Dipinang CEO

Dipinang CEO
Istri diatas kertas


__ADS_3

Mila masih pingsan saat dokter Irwan tiba-tiba turun dan dia lihat Regan berdiri disamping Mila.


"Mila.....," panggil dokter Irwan. Regan menoleh dan menjawab panggilannya.


"Mila pingsan, oh, kau sudah pulang?" tanya Regan. " Tadi dia pingsan dan aku mengantarkanya kerumah. Mungkin dia kelelahan." Kata Regan lalu berpamitan.


"Ohh ya, Mila memang suka pingsan disembarang tempat. Aku sangat khawatir dengan kebiasaannya itu. Aku khawatir dia bertemu dengan orang jahat dan dimanfaatkan,"


"Semoga dia tidak pingsan lagi. Dia menunggu taksi hingga berjam-jam, dan aku memaksanya untuk masuk kemobil. Tadinya dia akan menunggumu," kata Regan.


"Ohh, begitu, padahal aku sudah mengatakan padanya agar pulang dan tidak usah menunggu. Aku ada pasien tadi, dan aku pikir Mila sudah pulang, hingga aku tidak mencemaskannya." Kata Irwan lalu mengambil minuman untuk Regan.


"Tidak. Terimakasih. Aku akan pulang sekarang."


"Ohh, ya, sekali lagi terimakasih, sudah mengantarkan Mila kerumah." kata dokter Irwan lalu mengantarkan Regan hingga kedepan rumahnya."


Saat Regan sudah pulang, Mila membuka matanya.


"Kepalaku pusing...aku ada dimana?" Tanya Mila pada suaminya yang baru saja masuk.


"Kau dirumah. Kau pingsan disembarang tempat. Bagaimana jika kau diperkosa atau semacamnya? Itu sangat berbahaya bukan?"


Mendengar ucapan suaminya membuat hati Mila seperti tersayat sembilu. Kata-kata dokter Irwan seperti sedang menyindirnya secara halus.


"Tapi syukurlah itu tidak terjadi. Kau diantarkan oleh Regan. Dan aku tahu Regan orang yang baik dan dia tidak pernah macam-macam pada wanita. Dia adalah pria yang baik." Kata Dokter Irwan membuyarkan lamunan Mila.


Dokter Irwan sengaja mengatakan hal itu pada Mila agar dia semakin membenci Regan.


"Maafkan aku, jika kata-kata ku menyinggung perasaanmu. Tapi, kau tidak boleh pingsan disembarang tempat. Aku khawatir jika hal itu terus terjadi dan aku....tidak ingin terjadi hal yang buruk padamu dan juga pada bayimu..."kata dokter Irwan pada Mila.

__ADS_1


Mila lalu menatap dokter Irwan dan terpana dengan perhatiannya.


"Kau....kau mengkhawatirkan bayiku?" tanya Mila karena bayi itu bukanlah darah dagingnya.


"Tentu saja. Kau adalah istriku. Jika terjadi apa-apa padamu, kau masih menjadi tanggung jawabku," kata Dokter Irwan pada Mila.


"Aku akan mengambilkan minuman untukmu," kata Dokter Irwan lalu berjalan kedapur dan membawakan minuman hangat untuk Mila.


"Ini, minumlah."


Mila lalu mengambil minuman itu dan meminumnya sedikit.


"Terimakasih..." kata Mila dan menatap dokter Irwan sambil tersenyum.


"Irwan....maafkan aku...aku sudah merepotkanmu," kata Mila.


Setelah itu Irwan berpamitan pada Mila dan menutup pintu kamar Mila.


Weni sangat bosan dikamarnya. Weni keluar kamar dan turun kebawah untuk mengambil minuman dingin.


Dokter Irwan membuka kamar Weni dan dia tidak ada dikamarnya.


Dokter Irwan lalu turun kebawah dan memeluknya dari belakang saat melihat Weni berdiri didapur.


"Sayang....kau lama sekali. Aku bosan dikamar sendirian," kata Weni dan menoleh pada Irwan.


"Mila baru saja pulang. Dia pingsan dan tadi diantar oleh Regan." Kata Dokter Irwan masih memeluk Weni.


"Regan? Orang yang waktu itu aku ajak ke bukit dibatas kota bukan?" kata Weni sambil mengingat-ingat nama Regan.

__ADS_1


"Ya."


"Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian. Kadang kalian bersikap aneh dan entahlah. Aku pusing!" kata Weni lalu menaruh gelas diatas meja.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, kau tidak akan mengerti, nanti kau malah cepat tua karena pusing, hehe..." dokter Irwan tertawa dan Weni juga tertawa.


Entah sejak kapan Weni menjadi kesayangan dokter Irwan. Dan semua itu karena cintanya pada Mila harus kandas saat dia tahu jika Mila adalah putri dari pembunuh ayahnya.


Dan sayangnya, dia tahu semua itu saat dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Mila.


Dan saat itulah dia mengenal Weni, dia adalah wanita panggilan kelas atas. Tapi Weni orang nya asyik diajak berbicara hingga dokter Irwan merasa nyaman dengannya.


Dia patah hati karena cintanya harus terkubur oleh dendam. Hingga dia menjadikan Weni pelarian hatinya yang kecewa.


***


Dikamar, Mila melepaskan semua bajunya dan melihat kecermin, perutnya yang mulai membuncit. Dan sayangnya ini bukan darah daging suaminya.


Dan karena bayi yang dia kandung, statusnya saat ini hanyalah sebagai istri diatas kertas.


Kadang dia menjadi istrinya, kadang orang lain, dan kadang hanya teman biasa.


Karena sejak menikah, mereka belum pernah saling melengkapi secara biologis.


Bahkan, hingga saat ini uang yang ditransfer oleh dokter Irwan untuk kebutuhanya juga masih utuh.


Mila menggunakan uangnya sendiri untuk kebutuhan rumah tangganya. Mila merasa tidak pantas menggunakan uang suaminya karena saat ini dia bukan istri yang sesungguhnya. Dia adalah istri yang ternoda dan tercemar.


Meskipun dokter Irwan mentransfer uangnya setiap gajian, tapi Mila tidak memakainya sekalipun. Mila merasa tidak pantas diberi nafkah, karena hubungan suami istri itu hanyalah catatan diatas materai.

__ADS_1


__ADS_2