
Dokter Mila siuman dan membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya diperban hingga membuatnya sulit untuk membuka matanya.
Matanya menatap dokter Irwan dan mengingat apa yang terjadi hingga membuatnya terbaring dirumah sakit.
Matanya lalu beralih pada orang yang terbaring disampingnya. Regan juga mulai membuka matanya. Mereka saling bertatapan tanpa suara. Dan hal itu tak luput dari pandangan Dokter Irwan.
Apa yang harus aku katakan sekarang? Bagaimana aku menjelaskannya pada dokter Irwan? Ya Tuhan....Selamatkan aku dari fitnah yang mungkin akan terjadi....
Dokter Irwan mulai mengambil kesimpulan jika kecurigaan Catrine dan apa yang dikatakan Catrine mungkin benar jika dilihat dari cara mereka saling bertatapan.
Apakah ini ujian sebelum pernikahan? Kata orang saat akan menikah, selalu ada saja ujiannya.
"Mila, kau sudah sadar? Aku akan memanggilkan dokter." Kata Dokter Irwan.
Dokter Irwan lalu keluar untuk memanggil dokter. Sementara saat dia masuk tanpa sengaja dia melihat Regan menatap Mila dengan tatapan yang tidak biasa.
Dokter Irwan segera mengambil kesimpulan jika apa yang dikatakan oleh Catrine memang benar. Mereka terlihat saling menutupi perasaan masing-masing.
Dokter lalu memeriksa Mila dan setelah itu memeriksa Regan.
Keluarga Regan masuk kedalam ruangan dan menatap Mila dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.
Terutama Nadiya, dia hanya tersenyum tipis dan mengalihkan matanya pada putranya yang sedang berbaring.
__ADS_1
"Kau selalu seperti ini! Kau tidak mau mendengarkan apa kata Mami." Kata Nadiya pada Regan.
Sementara Catrine berdiri dibelakang Nadiya.
"Mami akan memindahkanmu keruangan yang lain." Kata Nadiya.
"Tapi mi...." Kata Regan keberatan, karena dia ingin terus ada diruangan yang sama dengan Mila.
Awalnya dokter mengira mereka adalah suami istri jadi dirawat di satu ruangan yang sama.
Beberapa suster datang untuk menggeser ranjang dan memindahkanya diruangan VVIP.
"Aku lebih suka diruangan ini Mi." Kata Regan pada Nadiya.
"Aku tahu kenapa dia ingin terus berada diruangan itu Mi, pasti karena ingin berdekatan dengan dokter Mila."
Nadiya hanya melirik pada menantunya dan menatap Regan juga dengan kesal yang tertahan.
"Ada apa dengan mereka berdua? Mereka tidak berhenti membuat masalah dan bertengkar!"
***
Didalam ruangan hanya ada dokter Irwan dan Mila, suasana sepi dan sunyi yang mencekam.
__ADS_1
Dokter Irwan duduk dan menatap Mila dengan sangat lama. Mila merasa ada yang janggal dari tatapan dokter Irwan.
Mila berinisiatif untuk meminta maaf dan mengatakan apa yang terjadi.
"Maafkan aku, aku tidak mengatakan padamu jika aku menemui Regan." Kata Mila pelan dan menunggu reaksi dokter Irwan.
Aku sudah menduganya jika apa yang dikatakan Catrine mungkin separo dari kebenaran yang sesungguhnya.
Mila meneteskan airmata karena sedih dan kecewa dengan dirinya sendiri yang merasa gagal menjaga nama baiknya.
"Aku tahu, Catrine sudah mengatakannya. Tapi...kenapa kau tidak berterus terang padaku jika kau akan menemui Regan? Tentu aku akan mengijinkannya." Kata Dokter Irwan.
"Itu, aku...aku pikir aku...." Mila bingung harus menjawab apa saat dia merasa sangat terpojok.
"Sudahlah, lupakan saja apa yang sudah terjadi. Yang penting kau selamat dari kecelakaan itu." Kata Dokter Irwan.
"Jika kau sibuk, kau boleh pergi bekerja. Biarkan suster yang menjagaku." Kata Mila yang merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Dokter Irwan.
"Baiklah, aku akan pergi kekantor, nanti sore aku akan kemari." Kata Dokter Irwan.
Mila mengangguk dan menatap punggung dokter Irwan yang pergi dari ruangannya.
Catrine keluar dari ruangan suaminya dan menemui Mila didalam ruang perawatan.
__ADS_1
Klek!
Mila menoleh dan melihat jika ada seseorang yang membuka pintu.