Dipinang CEO

Dipinang CEO
Kepasar dan membuat sarapan


__ADS_3

Pagi harinya Mila bangun lebih pagi dari semua orang. Hal itu dia lakukan agar dia bisa berangkat kerumah sakit setelah membuat sarapan untuk semua orang.


Dan saat membuka kulkas, Mila sangat terkejut saat tidak ada apapun untuk dimasak. Akhirnya Mila keluar rumah dan pergi kepasar dengan naik bajaj.


Ada bajaj yang mangkal tidak jauh dari rumahnya. Dia tidak ingin naik mobil karena jalanan pasti macet dan bajaj ukurannya lebih kecil untuk kepasar dengan lebih cepat.


Mila membeli semua sayuran dan daging juga telur untuk sarapan dan sisanya akan disimpan di kulkas, sehingga dia tidak perlu setiap hari pergi kepasar.


Tidak lama kemudian, Mila sudah sampai dirumah dan langsung menyiapkan untuk sarapan satu keluarga.


Edo turun lebih dulu, dan langsung kedapur saat dia tahu ada Mila sendirian disana.


"Kau benar-benar wanita yang menjadi idaman siapapun. Kau seorang dokter spesialis ternama, kau mencuci piring, kau memasak sarapan, kau pergi kepasar...itulah alasannya kenapa dulu aku tergila-gila padamu. Karena sikapmu yang mandiri dan menyenangkan semua orang." Kata Edi dan berdiri dipintu.


Matanya awas menatap ke tangga lantai dua, dia tidak ingin Kinan tiba-tiba turun dan mencurigainya.


"Pergilah kakak ipar. Kau bisa duduk dimeja makan dan aku akan segera menyediakan sarapan untuk kalian," kata Mila yang merasa sangat terganggu dengan kehadiran Edo.


Bagaimana pun jika Kinan melihatnya maka akan membuatnya curiga dan dia tidak ingin Kinan membencinya karena masa lalunya dan Edo yang satu sekolah SMA. Dan juga Mila tidak ingin jika Kinan tahu Edo mengejarnya dan menyukainya selama tiga tahun.


Hal itu pasti akan menyakiti perasaanya dan membuatnya selalu was-was.


"Okey, adik ipar ku yang manis, aku akan duduk dan menunggu dimeja makan," kata Edo lalu mengerlingkan matanya.


Apalagi setelah tahu jika mereka belum pernah berhubungan int*m. Tentu hal itu terasa aneh bagi Edo. Bagaimana orang bisa melewatkan satu malam tanpa menyentuk wanita semolek dan secantik Mila.


Kecuali dia dokter dingin dan aneh seperti Irwan.


Tidak ada yang tahu memang jika Irwan pernah menderita gangguan mental saat masih kecil. Setelah ayahnya tiada Irwan sering di-bully teman-teman nya dan juga sering mendapatkan perlakuan tidak pantas.


Hingga saat beranjak dewasa, Wandah membawanya ke psikiater dan Irwan dinyatakan sembuh total.


Setelah dinyatakan sembuh, Irwan yang terbiasa sendirian dan tidak berteman dengan siapapun, membuat prestasinya menjadi unggul hingga mendapat beasiswa dan akhirnya menjadi dokter terkenal seperti sekarang.


Wajahnya yang tampan membuatnya disukai banyak orang yang tidak bosan saat menatapnya dan berdekatan dengannya.


Mereka bahkan senang saat dokter Irwan memeriksa pasiennya dengan lama. Mereka menjadi bisa menatap wajah ganteng dokter Irwan secara dekat.


Mila kaget saat Edo bersikap seperti itu padanya. Tidak lama kemudian Irwan turun disusul dengan Wandah.


Kinan juga turun bersama Bima dan Arya yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.

__ADS_1


"Wah, sarapan sudah siap, pasti menantuku yang sudah menyiapkanya," kata Wandah memuji Mila.


"Irwan, kau sangat beruntung punya istri seperti Mila. Dia wanita karir dan pandai mengurus rumah tangga juga," kata Kinan dan membantu Mila menyiapkan piring untuk mereka semua.


"Maaf ya Mila, aku tidak bisa membantumu. Aku sangat repot kalau pagi hari. Kau tahukan Bima dan Arya harus sekolah dan kami tidak mampu membayar baby sitter."


"Sudahlah Mbah Kinan. Tidak apa, saya sudah biasa seperti ini," kata Mila sambil mengambil gelas yang diisi dengan air mineral.


"Kau memang wanita idaman," kata Kinan memuji Mila.


Mila lalu duduk bersama mereka dimeja makan.


Irwan menatap Mila dan tersenyum kecil. Edo memperhatikan setiap gerak gerik Mila dan juga Irwan.


"Oh ya, tadi malam sangat dingin sekali. Pasti pengantin baru ini sangat menikmatnya. Sudah menjadi rahasia umum jika hujan dimalam hari adalah yang paling dinantikan oleh sepasang pengantin baru seperti Mila dan dokter Irwan," kata Edo yang sengaja memancing Irwan.


"hush! Mas...diamlah...kau ini seperti tidak pernah mengalami pengantin baru saja," gerutu Kinan kesal karena suaminya yang kalau berbicara tidak disaring dulu dan terlalu ceplas-ceplos.


Irwan lalu menatap Mila dan tersenyum. Mila hanya diam saja karena yang Edo pikirkan itu sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.


"Kok, malah kalian pada diam. Pasti sedang mengingat peristiwa tadi malam," kata Edo tidak sabar ingin tahu reaksi Dokter Irwan.


aduh!


"Mila...." kata Dokter Irwan tiba-tiba.


"Iya mas...." kata Mila.


"Kenapa kau tidak ambil cuti satu hari lagi? Kau mungkin masih lelah, dan sebaiknya kau istirahat dirumah dulu," kata suaminya.


"Tapi masa cutiku sudah berakhir. Dan aku harus berangkat sekarang."


"Iya Mila, sebaiknya kau dirumah dulu," Wandah berbicara mendukung Irwan.


"Benar sekali. Aku juga setuju jika Mila hari ini libur satu hari lagi. Suara terbanyak biasanya akan mengubah keputusannya," kata Edo sambil menatap Mila.


"Baiklah, aku akan libur satu hari lagi," kata Mila tersenyum pada dokter Irwan.


Dokter Irwan berangkat kerumah sakit, Kinan mengantarkan Bima dan Arya, sedangkan Wandah pergi keluar dan entah kemana.


Hanya ada Mila dan Edo dirumah saat ini.

__ADS_1


"Aku berangkat agak siang hari ini," kata Edo dan sengaja ingin menemani Mila.


Kinan langsung pergi ke tokonya. Karena sekarang dia membuka toko kecil yang menjual berbagai aksesoris wanita. Dan itu dia lakukan demi biaya keluarganya dan meringankan beban Edo.


Dia juga baru buka sekitar satu Minggu, itupun dimodali oleh salah seorang temannya yang bersimpati padanya.


"Mila, aku akan membantumu mencuci piring," kata Edo.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri," kata Mila sengaja menghindari Edo.


"Seharusnya ini tidak boleh kamu lakukan Mila. Tanganmu akan menjadi kasar jika kau melakukanya setiap hari," kata Edo yang tidak rela orang yang dia cintai kecapean.


"Pergilah Edo. Dan jangan menggangguku."


Edo tidak menggubris perkataan Mila.


Dan tiba-tiba Mila terpeleset karena Edo memercikkan air dilantai dapur.


Dengan cepat Edo menangkap tubuh Mila dan tanpa sadar Edo memegang bagian yang kenyal milik Mila.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja," kata Edo dan Mila cepat berdiri sebelum ada yang melihat mereka seperti itu dan menjadi salah paham.


"Aku akan mengeringkan lantainya," kata Edo.


Mila sepertinya terlilit kakinya karena jatuh barusan. Dan dia merasa kesakitan saat berjalan.


Edo yang mengetahui hal itu, lalu mendekatinya.


"Sebaiknya kau istirahat dikamarmu. Biar aku yang menyelesaikanya," kata Edo pada Mila.


Merasa sangat kesakitan, Mila akhirnya terpaksa mengangguk.


"Aku akan membantumu," kata Edo lalu memapah Mila kekamarnya.


Sepanjang berdekatan dengan Mila, Edo merasa sesuatu seperti terbangun dibawah sana. Rasa cinta dan kagum yang terpendam lama, membuat desiran darahnya menjadi hangat.


"Berbaringlah, aku akan menyelimutimu. Dan aku akan memanggil tukang urut untuk memijat kakimu," kata Edo lalu menaruh selimut kedada Mila.


Dan saat itu matanya terjatuh pada sesuatu yang menantang dan terlihat separo karena gaun tidurnya yang tersingkap.


Edo lama menatapnya hingga Mila mengusirnya.

__ADS_1


"Pergilah, dan terimakasih. Lain kali biarkan aku melakukan pekerjaanku sendiri, maka hal seperti ini tidak akan terjadi," kata Mila.


__ADS_2