
Sementara Mila terbengong, tiba-tiba Regan datang dan mengajaknya makan siang. Regan sepertinya sudah membuat pesaingnya mundur dan sekarang dia hanya harus meyakinkan Mila jika dia pantas menjadi ayah bagi Matthew.
"Mila...kebetulan aku lewat disini dan akan makan siang. Apakah kau mau makan siang denganku?"
"Baiklah."
Mila mengangguk pelan dan berjalan disamping Regan. Regan menggenggam tangan Mila, tapi Mila berusaha melepaskan genggaman nya.
Regan akhirnya melepaskan karena Mila tidak ingin ada gosip lagi tentang dirinya. Bahkan gosip kedekatanya dengan CEO Handoko juga belum hilang dari ingatan publik.
Saat dokter Mila akan masuk kedalam mobil Regan, tiba-tiba seorang wartawan mendekatinya.
"Dokter Mila, bisakah kami meminta waktu anda sebentar?" tanya Wartawan itu.
Mila tidak bisa menolaknya.
"Bagaimana pendapat anda tentang pernyataan dari CEO Handoko soal ayah dari putra anda?"
"Maaf, saya tidak bisa menjawabnya..."
"Tapi, apakah CEO Handoko adalah ayah dari putra anda?"
Wartawan itu masih muda dan sepertinya belum berpengalaman.
Regan menarik Mila kedalam mobilnya dan meninggalkan wartawan itu.
"Kau tidak perlu menjawab pertanyaanya."
"Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba Pak Handoko berkata seperti itu."
"Dan, wartawan itu? Kenapa dia bertanya hal seperti itu?"
"Mengesalkan!"
"Jauhi dia. Maka semuanya akan normal kembali." kata Regan.
"Aku memang tidak pernah dekat dengan Pak Handoko. Jadi aku tidak perlu menjauhinya."
Mereka sampai disebuah restoran mewah dan restoran itu begitu sepi. Tidak ada satupun tamu yang sedang makan.
Mereka disambut oleh beberapa pelayan dan mereka masing-masing membawa bunga ditanganya.
__ADS_1
Ini seperti kencan romantis saja. Padahal ini hanya makan siang.
"Duduklah disini." kata Regan dan menatap Mila lebih lama.
"Kenapa hanya ada kita berdua?" Mila bertanya pada Regan.
"Karena mereka memilih makan direstoran lain saat ini dan memberi kesempatan pada kita untuk berdua dan mari kita berbicara dari hati kehati."
"Hahaha...apa maksudmu dari hati kehati. Kita hanya akan makan siang tapi kau seperti sedang berkencan denganku."
"Mila....." Regan menggenggam tangan Mila dan menatapnya tepat ke bola matanya yang indah.
Mila menjadi berdebar-debar dan salah tingkah. Dia berusaha bersikap biasa saja dan tidak ingin terpengaruh dengan rayuan Regan.
"Kau sendirian. Dan aku juga sendiri. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi aku juga ingin melihat perkembangan Matthew. Dia anakku bukan? Please Mila, jangan terus menyangkalnya. Kau tahu waktu tidak bisa diulang bukan?"
Mila menatap Regan dan memalingkan mukanya lalu berdiri dari kursinya.
"Aku tidak bisa. Ini tidak mudah. Kau pikir keluargamu akan menerimaku? Aku tidak ingin ada kekacauan lagi dalam hidupku. Pernikahan bukanlah permainan bagiku."
Kata Mila lalu meninggalkan Regan sendirian.
Mila lalu naik ke dalam taksi dan tidak jadi makan siang. Dia kembali kerumah sakit. Dan saat dia masuk kedalam ruanganya, ternyata sudah ada kotak makanan yang dipesan oleh seseorang.
Dia juga melihat CEO baru saja kembali dari makan siangnya bersama dokter Riana.
***
Regan sedang putus asa dan dia pergi ke klub. Dia tidak percaya jika Mila tetap menolaknya padahal dia sudah berhasil membuat CEO Handoko kecewa dan tidak akan mendekati Mila lagi.
Disana Regan melihat Weni sedang meracau tidak karuan.
Weni sepertinya sedang putus asa dengan pernikahanya yang juga tidak berjalan dengan baik.
Banyak sekali perbedaan antara cara berpikirnya dan juga cara berpikir dokter Irwan. Mereka sering bertengkar untuk masalah kecil.
Dan semua itu membuat Weni kecewa dan putus asa.
Begitu melihat Regan Weni lalu datang menemuinya. Dan tanpa sengaja dia mengatakan jika sudah menjebak Regan waktu di bukit di batas kota.
Weni juga mentertawakan Regan karena tidak tahu jika dia dan Irwan sudah menjebaknya.
__ADS_1
"Apa?!"
"Hahahaha..." Weni tertawa didepan Regan dan tidak sadar dengan apa yang dia katakan.
"Balas dendam. Balas dendam pada Mila. Dan aku...aku tidak bahagia...." kata Weni lalu tertawa dan tiba-tiba menangis.
"Siapa yang balas dendam? Katakan?" tanya Regan.
"Irwan....ayahnya....ayahnya dibunuh oleh ibu dari Mila..."
Hahahaha....
Weni tertawa lagi dan menyentuh pipi Regan.
"Kau tampan sekali... apakah kau tamu yang akan berkencan denganku?"
Weni meracau dan seakan dia kembali pada pekerjaannya, untuk melayani pria hidung belang.
"Kau sedang hamil. Sebaiknya kau pulang."
Kata Regan menasehati Weni saat dia lihat perut Weni.
Weni masih saja meracau dan berkata tentang pernikahanya. Dia berbicara sendiri seakan dia memendam banyak ketidakpuasan dan sekarang dia mengeluarkan semuanya didepan Regan tanpa dia sadari.
Regan merasa iba padanya lalu mengantarkanya pulang kerumah dokter Irwan. Awalnya Weni menolak tapi Regan tetap membawanya pulang.
Regan hanya mengantarkanya sampai dipintu. Dia tidak ingin bertemu dengan Irwan dan keluarganya setelah dia tahu jika Irwan punya niat jahat pada Mila sejak awal pernikahanya.
"Hahahaha.....Irwan!" Weni berteriak dan Wandah yang kebetulan menginap dirumah anaknya membukakan pintu untuk Weni.
Regan sudah pergi saat Wandah keluar dan menatap Weni dengan sinis.
Wandah tidak tahu siapa Weni sebenarnya. Dia tidak tahu jika Weni adalah wanita tuna susila yang pernah disewa oleh Irwan dan sekarang menjadi istrinya.
"Kau sedang hamil dan kau minum? Kau tahu itu tidak baik untuk kesehatan. Cepat masuk dan naik kekamarmu." kata Wandah.
"Mama.....Mama mertua yang baik hati....biarkan aku minum sedikit lagi..." kata Weni yang ternyata masih meracau.
Irwan turun dari kamarnya dan kaget melihat Weni dalam keadaan seperti itu didepan mamanya.
"Weni!? Ayo naik keatas! Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Irwan lalu memapah Weni kekamarnya dan mamanya hanya menatap sinis tanpa berbicara melihat kelakuan menantunya.
"Jika saja kau belum hamil, aku akan mencegah Irwan menikahimu....Kau juga tidak pantas untuk putraku...." kata Wandah berbicara sendiri.