
Weni belum pulang ke apartemen, dia masih duduk sambil minum disebuah bar. Dia merasa bosan seharian diapartemen tanpa melakukan apapun.
Dia lalu berkumpul bersama teman-temannya dan mereka bercanda juga tertawa. Tiba-tiba Weni melihat Regan yang baru saja masuk dalam cahaya remang-remang.
"Eh, gue pergi dulu ya," kata Weni berpamitan karena dia takut bertemu dengan Regan.
Regan melihatnya sekilas dan berlari mengejarnya. Weni berlari keluar dari bar, Regan mengejarnya lewat pintu yang berbeda.
Weni tidak sempat memanggil taksi dan dia terus berlari di trotoar. Regan terus mengejarnya dan saat hampir saja tertangkap, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat disamping Weni dan menariknya masuk kedalam.
Mobil itu lalu hilang ditelan gelapnya malam. Regan sempat melihat jika itu mirip mobil dokter Irwan. Tapi Regan kemudian menepis dugaannya.
"Apa yang kau lakukan disini? Sudah kubilang diamlah di apartemen! Kau hampir saja tertangkap oleh Regan," kata dokter Irwan kesal karena jika dia tidak lewat tepat waktu maka, Weni pasti sudah tertangkap oleh Regan.
"Hah, hah, hah....! Aku juga tidak tahu kenapa bisa bertemu dengannya." kata Weni dengan nafas masih terengah-engah akibat berlari sekuat tenaga.
"Aku tadi pergi ke apartemen, dan kau tidak ada disana."
"Aku bosan, diam tanpa melakukan apapun dan tidak bisa bertemu siapapun. Bahkan sekarang aku harus terus menghindari Regan. Sedangkan kau tahu dia bisa muncul dimana saja." kata Weni.
"Jika kau tahu Regan bisa muncul dimana saja. Maka diamlah diapartemen dan jangan pergi kemanapun," kata Irwan.
"Aku bosan bekerja seperti ini. Aku lebih suka bekerja bebas seperti sebelumnya." kata Weni yang bebas melakukan apapun dan bisa berkumpul dengan teman-temannya.
"Ayolah, ini tidak akan lama. Kau lagian tidak perlu merayu siapapun dan aku membayarmu," kata Irwan mulai melunak karena takut jika Weni kembali ke pekerjaannya semula.
__ADS_1
"Kau bukan hanya membayarku. Tapi kau juga membeli semua kebebasanku," kata Weni mulai mengeluh.
"Kita sudah sampai rumah, jangan katakan apapun pada Mila. Pergilah keatas," kata dokter Irwan lalu masuk kedalam.
Mila menyambut suaminya dengan senyum yang manis.
"Hai, kalian pulang bersama. Apakah kalian sudah makan?"
"Aku belum makan, tapi Weni sudah makan," kata dokter Irwan.
Weni diam saja dan mengangguk pada Mila lalu naik keatas. Aku sangat lapar dan dia bilang aku sudah kenyang!
"Mari kita makan," kata Irwan pada Mila.
"Aku tadi pulang lebih cepat dan masak untuk kita bertiga. Tapi sayang sekali Weni ternyata sudah kenyang," kata Mila lalu kedapur dan mengambil buah yang sudah dia cuci untuk makanan penutup.
Dreeettt!
~Aku sangat lapar. Bawakan untukku juga. Aku akan makan diatas~ kata Weni melalui pesan wa.
~ok~ balas Irwan.
Irwan lalu mencari cara agar Mila menjauh dari meja makan.
"Mila, bisa kau ambilkan tas kantorku, sepertinya tertinggal dimobil. Ini kuncinya," kata Irwan lalu memberikan aku kunci itu pada Mila.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengambilnya dulu," kata Mila lalu menaruh piring diatas meja.
Dengan cepat Irwan mengambil nasi dan lauk dan dia bawa kekamar Weni.
"Ini tasnya." kata Mila dan untunglah, Irwan sudah duduk lagi dimeja makan.
Mila melihat meja berantakan dengan kuah yang tercecer.
"Aku akan mengelap ini dulu." Kata Mila lalu mengambil lap dan dia lihat suaminya sedang makan dengan lahap.
Irwan sengaja makan dengan cepat tanpa menunggu Mila.
Dan saat Mila sudah selesai mengelap meja yang berantakan karena kuah. Mila duduk dan akan makan, tapi Irwan sudah selesai makan dan berpamitan untuk mandi.
Terpaksa Mila harus makan sendirian.
"Mila, maafkan aku, aku merasa badanku lengket semua, dan aku tidak bisa menahannya lagi. Apakah kau tidak keberatan jika makan sendirian?" tanya Irwan pada Mila.
Mila menggeleng dan dia tidak keberatan.
"Mandilah, aku akan makan sendiri." kata Mila lalu mulai makan sesuap demi sesuap.
Dokter Irwan lalu mengambil tas kantornya dan membawanya keatas.
Mila menatapnya dan berusaha tersenyum untuk menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1