
Weni menemui Irwan dirumah sakit dan menanyakan apakah dia bertemu dengan Mila?
"Tidak. Aku tidak pernah bertemu dengannya." kata Irwan.
"Apakah dia masih berhubungan dengan CEO Handoko?" tanya Weni pada Irwan saat mereka akan pulang.
"Entahlah. Aku tidak tahu soal itu." kata Irwan yang masih kesal karena gagal membuat Mila menderita.
***
Mila pulang dari rumah sakit ditemani oleh Jihan. Sebelum Regan dan CEO Handoko datang, Mila sudah pulang lebih awal.
"Kenapa kau tidak mau diantarkan oleh mereka mil?" tanya Jihan.
"Tidak Jihan. Aku pulang denganmu saja. Ayo kita pulang sebelum mereka datang." ajak Mila dan menatap kepintu.
Didalam mobil, Mila berfikir untuk menjauhi Regan dan juga CEO Handoko.
Tapi dia tidak tahu bagaimana caranya? Saat ini dia hanya ingin fokus mengurus Matthew saja. Dan dia juga sudah merasa nyaman kerja dirumah sakit Handoko yang sekarang, karena dekat dengan rumahnya juga.
"Sebelum kau ditemukan, Edo juga mencarimu."
Mila menatap Jihan dengan kaget.
"Mencariku?"
Jihan mengangguk.
"Iya, dia mencarimu...sepertinya dia masih peduli padamu."
"Dia adalah suami dari Kinan. Kinan adalah kakak Irwan. Kami menjadi saudara ipar sebelum akhirnya hubungan aku dan Irwan berakhir."
"Hhh, tidak menyangka ya, dulu kita teman satu kelas, dan takdir kita begitu rumit." kata Jihan menghela nafas panjang.
Mila menggenggam tangan Jihan. Mereka lalu tersenyum dan mengingat moment saat mereka muda dulu.
***
Regan sedang minum disebuah cafe dengan CEO Handoko. Regan sengaja mengundang CEO karena ada yang ingin dia bicarakan.
Jika Mila tidak mengatakan yang sebenarnya, maka sebelum semuanya tak terkendali maka Regan akan mengatakan jika anak Mila adalah darah dagingnya.
__ADS_1
"Kenapa kau mengundangku kemari?"
"Ada yang ingin aku katakan padamu." kata Regan dan menatap minuman didepannya sambil sesekali menatap Handoko.
"Sepertinya ini masalah yang serius." kata Handoko dingin.
"Mila tidak mengatakanya padamu. Biarlah aku yang mengatakanya." kata Regan.
"Apa maksudmu? Kau dan Mila punya rahasia?" Dia berkata tanpa ekspresi.
"Jangan salah paham. Aku tahu kau menyukai Mila. Tapi kau tidak bisa memilikinya."
"Hhsstt, kenapa aku tidak bisa memilikinya?"
"Karena anak Mila adalah darah dagingku. Entah bagaimana semua itu bisa terjadi tapi, aku yang bersalah atas semua ini." kata Regan.
Handoko langsung kaget dan tangannya mengepal.
Dia marah dan hancur. Hatinya remuk dan terasa menyakitkan. Belum pernah dia merasakan patah hati sesakit ini.
Harapannya kandas saat itu juga. Dia menatap Regan tanpa berbicara lalu pergi.
***
Dia menangis untuk pertama kalinya. Dia patah hati karena pernyataan Regan yang mengejutkan. Hatinya sakit karena marah selama ini Mila tidak berterus terang padanya.
Dan bahkan yang lebih konyol lagi, dia membuat pernyataan dipublik jika dia adalah ayah dari anak Mila.
Dia merasa seperti pecundang saat ini.
Setelah mandi CEO Handoko duduk di ruang tamu sendirian sambil mematikan lampu. Dalam remang-remang dia minum dan kepalanya menjadi pusing.
Dan ini juga pertama kalinya setelah sekian lama dia menyentuh minuman itu lagi.
Dia melayang dan tertawa sendirian. Dia mentertawakan kebodohannya karena percaya pada wanita.
Dia pikir Mila berbeda dan dia gadis baik-baik yang pantas menjadi istrinya
Tapi Mila telah mengkhianati nya...
Hatinya benar-benar hancur dan akhirnya CEO Handoko tertidur disofa hingga pagi hari.
__ADS_1
***
Mila tidak tahu apa yang terjadi dibelakangnya. Dia juga tidak tahu jika Regan mengatakan hal itu pada CEO Handoko.
Hari ini Mila sudah berangkat bekerja seperti biasanya. Dan setelah sekian lama tidak datang, ada beberapa berkas yang ingin dia berikan pada CEO Handoko.
Ruanganya kosong dan CEO tidak ada diruanganya.
Mila lalu berbalik dan dia hampir saja menabrak atasanya.
Tapi wajah CEO Handoko sudah berubah, tidak manis seperti biasanya. Dia juga menatap Mila dengan dingin.
"Kau mau bertemu denganku?" tanyanya dingin tanpa ekspresi.
"Iya...pak..." kata Mila terbata dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
"Masuklah." Mereka lalu masuk kedalam dan Mila mengatakan ada beberapa alat yang harus diganti dengan yang baru.
Dan semua keteranganya ada didalam berkas itu.
"Baiklah. Nanti akan aku periksa. Kau boleh pergi jika sudah selesai." kata CEO Handoko dan sontak saja membuat Mila beku dan diam seribu bahasa.
Mila lalu keluar dan sekali lagi menoleh pada CEO Handoko yang biasanya bersikap manis padanya.
CEO menatap kearah yang berbeda dan sedikitpun tidak menatap Mila.
Begitu Mila keluar, CEO menelpon dokter Riana. Dia adalah dokter magang yang cantik dan dia juga dokter spesialis kandungan yang baru saja ikut bergabung dengan rumah sakit Handoko.
"Kau sudah makan?" Dokter Riana kaget saat ditanya seperti itu.
"Jika belum, ayo makan denganku." Kata CEO dan Dokter Riana mengangguk pelan tanpa bicara sepatah katapun.
Dia kaget dan syok, mendapat ajakan makan siang dengan CEO Handoko yang katanya sedang dekat dengan dokter Mila.
***
Mila akan keluar makan siang, setelah tidak bisa fokus bekerja karena sikap CEO Handoko yang tiba-tiba dingin padanya.
Dan saat akan keluar dia melihat CEO Handoko berjalan bersama Dokter Riana akan lewat didepan ruanganya.
Mila lalu mundur dan membiarkan mereka lewat lebih dulu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu?" gumam Mila sambil menatap Dokter Riana yang masuk kedalam mobil mewah CEO Handoko.