Dipinang CEO

Dipinang CEO
Siapa Weni sebenarnya


__ADS_3

Sampai dirumah, dokter Mila langsung mandi dan berganti baju, setelah itu rebahan dikamarnya. Dia merasa kelelahan setelah seharian mengintai Weni diapartemen.


Sudah jam 9 malam, Irwan belum juga pulang, begitu juga Weni. Entah kemana mereka berjalan-jalan dan menghabiskan waktu. Karena sore tadi Mila melihat Weni dan Irwan keluar dari apartemennya.


Dan jika mereka belum juga sampai dirumah, artinya mereka pergi kesuatu tempat, seperti makan malam romantis dan nonton bioskop.


Mila mulai berfikir yang tidak-tidak sejak apa yang dia lihat seharian tadi.


Kenyataan jika Weni begitu dekat dengan Irwan dan suaminya yang mengenalkanya sebagai sepupunya.


Tiba-tiba Mila tergerak hatinya untuk menelpon Kinan, kakak iparnya.


Saat itu Kinan sedang tiduran dikamar anaknya. Setelah melihat jika Mila yang menelpon, Kinan lalu mengangkatnya.


"Halo Mila...."


"Kinan...apa kau sudah tidur?" tanya Mila.


"Belum. Ada apa?"


"Apakah kau sedang sibuk?"


"Tidak juga, aku hanya sedang menidurkan anak-anak. Tapi mereka masih mau main. Ada apa Mila?" tanya Kinan kakak iparnya.


"Aku mau tanya, apakah kau punya sepupu bernama Weni?"


"Emm, coba ya aku ingat-ingat. Sepertinya aku tidak punya. Kenapa?"


"Ohh, tidak apa. Aku hanya berfikir punya teman bernama Weni dan kebetulan wajahnya mirip dengan Irwan."


"Ohh, kenapa kau tidak tanya pada Irwan? Apakah dia tidak ada dirumah?"


"Ehm, aku akan menanyakanya padanya, tapi, dia sedang lembur hari ini." kata Mila beralasan.


"Kalau begitu, maaf, aku sudah menganggumu, salam untuk Bima dan Arya..."


Mila lalu menutup teleponnya dan berpikir lagi.


Kali ini dia mulai ragu dengan suaminya. Tapi kenapa suaminya harus berbohong? Untuk apa dia melakukan semua itu? Dan kenapa harus mengenalkan Weni sebagai sepupunya? Siapakah Weni sebenarnya?


Saat Mila sedang berfikir, terdengar suara Irwan dan Weni yang baru pulang. Dengan cepat Mila mematikan lampu dan berpura-pura tidur.


"Dia sudah tidur." Kata Irwan saat melewati kamar Mila. Dia menggandeng pinggang Weni yang ramping dan matanya tidak lepas dari dadanya yang padat berisi, begitu terlihat jelas dengan gaun malam yang mempesona.


Terdengar suara pintu tertutup.


Mila mengelus dadanya dan mengintip dari balik pintu kamarnya.


Sepertinya Irwan tidak ada dikamarnya, dan artinya Irwan masuk kekamar Weni.


Apa yang dia lakukan dikamar Weni malam-malam seperti ini?


Bukankah Weni itu sepupunya dan dia wanita dewasa, artinya bukan anak-anak yang harus ditemani saat tidur?


Ditemani?


Terlintas dalam benaknya, artinya apakah Irwan akan tidur dikamar Weni hingga pagi hari.


Mila sengaja tidak tidur dan menunggu Weni mematikan lampu kamarnya. Terdengar pintu terbuka, dan Weni turun kebawah untuk mengambil minuman dingin dikulkas. Dia lalu membawanya masuk kekamarnya.


Mila mengintip dari celah kunci, dia tidak melihat Irwan keluar dari kamar Weni.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Weni mematikan lampu dan mengunci pintu kamarnya. Mila perlahan-lahan keluar setelah tahu jika Weni mungkin akan tidur.


Mila berjalan dengan pelan kekamar Dokter Irwan. Kamarnya dalam kondisi tertutup, dan lampunya mati. Apakah Irwan tidur didalam? Gumam Mila.


Mila lalu membuka pintunya perlahan-lahan, dan dia berjalan mendekati tempat tidur Irwan. Saat Mila semakin dekat, tiba-tiba sebuah tangan meraihnya dan jantung Mila hampir copot karenanya.


"Mila?" Dokter Irwan menyalakan lampu dan kaget saat Mila ada dikamarnya.


"Irwan, aku pikir ehm, ada orang masuk kekamarmu, aku pikir ada maling, jadi aku, kemari mengikutinya, maafkan aku..." kata Mila dan akan pergi dari kamar dokter Irwan.


Tapi dokter Irwan menariknya dan menidurkannya disampingnya.


"Tidurlah disini. Mungkin kau sedang cemas. Jadi malam ini lebih baik kau tidur disini." kata Dokter Irwan dan membiarkan Mila untuk tidur dikamarnya malam ini.


Jantung Mila masih berdebar keras tapi meskipun begitu dia mau tidur disamping suaminya itu.


Dokter Irwan menatap wajah Mila sangat lama. Mila lalu tersenyum dan terdiam tanpa berbicara.


"Tidurlah....jangan cemas...aku akan menjagamu..." kata Dokter Irwan sambil mengelus perut Mila.


Mila tersenyum dan untuk apa yang sudah dia lakukan dia merasa bersalah karena berfikir jika suaminya tidur dikamar Weni.


Tapi tadi dia yakin, jika suaminya masuk dan dia tidak melihatnya keluar dari sana. Bagaimana mungkin sekarang Irwan bisa ada dikamarnya?


Ini sangat aneh, pikir Mila seperti orang bodoh saat ini.


Aku benar-benar melakukan kegilaan hari ini. Aku mengikuti Weni dan aku kepergok mencurigai Irwan.


Aku bisa gila jika terus dihantui kecurigaan seperti ini....


Yang terjadi sebenarnya adalah saat Irwan sedang bersama Weni, Kinan menelponnya, dan mengatakan jika Mila menanyakan tentang sepupunya yang bernama Weni.


Karena telepon dari Kinanlah, Irwan mulai berhati-hati. Dan benar saja hari ini dia menangkap basah Mila yang mengintainya.


Untunglah ada pintu lain dari kamar Weni yang tidak diketahui siapapun. Dan Irwan keluar dari pintu yang berbeda.


Pintu itu tertutup oleh almari geser, sehingga tidak akan ada yang tahu jika ada pintu rahasia dari kamar Weni.


Jika hari ini Mila mengetahui segalanya maka rencananya bisa berakhir. Mila bisa saja pergi dari rumah dan Irwan serta ibunya tidak bisa melanjutkan balas dendamnya.


Irwan ingin Mila disampingnya dan tidak menjadi siapapun. Dan dia tidak akan melepaskan Mila. Karena jika dia menceraikan Mila, maka Mila bisa saja menikah dengan Regan dan hidup bahagia. Irwan tidak mau hal itu terjadi.


Irwan ingin agar Mila tetap dirumahnya dan hidup tanpa status yang jelas.


Mila terus menatap Irwan yang tidur disampingnya hingga akhirnya dia pun tertidur. Ini adalah momen langka baginya.


Irwan mengusap-usap wajah Mila dan setelah tidak ada reaksi, Irwan lalu keluar dari kamar dan mengunci Mila didalam.


Setelah itu dia keluar dan menemui Weni dikamarnya. Weni sudah menunggunya sambil mendengarkan alunan musik romantis.


"Kau lama sekali. Aku bosan menunggumu." kata Weni lalu Irwan memeluknya dan mereka bermesraan seperti biasanya.


Jam 3 pagi Irwan terbangun dan keluar dari kamar Weni. Saat itu Weni sedang tertidur pulas. Irwan lalu membuka kunci kamarnya dan dia lihat Mila masih tertidur.


Irwan lalu merebahkan dirinya disamping istrinya dan tertidur hingga pagi hari.


Mila bangun jam 5 dan mulai menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.


Hari ini dia bangun dengan perasaan bahagia karena semalaman tidur disamping suaminya. Dia lalu memasak masakan kesukaan Irwan.


Irwan turun dari atas diikuti oleh Weni. Kali ini mereka sarapan bersama-sama.

__ADS_1


"Baunya sangat lezat, kau bukan hanya dokter yang cerdas, tapi kau juga koki yang hebat," puji Weni pada Mila dan langsung mengambil makanan yang terhidang diatas meja.


Mila tersenyum dan mengambilkan untuk suaminya.


"Kau juga makan..." ajak Irwan dan menyuruh Mila duduk dan makan bersama mereka.


Mila lalu mengangguk dan senang saat melihat mereka berdua makan dengan lahap.


"Aku akan mengantarmu." kata Irwan pada Mila.


"Tapi...." Mila agak bingung.


"Setelah mengantarmu, aku akan mengantar Weni." kata Irwan kemudian.


"Baiklah." kata Mila lalu mengambil tasnya dan meletakkannya didekat meja makan.


Setelah sarapan selesai, mereka bertiga masuk kedalam mobil. Irwan mengantarkan Mila dan setelah itu mengantarkan Weni.


Saat dilampu merah mobilnya bersebelahan dengan mobil Regan. Regan mengamati dari dalam mobilnya. Dan dia mencari sosok Mila. Tapi dia hanya melihat Weni dan Regan. Tidak ada Mila disana.


Regan baru ingat jika Mila bekerja dirumah sakit yang berbeda dan letaknya tidak jauh dari rumah Irwan.


Regan lalu tersenyum sendiri karena sampai saat ini dia masih saja mengkhawatirkan Mila. Padahal Mila adalah istri orang lain. Tapi mengingkari rasa yang ada didalam hatinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Tiba-tiba disamping jendelanya berdiri Catrine. Dan dengan berat hati Regan membukakan pintu untuknya.


Regan juga bingung bagaimana Catrine bisa ada didekat mobilnya. Rupanya tadi Catrine naik taksi online dan saat melihat mobil Regan, dia lalu keluar dan mendekati mobil Regan.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Catrine diam saja dan tidak berbicara.


"Kau mau kemana? Aku akan kekantor." kata Regan.


"Aku ikut." kata Catrine.


"Tidak bisa. Kau mau kemana, aku akan antarkan, setelah itu aku harus kekantor." kata Regan menahan nafasnya. Bagaimana pun dia tidak mau kasar dengan Catrine. Dia adalah mantan istrinya. Meskipun akhirnya gagal dan berakhir dengan perceraian.


"Apakah kita bisa ngobrol dan jalan-jalan sebentar." kata Catrine.


"Tidak bisa Catrine. Aku sangat sibuk."


"Bagaimana kalau aku punya rahasia tentang Mila dan sebagai imbalannya kau akan menemaniku malam ini. Aku akan datang kepesta temanku, tapi aku butuh teman. Dan aku ingin kau menemaniku." kata Catrine.


"Rahasia apa?" tanya Regan.


"Aku akan mengatakanya nanti malam." kata Catrine dan dia sendiri sedang mencari cara agar bisa mendekati Regan. Dan Catrine tahu jika Regan hanya tertarik dengan Mila.


"Baiklah, jika kau sampai mengatakan hal yang tidak penting, maka aku tidak akan mempercayaimu lagi." kata Regan.


"Aku yakin, kali ini kau pasti terkejut." kata Cathrine lalu turun diseberang kantor Regan. Disana ada salon kecantikan, Catrine lalu masuk kesana.


Disalon, Catrine sedang berfikir, apa dari Mila yang tidak diketahui oleh Regan. Catrine lalu mencari tahu tentang Mila, dokter yang populer di internet.


Pasti ada yang menulis artikel tentang Mila dan Regan tidak sempat membacanya.


Sedangkan nanti malam dia harus menghadiri pesta salah satu temanya yang paling dia benci. Dan dia ingin kesana dengan Regan, itu sangat penting untuk status sosialnya.


Pergi dengan Regan pasti akan menarik perhatian didalam pesta.


Dikantor, dokter Irwan juga memberi tahu Mila jika nanti malam dia diundang ke acara pesta dan dia ingin Mila bersiap. Bagaimana pun dokter Irwan tidak mungkin datang sendirian. Dia harus datang bersama Mila meskipun dia dan Mila sudah pisah ranjang.

__ADS_1


__ADS_2