Dipinang CEO

Dipinang CEO
Kecurigaan Mila


__ADS_3

Didalam kamar Wandah duduk disofa dan Irwan duduk di samping mamanya. Mamanya masih terlihat kesal karena khawatir jika Irwan akan jatuh cinta dengan Mila dan melupakan tujuannya.


"Kenapa kau bermesraan dengan gadis itu." kata Wandah.


"Jika aku tidak memperlakukanya dengan baik. Maka dia tidak akan betah tinggal dirumah ini. Dan kita tidak akan mendapatkan keuntungan apapun ma." kata Dokter Irwan.


"Apakah kau sudah membuat asuransi atas namanya?" tanya Wandah.


"Sudah ma."


"Dan jangan lupa, jika anaknya lahir kau juga harus mendaftarkan asuransi atas namanya juga."


"Iya ma, Irwan ingat semua pesan mama. Jadi mama tidak usah khawatir. Irwan tidak akan sedekat itu dengan Mila jika bukan karena balas dendam kita yang tertunda." kata Irwan.


"Sekarang kau sudah menjadi direktur dirumah sakit yang besar itu. Mama ingin kau belikan rumah untuk mama didekat sini. Mama akan tinggal dekat dengan kalian. Dan rumah lama mama akan mama jual," kata Wandah.


"Baiklah, mama tenang aja. Pelan-pelan Irwan akan carikan rumah untuk mama. Siapa tahu ada yang mau jual rumah didekat kak Kinan."


"Kau atur saja. Jika sudah ada, segera hubungi mama. Mama ingin kau segera menyingkirkan wanita itu setelah anaknya lahir. Mama muak melihat wajahnya." kata Wandah.


"Iya ma."


"Sekarang mama mau tidur, kau pergilah kekamarmu."


Kata Wandah lalu masuk kekamar mandi. Irwan lalu keluar dari kamar mamanya dan masuk kekamar Weni.


Sementara Mila sendirian didalam kamarnya dan sedang berbicara dengan bayinya.


"Sebentar lagi kau akan lahir kedunia ini. Dan aku tidak sabar bertemu denganmu, Malaikatku...."


"Meskipun aku membenci Regan, tapi aku tidak akan membencimu. Atas alasan apapun kehadiranmu kedunia ini, kau tetaplah sebuah anugerah terindah."

__ADS_1


Dan tiba-tiba saja bayi itu menendang perutnya dengan lembut. Mila lalu mengelus perutnya. Bayi itu seakan tahu dan merespon setiap ucapannya. Dan dia mendengarkan saat Mila mengajaknya berbicara.


Mila lalu merebahkan dirinya kesamping kanan saat tidur. Posisi itu terasa lebih nyaman saat perutnya semakin membesar.


Orang lain mungkin akan tidur dengan menatap wajah suaminya dan merasakan ketenangan setelah menatapnya. Tapi Mila tidak akan bisa melakukan yang biasa dilakukan para istri saat akan tertidur. Seperti membelai pipi suaminya, menatap matanya dengan lembut dan tersenyum padanya sambil mengucapkan selamat malam.


Hatinya terasa hampa saat ini. Cintanya pada Regan berubah menjadi kebencian, dan cintanya pada suaminya harus kandas dan menjalani pernikahan sandiwara.


Mila teringat perkataan Regan waktu itu yang mengatakan jika pernikahanya hanyalah sebuah sandiwara dan Mila tidak pernah menduga jika dia juga akan mengalami hal yang sama.


***


Pagi harinya mamanya sudah pergi pagi-pagi sekali dan hanya berpamitan pada Irwan yang sudah siap dipagi hari. Kebetulan Mila bangun kesiangan hingga belum menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Irwan, maafkan aku, aku bangun kesiangan." kata Mila sambil menatap suaminya.


Irwan tersenyum dan menarik tangan Mila untuk duduk didekatnya.


"Tidak apa. Aku akan sarapan diluar." kata Irwan.


Mila lalu naik keatas dan tidak lama kemudian turun kebawah. Dan dia lihat rumahnya sudah sepi. Tidak ada suaminya dan juga Weni. Mereka ternyata sudah berangkat lebih dulu.


Mila hanya menahan nafasnya dan berusaha tegar. Sikap suaminya memang sulit ditebak. Kadang dia bilang begini dan kadang bilang begitu. Kadang memperlakukanya dengan lembut, tapi kadang seperti orang asing.


Akhirnya Mila menutup pintu dan menguncinya. Dia lalu memesan taksi online dan tidak lama kemudian taksi itu datang.


Saat melewati jalan Melati, Mila tanpa sengaja melihat Irwan dan Weni sedang makan disana. Irwan sedang memegang tangan Weni dan menciumnya.


"Irwan? Apa yang mereka lakukan? Weni adalah sepupunya. Tapi kenapa mereka terlihat seperti orang sedang berpacaran?" tanya Mila dalam hati.


Lampu sedang merah sehingga mobil yang ditumpangi Mila berhenti. Dan Mila bisa melihat jelas jika Irwan memperlakukan Weni seperti seorang kekasih. Dan bukan seperti sepupunya.

__ADS_1


Irwan sedang menyuapi Weni. Begitu juga Weni sedang menyuapi Irwan.


"Ya Tuhan, apakah aku tidak salah lihat?"


Irwan mencium Weni sebelum akhirnya meninggalkan Weni sendirian ditempat itu.


"Apakah sebenarnya yang terjadi? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka .... Ahk tidak mungkin. Aku tidak percaya Irwan melakukan semua ini. Aku mengenal kepribadiannya sebagai pria yang baik. Dan ....kenapa aku harus mencurigainya, sedangkan dia dengan kebesaran hatinya menerima anak yang bukan anaknya." Mila berbicara sendiri.


Hingga sampai dirumah sakit tempatnya bekerja Mila masih kepikiran dengan apa yang dia lihat.


Kadang hatinya menyangkalnya tapi kadang akalnya lemah dan mencurigainya.


Akhirnya Mila berfikir untuk menyelidiki siapa Weni sebenarnya.


Mila lalu keluar dari rumah sakit dan segera memesan taksi untuk kembali ke restoran tadi.


Dan saat Mila sampai sana, Weni baru saja akan pergi dari restoran itu. Mila yang tadinya mau turun akhirnya memilih untuk tetap diam didalam mobil.


"Pak, ikuti mobil itu." kata Mila lalu mengikuti mobil Weni. Tidak ada Irwan bersamanya, artinya Irwan sudah pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja.


Mila terus mengikuti mobil Weni dan ingin tahu dimana Weni bekerja.


Tapi ternyata mobil Weni berhenti disebuah apartemen. Dan Mila juga berhenti disana. Setelah membayar taksi online, Mila turun dengan mengendap-endap.


Dan entah kenapa Weni merasa ada yang mengikutinya. Dia lalu menoleh kebelakang, tapi Mila dengan cepat bersembunyi sehingga dia tidak ketahuan.


Mila terus diam hingga sore hari. Dan dia bingung dengan Weni, kenapa siang hari, seharian dia diapartemen dan saat malam hari dia menginap dirumahnya. Sedangkan dia punya tempat tinggal.


Mila terus menunggu hingga malam hampir tiba, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Weni selanjutnya.


Tiba-tiba suaminya dokter Irwan datang dan dengan cepat Mila bersembunyi. Dokter Irwan sepertinya punya kunci apartemen Weni. Dia langsung masuk dan satu jam kemudian baru keluar. Entah apa yang dilakukannya didalam apartemen Weni.

__ADS_1


Dada Mila mulai panas terbakar. Tapi apakah aku layak marah, jika saat ini hubunganya hanyalah pernikahan diatas kertas? Dan apa yang aku lakukan? Aku juga sudah mengkhianati janji suci pernikahan dengan tidak menjaga diri dengan baik?


Setelah lama merenung, akhirnya Mila memutuskan untuk pulang dan tidak mengikuti mereka berdua.


__ADS_2