
Mila sedang mencari baju yang pantas untuknya, karena saat ini perutnya terlihat besar, sehingga dia harus mencari warna yang akan menyamarkan bentuk tubuhnya.
"Baju ini lebih cocok," gumam Mila dan setelah berputar dicermin, melihat segala sisi, dan tidak ada yang aneh dari bentuk tubuhnya, Mila lalu mengambil tas pesta dan turun kebawah.
Dia duduk dimeja makan, dan menunggu Irwan menjemputnya.
Tidak lama kemudian terdengar klakson dari halaman rumahnya.
Itu pasti Irwan!
Mila lalu keluar dan ternyata benar, itu mobil Irwan. Tidak ada Weni disana. Artinya Irwan dan Mila saja yang akan menghadiri pesta, Weni tidak ikut dengan mereka.
Mila tersenyum pada Irwan, lalu masuk kedalam mobil.
Tidak lama kemudian mereka sampai di acara pesta. Disana sudah berkumpul banyak tamu undangan.
Mila lalu berpamitan pada Irwan untuk pergi kekamar kecil. Tentu saja karena faktor perutnya yang semakin besar, hingga Mila harus sering kekamar mandi untuk buang air kecil.
Dan itu Mila rasakan akhir-akhir ini sejak perutnya semakin besar. Sedikit repot karena harus bolak-balik kekamar kecil. Tapi harus bagaimana lagi, karena itu sudah kodrat alam.
Keluar dari kamar kecil Mila kaget melihat perut Catrine yang ramping.
"Apakah itu Catrine?" awalnya Mila tidak yakin jika itu adalah Catrine. Karena setahunya saat itu Catrine hamil, dan perutnya harusnya sebesar perut Mila.
Tapi sekarang dia malah langsing, dan bertambah cantik. Apakah dia sudah melahirkan?
Itu yang Mila pikirkan.
"Hai Mila!" tiba-tiba Catrine menyapanya.
"Hai....." kata Mila menatap Catrine.
"Kau datang juga kesini. Aku pikir kau akan dirumah saja, karena kan kau sedang hamil. Dan sepertinya sebentar lagi kau akan melahirkan." kata Catrine.
"Ya, bulan depan aku akan melahirkan. Dan kau? Kau nampak langsing dan cantik." kata Mila.
"Ohhh, tentu saja. Aku....." Belum sempat Catrine menjawab, Regan sudah menelponnya.
"Ya, aku akan segera kesana." kata Catrine menjawab telepon Regan.
"Sudah ya Mila, Regan sudah menungguku." kata Catrine lalu pergi.
Regan?
Apakah mereka rujuk kembali?
Itu yang ada dalam benak Catrine. Saat berbicara tentang Regan, Catrine lalu mengusap perutnya. Dan melihat perutnya yang besar.
Regan adalah ayah dari bayi yang dia kandung saat ini. Dan hanya dia yang tahu. Bahkan dokter Irwan tidak tahu, itu yang Mila pikirkan saat ini. Pada kenyataanya, Dokter Irwan tahu jika bayi yang dia kandung adalah anak dari Regan. Karena memang dia yang menjebaknya saat itu.
__ADS_1
Mila lalu keluar dan Dokter Irwan sedang berbicara dengan Catrine dan juga Regan. Mila kaget karena ternyata mereka bertiga sedang berdiri berdekatan.
"Mila...kau lama sekali..." kata Irwan dan Mila lalu berdiri disampingnya.
Regan menatap Mila dengan lekat dan tersenyum padanya. Tapi Mila tidak menghiraukannya. Mila mengajak Irwan pergi ketempat lain.
Catrine yang melihat sikap Mila acuh pada Regan menjadi bingung sekaligus bahagia.
"Mila sepertinya sudah berubah sekarang. Dia terlihat bahagia dengan menjadi istri dokter Irwan." kata Catrine pada Regan.
Dan apa yang dia lihat hari ini menjadi peluang besar baginya untuk mendekati Regan. Dia lihat Mila seperti menghindari Regan.
"Mungkin..." hanya itu jawaban Regan sambil mengangkat bahunya.
Regan sendiri tidak yakin dengan kebahagiaan yang mereka berdua tunjukan. Seperti ada keraguan namun dia juga tidak bisa membuktikan apapun.
"Apa yang kau tahu tentang Mila? Kau bilang kau punya informasi penting tentangnya?" kata Regan menagih janji Catrine.
"Tunggulah, tidak sabar amat! Nanti setelah pestanya selesai maka baru aku akan memberitahumu." kata Catrine.
ck,
Regan terlihat kesal namun dia tetap sabar menunggu hingga pestanya selesai.
Pesta telah usai dan semua tamu pulang kerumah masing-masing. Terlihat Mila dan dokter Irwan juga baru saja meninggalkan pesta itu.
Regan menarik Catrine masuk kedalam mobilnya.
"Ibunya!" kata Catrine tiba-tiba.
"Ibunya? Apa maksudmu?" tanya Regan tidak sabar.
"Ibunya ada didalam penjara. Dan aku yakin, Mila tidak tahu soal itu." kata Catrine.
"Mana mungkin dia tidak tahu?" tanya Regan.
"Entahlah, tapi aku yakin dia tidak tahu soal ini. Kau bisa menemuinya dan katakan padanya." kata Catrine pada Regan.
Bagaimanapun, dia punya janji dengan Regan untuk mencari informasi penting tentang Mila. Sebenarnya dia juga malas mengatakanya, tapi demi kepercayaan Regan padanya, terpaksa dia mengatakan semua ini.
Regan terlihat mengangguk-angguk. Jika benar apa yang Catrine katakan, artinya dia punya waktu untuk berbicara dengan Mila dan informasi ini pasti akan menguntungkanya, gumam Regan.
Catrine bisa melihat keceriaan dari wajah Regan yang senyum-senyum sendiri.
"Apakah kita bisa berjalan-jalan sebentar lagi?" tanya Catrine.
"Tidak. Aku akan langsung mengantarkanmu pulang." kata Regan.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Mila sedang duduk diruanganya dan menatap sebuah foto yang bayinya. Kata dokter dia berjenis kelamin laki-laki. Tapi bagi Mila, laki-laki dan perempuan sama saja, yang penting baginya sehat saat lahir nanti.
tok, tok, tok!
"Masuk!" Mila mempersilahkan pasien masuk.
"Regan!?" Mila kaget saat pasirnya berikutnya ternyata Regan.
Regan lalu duduk berhadapan dengan Mila. Mila menatapnya dengan terkejut dan karena ini adalah tempatnya bekerja, maka dia tidak ingin membuat keributan.
"Kenapa datang kemari?" tanya Mila.
"Aku punya informasi penting untukmu. Tapi, sebelum itu, bisakah kita berbicara diluar?" tanya Regan.
"Baiklah." kata Mila lalu melepas seragam dokternya dan mengambil syal serta tas kerjanya.
Mereka lalu pergi kesebuah restoran terdekat dan memesan minuman.
"Katakan, ada apa?" tanya Mila yang tidak mau berlama-lama bersama Regan.
"Ini tentang ibumu." kata Regan.
"Ibu?" Mila kaget, karena dia memang sangat merindukan ibunya. Namun ibunya bagaikan hilang ditelan bumi.
"Bagaimana kau tahu kabar tentang ibuku."
"Tidak perlu kau tahu darimana aku mengetahui kabar tentang ibumu. Tapi jika kau ingin bertemu dengannya besok ikutlah denganku. Aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali didepan rumah sakit ini." kata Regan yang sengaja tidak mau memberitahukan kabar dimana ibu Mila sebenarnya.
Karena Regan ingin agar dia punya waktu bersama Mila dan menjelaskan semuanya. Regan ingin dia sendiri yang mengantarkan Mila menemui ibunya.
"Baiklah." kata Mila lalu mereka berpisah.
"Aku harus kembali kerumah sakit." Regan mengangguk dan tersenyum senang.
***
Sore hari saat Regan pulang dari kantornya dia melewati jalanan yang berbeda. Dan dia terkejut saat melihat mobil dokter Irwan baru saja masuk kesebuah apartemen.
Regan lalu mengikutinya. Regan mengikuti dengan diam-diam, dan Regan sangat terkejut saat melihat Weni menyambut Irwan dan mereka masuk kekamar Weni.
"Ya, itu adalah wanita yang sama, yang aku temui saat itu. Ternyata mereka sudah mempermainkan Mila." kata Regan kesal.
Tapi Regan tetap menunggu hingga beberapa jam. Dokter Irwan baru keluar sekitar jam 11 malam. Regan masih ada disana.
Weni nampak keluar bersama Irwan dan mereka masuk mobil Irwan.
Dokter Irwan sengaja menghabiskan banyak waktu di apartemen, karena dirumah dia sudah tidak leluasa lagi. Karena Mila mulai mencurigai Weni.
Mereka bersenang-senang diapartemen Weni. Regan mengepalkan tangannya dan akan menghajar dokter Irwan, tapi akhirnya niatnya itu dia urungkan.
__ADS_1
Dia ingat, besok akan pergi bersama Mila, dan dia tidak mau akibat perbuatanya, dia gagal mengajak Mila pergi menemui ibunya.