Dipinang CEO

Dipinang CEO
Dia anakku


__ADS_3

Regan mengajak Mila pergi kesebuah taman. Regan membelikan Mila hotdog dan minuman dingin. Mila memang masih lapar, karena tadi makanya tidak nafsu karena hatinya sedang bimbang.


"Sudah lama kita tidak kesini." Kata Regan pada Mila.


"Dulu saat kau masih sekolah, kita sering menghabiskan waktu disini sepulang kau sekolah, apakah kau masih ingat?" Kata Regan sambil menatap Taman yang masih belum berubah. Semuanya masih sama seperti dulu.


Bahkan letak ayunan yang sering mereka gunakan juga masih ada ditempatnya semula.


"Iya. Kita sering duduk disana sambil makan ice cream." Kata Mila mengenang saat mereka masih muda dulu.


"Bajumu sering kotor terkena ice cream," ujar Regan sambil melihat baju Mila.


"Iya. Dan aku akan sedih, karena aku hanya punya satu baju ganti."


"Ayo kita kesana!" Ajak Mila sambil tertawa.


"Habiskan dulu makananmu. Setelah itu baru kita main," kata Regan sambil tersenyum senang.


"Sudah!" Kata Mila yang memasukan semua sisa roti ke dalam mulutnya.


Mereka lalu naik keayunan dan bercerita tentang banyak hal.


"Suatu saat kita akan kesini bersama Matthew, jika dia sudah bisa berjalan." Kata Regan yang tidak sabar ingin menjadi ayah yang sah untuknya.


"Tentu.....kita akan membuatnya terus tertawa karena bahagia."


Kata Mila sambil menerawang dan membayangkan masa depan yang akan dia jalani bersama Regan.


"Aku sangat mencintaimu Mila....." Mereka bertatapan dengan saling menghipnotis.


Tatapan yang membuat keduanya berhenti bergerak dan hanya diam menikmati wajah kekasihnya.


"Aku sangat takut saat kau tidak mau bertemu denganku. Aku pikir kau akan benar-benar pergi...."


Regan berkata sambil memegang jari Mila yang lembut.


"Aku juga takut saat kau tiba-tiba marah saat melihatku bersama atasanku."


"Aku langsung berbalik dan takut kau benar-benar sudah pergi dari sana."


"Aku bertanya pada mami, dan aku tahu jika mami sudah berkata hal yang membuatmu tersinggung." Regan mencoba menjelaskan pada Mila jika butuh proses untuk membuat semua menjadi seperti yang di inginkan.


"Kita berbicara dan mamimu tidak setuju aku dekat denganmu."


"Kenapa?" tanya Regan.


"Kau tahu gosip tentang diriku bukan? Kabar tentang hamil anak orang lain tentu akan dipikirkan orang, jika aku adalah wanita yang buruk."


Keluh Mila.


"Jangan dipikirkan apa kata orang tentang dirimu. Apa yang orang pikirkan itu tidaklah penting."


"Ibumu juga berpikiran demikian," imbuhnya.


"Aku akan meyakinkan ibuku jika kau adalah wanita yang baik. Aku berjanji padamu. Ibuku akan merestui hubungan kita."


"Semoga saja...."


***


Setelah mengantarkan Mila, Regan lalu pulang kerumahnya.


Saat itu keluarganya sedang duduk diruang keluarga.


"Apakah kau sudah makan?" Tanya Oma dan Regan mengangguk.


"Sudah."

__ADS_1


"Kau dari kantor?" Tanya Oma lagi.


"Iya."


"Kau lembur?" Oma sepertinya sangat ingin tahu bapa yang dilakukan Regan.


"Oma........." Regan lalu berdiri dibelakang Oma dan merangkulnya.


"Oma seperti isteri kedua Regan saja."


Regan lalu memeluk Omanya.


Nadiya melirik Regan dan berbicara padanya.


"Kau bertemu dokter Mila lagi?" Tanya Nadiya menatap tajam padanya.


Regan diam saja dan hanya mengangguk.


"Maukah mami carikan gadis untukmu? Yang lebih tepat dan lebih pantas untuk menjadi istrimu?"


"Mami......" telinga Regan mulai merah karena perkataan maminya.


"Sudah mami bilang berapa kali jika dia tidak akan pernah cukup pantas untukmu."


"Kenapa? Apa yang membuatnya tidak pantas?"


"Anaknya! Dia mengandung anak orang lain saat masih menjadi istri dokter Irwan? Bisakah kau katakan bagaimana seorang wanita baik-baik bisa mengandung anak orang lain?"


"Mami.....mami sudah berkata dan berpikir buruk tentang nya. Mami juga sudah salah menilainya. Semua yang mami pikirkan itu salah," kata Regan membela Mila dan tidak rela jika ada orang yang berkata buruk tentangnya, termasuk maminya sendiri.


"....."


Semua diam.


"Kau sudah dibutakan oleh cinta dan tidak bisa melihat segalanya dengan benar," keluh Nadiya atas sikap yang ditunjukan Regan.


Semua yang ada disitu terdiam dan tidak bisa berkata apapun melihat Regan berkata hal yang diluar dugaan mereka.


Mereka saling berpandangan dan Nadiya maju, berjalan kedepan Regan.


Mereka berdiri berhadapan.


"Apa yang kau katakan? Apakah aku, begitu buruk dalam mendidikmu? Hingga kau bisa bertindak sesuka hatimu? Kau lupa ajaranku dan nilai moral yang aku tanamkan padamu? Kenapa?!"


"Kenapa kau lakukan itu!?" Nadiya menangis dan tidak sanggup membayangkan apa kata dunia jika mereka sampai tahu apa yang putranya perbuat.


Regan hanya bisa menangis saat mengakui perbuatannya yang memalukan.


Dia juga belum menjelaskan jika dia dijebak. Dan untuk menjelaskan, bibirnya terasa sangat kelu.


Tiba-tiba Nadiya langsung pingsan karena shock.


"Mami!" Regan berteriak dan semua orang menatap Nadiya yang jatuh terkulai dilantai.


"Cepat panggil dokter!" Kata Oma lalu Prasetyo menelpon dokter agar datang ke rumah mereka.


"Ayo bawa mamimu kekemar!" Kata Oma dan berjalan dibelakang Regan.


Prasetyo duduk disamping Nadiya, dan Oma menarik tangan Regan keluar dari kamar.


"Kau keterlaluan! Apa yang kau lakukan? Apakah kau kehilangan akal sehatmu?" Oma berkata dengan kesal dan marah.


Nadiya adalah menantu kesayanganya dan juga jantung hati putranya Prasetyo. Jika sesuatu terjadi pada Nadiya, maka kebahagiaan Prasetyo akan lenyap dari dunianya.


"Semua terjadi tanpa kami sadari Oma. Kami dijebak. Dan Oma tahu siapa yang menjebaknya? Dia adalah dokter Irwan, suaminya sendiri. Semua itu karena dendam dari masa lalu ibunya dan ayahnya."


Regan lalu menceritakan bagaimana pernikahan Mila hanyalah sebuah ajang balas dendam dan hanya dilakukan untuk menghancurkanya.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak menuntut? Sungguh keterlaluan!" Kata Oma pada Regan.


"Dokter Mila tidak ingin kasus dan masa lalu ibunya terekspos lagi keranah publik. Dan memilih untuk diam."


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan membuat perhitungan denganya! Aku pikir dia dokter yang baik dan sopan. Tapi lihatlah apa yang sudah dia lakukan? Dia sudah menjebak cucuku...."


"Tenang Oma. Semua sudah mendapatkan balasannya. Istrinya yang sedang hamil sekarang ada didalam penjara. Dan kemungkinan akan melahirkan disana. Bukankah itu adalah hukuman yang paling berat?"


"Tetap saja, Oma akan mencarinya dan membuat perhitungan denganya." Kata Oma lalu masuk kedalam saat dokter sudah datang dan sudah memeriksa Nadiya.


Prasetyo masih duduk dengan gelisah disamping Nadiya.


Sementara dokter berpesan agar tidak berbicara hal yang bisa membuatnya terguncang. "Jantungnya lemah"


"Baik dokter, terimakasih..."


Setelah dokter itu pergi, Regan duduk disamping maminya dan sedih melihat maminya masih tidak sadarkan diri.


Tiba-tiba, Nadiya membuka matanya perlahan satu persatu dan menatap Prasetyo, setelah itu menatap Regan.


Saat menatap Regan, maminya memalingkan mukanya tanda dia masih teringat apa yang terjadi barusan dan membuatnya shock.


"Mami, maafkan Regan....."


Nadiya masih tidak mau melihat wajah putranya.


"Kau akan melihatku mati perlahan jika kau tidak meninggalkanya," ancam Nadiya.


"Mami....."


"Sampai kau melakukanya, mami tidak mau berbicara denganmu," kata Nadiya.


"Mami....." Kata Regan dengan sedih.


"Keluarlah....."


"Regan, biarkan mamimu istirahat." Kata Prasetyo kemudian.


Regan keluar dari kamar maminya dan menghapus airmatanya.


Ponselnya berbunyi dan Mila menelponya, tapi Regan tidak sanggup mengangkatnya dan berbicara dengannya setelah ultimatum maminya.


Bagaimanapun dia tidak bisa kehilangan maminya.


Dia masih ingat apa yang dialami maminya dan apa yang dia perjuangkan dimasa lalu. Dan sekarang, pilihan ini sangatlah sulit.


Dia harus memilih salah satu dari dua orang yang sangat dia sayangi.


Bagiamana bisa dia memilih diantara keduanya?


Regan tertunduk dan mengusap airmatanya.


Tidak mampu menahan sakit dan hancur didalam hatinya, Regan lalu pergi kekamarnya dan masuk kedalam kamar mandi.


Air shower bercampur dengan airmatanya.


Lama dia membiarkan air shower menyiram tubuhnya yang putih dan kekar.


Sementara Mila kebingungan karena Regan tidak mengangkat teleponya meskipun berulang kali dia menghubunginya.


Saat ini Matthew tiba-tiba panas dan karena panasnya sangat tinggi dia mengalami kejang.


Mila sangat panik dan akhirnya terpaksa dia menelpon CEO Handoko dan pergi kerumah sakit denganya.


Hari sudah malam dan sulit mencari taksi dimalam hari. Andaikata ada, maka akan menunggu sangat lama.


Dan dia tidak bisa menyetir dalam keadaan panik seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2