Dipinang CEO

Dipinang CEO
7 Eps Terakhir


__ADS_3

Nadiya mengambil remot dan mematikan televisi begitu melihat Regan datang ke rumah dokter Mila dan berada di antara wartawan.


Dan yang lebih mengejutkannya adalah pernyataan dirinya jika akan menikahi dokter Mila dan mengingkari janjinya untuk memutuskan hubungan dengan dokter Mila.


Kepala Nadiya tiba-tiba seperti berputar dan seakan ada beban diatas kepalanya hingga membuatnya harus berpegangan pada sofa.


Pandanganya kabur dan berkunang-kunang. Dia juga mengalami kram perut yang terasa sangat nyeri.


Sebenarnya dia sering mengalami nyeri seperti ini, tapi dia diam dan tidak mengatakanya pada siapapun. Dia pikir ini nyeri biasa.


Tapi nyeri itu sering datang akhir-akhir ini. Apalagi saat banyak pikiran dan stres. Nyeri itu semakin sering muncul dan sekarang dia benar-benar tidak mampu menahanya lagi.


Nadiya meraih ponsel dan dengan cepat menghubungi Prasetyo agar segera datang.


"Pras!"


"Nadiya...."


"Perutku Pras .....sakit sekali. Aku tidak tahan lagi."


"Ok,ok kau dimana sekarang aku akan segera datang."


"Aku dirumah."


Nadiya menaruh handphonenya kembali dan duduk di sofa dengan terus memegangi perutnya yang terasa sakit.


Akhirnya dia pingsan saat Prasetyo datang.


"Nadiya!" Prasetyo segera membawa Nadiya ke mobilnya dan mencari rumah sakit yang terdekat.


"Dokter, bantu istri saya." Kata Prasetyo dan karena dokter kandungan yang dulu merawat Nadiya sedang ke luar negeri, maka seorang dokter yang lainya menelpon Mila agar segera datang kerumah sakit.


Saat ini Nadiya ada diruangan UGD dan tidak lama kemudian Mila datang diantar oleh Regan yang tidak tahu jika ibunya lah yang membutuhkan pertolongan dengan segera.


Regan memang hanya mengantar Mila sampai di parkiran depan. Mila berpesan untuk menjaga mereka hingga dia kembali.


"Bibi terlihat sangat ketakutan. Kau langsung pulang saja dan jangan tinggalkan mereka sampai aku kembali." kata Mila


"Ya. Aku akan langsung ke apartemen."


"Baiklah, aku masuk dulu."


Regan langsung kembali pulang untuk menemani Matthew dan bibi di apartemen miliknya.


Karena dirumah Mila banyak wartawan, maka Regan membawa mereka semua ke apartemen agar merasa nyaman sampai keadaan sudah normal kembali.


Mila bergegas masuk ke dalam dan pergi ke ruangan UGD. Disana sudah ada beberapa dokter spesialis penyakit dalam yang berdiri disamping Nadiya.


Mila sempat kaget saat yang akan diperiksa ternyata adalah Tante Nadiya atau ibunya Regan.


"Tante Nadiya....."

__ADS_1


Nadiya saat itu sedang pingsan karena rasa nyeri yang tak tertahankan.


Nadiya juga tidak tahu jika dia akan diperiksa oleh dokter Mila.


Semua dokter memeriksa keadaan fisik Nadiya. Mereka terlihat berbisik-bisik dan mengangguk.


Masing-masing membutuhkan sampel darah untuk dibawa ke laboratorium dan diperiksa.


Mereka langsung melakukan tindakan yang dibutuhkan dan melakukan USG. Dan ternyata diketahui oleh dokter Mila jika ada mioma di dinding rahim Nadiya.


Beberapa dokter pergi dan hanya Mila yang ada disana.


Setelah di ketahui apa penyakit yang menyebabkan Nadiya kesakitan, dokter Mila memanggil suaminya.


Prasetyo juga kaget saat istrinya ternyata ditangani oleh dokter Mila.


"Pak Prasetyo...."


"Dokter Mila, anda...."


"Iya...saya sudah memeriksa penyebab sakit yang membuat ibu Nadiya pingsan. Keluhan nyeri sepertinya sudah berlangsung lama. Tapi mungkin ibu Nadiya tidak mengatakanya."


"Dokter Mila, apa yang terjadi dengan istri saya?"


"Ibu Nadiya menderita mioma." kata Nadiya pada Prasetyo.


"Apakah itu mioma? Apakah berbahaya?"


Tanya Prasetyo yang tidak tahu apa itu mioma, hingga Nadiya tidak pernah bercerita dan tahu-tahu sudah parah hingga dia sangat kesakitan.


"Ini bukan kanker kan?" Prasetyo kaget dan teringat jika Nadiya pernah menderita kanker kandungan sebelum menjadi istrinya.


"Bukan, ini berbeda dengan yang pernah di alami ibu Nadiya sebelumnya. Saya tadi membaca riwayat kesehatan beliau. Dan ini tidak seganas kanker yang pernah di deritanya."


"Apa yang harus saya lakukan? Apakah harus dioperasi?"


"Kami akan memeriksa lebih lanjut kondisi fisik dari ibu Nadiya. Dan mungkin akan ada operasi kecil untuk menghilangkan miom yang menempel di dinding rahimnya."


Prasetyo mengangguk perlahan dan seluruh tubuhnya tiba-tiba seperti lemah dan tidak bertenaga.


"Baiklah, lakukan ya g terbaik untuknya dokter...."


Mila mengangguk.


***


Setelah semua pemeriksaan lengkap maka Nadiya di operasi dan Prasetyo menunggu dengan cemas di temani oleh Oma yang sudah di kabari dan juga Regan.


Tidak lama kemudian Dokter Mila keluar dan memberitahu jika semua berjalan dengan lancar dan hanya menunggu Nadiya siuman.


Seorang suster memberitahu jika Nadiya sudah siuman dan anggota keluarga boleh masuk.

__ADS_1


"Mami..... Bagaimana keadaan mami?" tanya Regan dengan penuh rasa khawatir melihat maminya di operasi.


Nadiya sebenarnya masih kesal saat teringat apa yang dilakukan Regan.


Tapi dalam kondisi seperti ini, dia tidak ingin bertengkar dengannya.


"Mami baik-baik saja." Kata Nadiya tersenyum pada Regan.


Prasetyo langsung berdiri didekat Nadiya dan mencium keningnya.


Prasetyo menggenggam tangan Nadiya dan dia tidak kuasa menahan airmatanya.


Nadiya adalah orang yang paling dia cintai dan dia benar-benar takut kehilangan dirinya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Prasetyo menatap wajah Nadiya dengan lembut.


"Aku baik-baik saja, kalian jangan cemas seperti itu."


"Bagaimana kami tidak cemas, kau tidak mengeluh apapun. Dan sekarang kami baru tahu jika kau terkena miom." kata Prasetyo diiringi anggukan oleh Regan dan juga Oma.


"Aku takut, akan membuat kalian cemas. Dan aku juga takut karena awalnya aku pikir, mungkin kanker itu muncul lagi." kata Nadiya.


"Syukurlah kau ditangani oleh dokter terbaik. Dokter Mila yang sudah mengangkat miomnya."


"Apa? Dia?"


"Kenapa kau membawaku padanya? Kau membuatku merasa tidak nyaman. Sebaiknya aku akan pindah kerumah sakit yang lain saja." kata Nadiya dan langsung di cegah oleh Prasetyo.


"Nadiya. Kau harus tetap disini. Kau baru saja dioperasi. Kau tidak boleh bergerak kemanapun."


Nadiya diam saja karena saat dia bergerak sedikit saja perutnya masih terasa nyeri bekas operasi.


***


Keesokan harinya, Nadiya sudah boleh pulang dan akan dirawat dirumah saja. Dia tidak mau lebih lama berada dirumah sakit.


Setelah apa yang terjadi, sikap Nadiya sedikit melunak saat bertemu dengan dokter Mila.


Saat ini Mila akan memeriksanya karena dia akan pulang kerumah.


Nadiya tertunduk dan tidak berani menatap wajahnya.


"Sepertinya semua dalam kondisi baik, ibu Nadiya bisa pulang hari ini. Tapi tetap harus minum obat secara teratur."


"Baiklah, terimakasih....." kata Nadiya pelan dan terbata.


Mila lalu segera keluar dan diluar dia berpapasan dengan Regan uang baru saja dari ruang administrasi.


"Terimakasih, kau sudah menyelamatkan mami...." kata Regan berdiri berhadapan sangat dekat dengan dokter Mila.


"Sudah tugas seorang dokter untuk memberikan yang terbaik bagi pasiennya." Kata Mila sambil tersenyum karena akhirnya sikap Nadiya sedikit melunak tadi.

__ADS_1


"Kami akan pulang sekarang," kata Regan.


"Hati-hati dijalan....." Kata dokter Mila sambil tersenyum manis.


__ADS_2