdiri sambil memegang jeruji besi dan dari jauh Mila sudah tersenyum saat melihat ibunya berdiri menunggunya.
Seorang sipir lalu membukakan pintu dan menyuruh Bella keluar menuju ruangan yang sudah di sediakan.
Saat menoleh ke belakang, Mila sempat melihat Weni satu ruangan dengan ibunya dan Weni sedang duduk melamun menatap dirinya.
Regan menggandeng Mila dan mereka bertiga pergi ke sebuah ruangan lalu menutup pintunya. Saat akan duduk, Bella menatap orang yang bersama Mila dan dia menjadi bingung.
Dalam hati, Bella berfikir siapa yang sedang bersama putrinya itu? Mungkinkah itu bosnya atau atasanya?
Mila sepertinya bisa merasakan kebingungan ibunya melihat dia datang dengan seorang pria.
__ADS_1
"Mila....ibu sangat merindukanmu. Kenapa lama sekali kau tidak datang? ibu pikir kau sakit?" tanya Bella.
"Maafkan Mila Bu, ada beberapa hal yang harus Mila selesaikan. Oh ya Bu, ada yang ingin Mila katakan, dan sebelum itu, kenalkan, ns saya Regan. Dia adalah ayah kandung Matthew. Kami terjebak oleh dendam Irwan. Dan kami akan menikah dalam waktu dekat." Kata Mila perlahan sambil menatap reaksi ibunya.
Bella nampak terkejut karena keputusan Mila yang tiba-tiba. Bella menatap Regan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang akan menikah dengan Mila sepertinya bukan orang biasa, pikir Bella. Dia bisa melihat dari apa yang menempel di tubuhnya, semuanya jelas terlihat mewah dan mahal.
"Apakah kau sudah memikirkan masak-masak keputusanmu Mila?"
"Sudah Bu. Kamu sudah memikirkanya." jawab Mila dengan penuh keyakinan.
"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, ibu hanya bisa mendoakan semoga kau bahagia. Menikahlah....Ibu tidak bisa datang."
Mila langsung meneteskan airmata membayangkan ibunya tidak akan datang di hari yang begitu istimewa. Mereka lalu berpelukan erat dan saling mengusap air mata yang menetes deras.
Bella menatap Regan, " Apakah kau mencintai putriku dengan segala kekurangan dan masa lalunya?"
Bella menatap wajah calon menantunya sekali lagi.
Regan mengangguk dalam. "Saya mencintai Mila saya berjanji akan membahagiakanya."
"Jika begitu jaga putriku baik-baik....jangan sampai kau membuatnya menangis."
Regan mengangguk dan Mila menggenggam erat tangannya sebelum mereka berpisah.
Bella lalu menggenggam tangan mereka berdua "Semoga kalian selalu bahagia."
Mereka saling berpelukan dan akhirnya karena waktu berkunjung sudah habis, mereka akhirnya berpisah.
Mila dan Regan keluar dari gedung penjara dan berjalan ke parkiran.
"Jangan lupa pakai seatbeltnya." kata Regan dan karena Mila sedang menerima pesan, akhirnya Regan mendekat dan memakaikan seatbelt untuk Mila.
Saat Regan mendekat, dia mengecup pipi kanan Mila dan dia tersenyum.
Mila menatap Regan dengan kaget pipinya terlihat merona merah.
"Aku akan mengantarmu kerumah sakit. Setelah itu aku akan ke kantor." kata Regan.
"Ya." jawab Mila.
Sampai diparkiran rumah sakit saat Mila akan turun Regan menahanya dan menarik tubuhnya mendekat padanya.
Sekarang mereka duduk sangat dekat dan dada mereka saling berhadapan.
"Mila....aku sangat mencintaimu...."
"Ehm.....aku juga mencintaimu..."
Begitu Mila menjawabnya, Regan langsung memegang dagunya dan mengecup bibirnya dengan lembut.
"Kau sangat manis."
"Eh .. apa...."
Sekali lagi Regan mengecup bibirnya dan kali ini lebih lama.
__ADS_1
Setalah itu Regan melepaskan pelukannya dan menatap Mila.
"Aku akan turun sekarang...." kata Mila dengan pipi masih merah.
"Tunggu dulu."
Regan lalu mengambil tissue dan mengulurkan tanganya lalu mengelap bibir Mila.
"Sekarang, kau boleh turun."
Mila tersenyum dan turun dari mobil Regan. Mila tersenyum hingga mobil Regan pergi. Saat akan membalikkan badannya Mila melihat dokter Irwan keluar dari ruangan CEO Handoko.
Dokter Irwan tanpak membawa berkas dari ruangan CEO Handoko. Begitu melihat Mila dokter Irwan semakin mempercepat langkahnya seakan sengaja menghindarinya dan tidak ingin bertemu dengannya.
Mila mengejarnya dan dari kemarin dia memang mencarinya karena masalah gosip yang kembali menerpa dirinya.
Dokter Irwan semakin mempercepat larinya dan mereka seperti saling kejar kejaran.
Mila terlihat kesal ditengah nafasnya yang terengah-engah "Dokter Irwan! Tunggu!" teriak Mila dari belakangnya.
Dokter Irwan mendengar teriakan Mila dan tidak mau menoleh ke arahnya. Dia malah semakin berlari dengan cepat.
Akhirnya Mila berhasil mengejar dokter Irwan, dan menarik jasnya bagian belakang.
"Ahhh!" Dokter Irwan menyerah dan berhenti. Mila berhenti tepat dibelakangnya. Mila lalu melompat didepannya.
"Ada yang harus kita bicarakan. Kenapa kau lari?"
"Aku buru-buru!"
"Apakah kau tidak dengar aku memanggilmu?"
"Aku tidak mendengarnya."
"Untung saja aku bisa menangkapmu? Kau pasti tahu kenapa aku mengejarmu dan kesalahan apa yang sudah kau perbuat?"
"Kesalahan! Memangnya apa salahku"
"Kau masih tidak tahu kesalahanmu? Biar aku jelaskan. Pertama kenapa percakapan mu dan ibumu bisa tersebar luas? Dan kenapa ada gosip tentang diriku?"
"Ohh, ya aku tahu. Kau dirugikan karena gosip itu. Tapi jujur, kali ini aku tidak terlibat. Handphone ku hilang dan orang lain menemukanya. Kau masih akan menyalahkan aku?"
"Aku tidak percaya." kata Mila melihat kejujuran dimata mantan suaminya.
"Terserah jika kau tidak percaya. Sekarang pergilah dari hadapanku. Aku buru-buru." Kata mantan suaminya dan menyingkirkan bahu Mila dari hadapannya.
"Tunggu!" Teriak Mila.
"Aku akan menikah sebentar lagi." Dokter Irwan lalu berbalik dan berjalan mendekati Mila.
"Ok. Semoga bahagia."
"Dan satu lagi...jika sampai terulang lagi hal seperti ini, maka aku tidak akan mengampunimu."
Dokter Irwan melirik Mila sebentar dan pergi meninggalkanya.
__ADS_1