
Orang selanjutnya yang kaget dengan pernyataan CEO Handoko adalah Mila sendiri.
Dia melihat surat kabar dirumahnya dan pernyataan CEO Handoko ada di sampul terdepan dari majalah itu.
Mila menatapnya kaget dan membacanya berulang kali. Dia sampai mengucek matanya sekali lagi saat membaca judulnya.
Apa yang dia lakukan?
"Matthew bukan anaknya? Tapi kenapa dia mengatakan jika Matthew adalah putranya? Ya Tuhan, apalagi ini?"
Mila dengan cepat mengganti baju dan pergi kerumah sakit.
Baru menginjakkan kakinya, semua orang yang tadinya menatap aneh padanya mulai tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Dari satpam, beberapa dokter dan juga beberapa suster yang dia temui tidak berani menatapnya seperti saat kemarin.
Hari ini, mereka tersenyum dengan ramah dan menganggukkan kepala memberinya rasa hormat.
Dalam hati, mereka takut jika kehilangan pekerjaannya, karena ternyata Dokter Mila adalah calon istri CEO Handoko.
Mila terus berjalan dengan langkah cepat kekantor CEO.
Setelah mengetuk pintu terdengar sahutan dari dalam.
"Masuk." Mila lalu masuk dan berdiri didepan CEO Handoko. Saat itu CEO tampak sedang sibuk dengan beberapa berkas di meja.
"Mila?" CEO nampak terkejut karena ternyata Mila yang ingin bertemu dengannya.
"Bisa kita bicara?" tanya Mila.
"Duduklah." Kata CEO mempersilahkan Mila untuk duduk.
"Apa yang sudah anda lakukan? Kenapa anda membuat pengakuan jika anda adalah ayah dari anak saya?"
"Ohh, itu, maafkan aku jika aku tidak memberitahumu lebih dulu. Tapi...aku tidak bisa membiarkan orang terus menekanmu dengan berita miring."
"Tapi, tindakan anda juga tidak benar. Anda membuat saya dalam posisi yang sulit saat ini."
CEO Handoko menaruh pulpen dimeja dan menatap Mila dengan sangat dalam.
"Aku tidak bermaksud membuatmu susah. Aku hanya ingin melindungimu. Mila...sejak bertemu denganmu, sebenarnya aku sudah...."
"Jangan pak. Mila mohon jangan saat ini...baiklah, Mila permisi dulu."
Mila takut dengan kalimat yang akan disampaikan CEO Handoko. Jika dia melamarnya maka, apa yang harus Mila katakan?
Mila lalu kembali keruanganya. Semua mata melihat Mila yang keluar dari ruangan CEO Handoko.
__ADS_1
Mereka sangat iri dengan Mila karena mendapat perhatian khusus dari CEO. Terlebih dengan pengakuan CEO jika anak Mila adalah anaknya.
Tidak dengan Mila, posisinya saat ini justru lebih rumit dari sebelumnya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Apa yang harus dia lakukan dan bagaimana dia harus bersikap? Dia benar-benar bingung.
***
Pulang kerja Mila akan menyeberang jalan. Dia akan pulang dan sebelum pulang akan membeli susu untuk Matthew.
Tapi dia terus saja melamun hingga tidak sadar dia sedang menyeberang jalan dan sebuah mobil hampir saja menabraknya.
Untunglah Jihan dengan cepat menariknya hingga Mila selamat. Dia hanya sedikit terluka di lutut, begitu juga Jihan. Mereka jatuh bersamaan.
"Mila, kau melamun, itu sangat berbahaya." kata Jihan memperingatkan Mila.
"Jihan, kau? Bagaimana kau ada disini?"
Tanya Mila juga kaget karena ternyata orang yang sudah menyelamatkanya adalah Jihan.
"Aku akan menemuimu tapi kau malah sudah pulang." kata Jihan pada Mila.
"Baiklah, ayo kita kembali kerumah sakit. Aku akan memeriksa mu." kata Mila pada Jihan yang mau konsultasi dengannya.
Jihan mengangguk. Dan akhirnya mereka kembali kerumah sakit dan masuk keruangan dokter Mila.
"Duduklah." kata Mila dan melepaskan tasnya.
"Katakan ada apa Jihan?"
Jihan tertunduk dan menatap Mila seakan dia berusaha untuk menghilangkan keraguan dari dalam dirinya.
"Aku terlambat datang bulan." kata Jihan pelan.
"Lalu? Apakah ada keluhan?"
"Aku berfikir jika mungkin aku hamil."
Mila tersenyum dan menyuruh Jihan untuk berbaring. Mila lalu memeriksa perut Jihan dan memegang beberapa bagian perutnya.
Dia menempelkan alat dan mulai mendeteksi beberapa bagian perutnya.
"Iya...kau sedang mengandung."
Mila tersenyum dan menyuruh Jihan untuk duduk kembali.
"Aku akan memberimu obat penguat kandungan dan beberapa vitamin." kata Mila dan mulai membuka kotak obatnya.
"Tidak Mila." Jihan mencegahnya.
__ADS_1
Mila terpana dan menatap Jihan. Mila juga bingung kenapa Jihan tidak mau menerima resep darinya.
"Aku tidak ingin melahirkanya?"
Sesaat Mila tersentak dengan keputusan Jihan.
"Itulah alasanku menemuimu. Kau adalah sahabatku. Kau mungkin bisa membantuku. Aku tidak ingin punya anak lagi. Suamiku sudah membuatku sangat menderita dan jika aku punya bayi lagi, maka aku akan lebih menderita. Aku bertahan karena putriku. Dan aku tidak ingin ada putri yang lainya lagi yang akan menambah bebanku." kata Jihan.
Mila menatap Jihan dengan iba dan sedih. Pasti kau sangat tertekan karena suamimu yang suka melakukan kdrt hingga kau tidak ingin melahirkanya.
"Jihan...maafkan aku. Aku hanya bisa membantumu jika kau ingin melahirkanya dan mempertahankannya. Yang kau inginkan untuk membuangnya itu bertentangan dengan sumpahku sebagai seorang dokter." kata Mila dengan sedih karena tidak bisa membantu Jihan.
"Mila...aku mohon...tolonglah kali ini saja. Ini baru awal dan kira-kira baru satu bulan. Pasti kau bisa melakukanya."
"Maafkan aku Jihan, aku tidak bisa melakukanya. Aku sangat menyesal tidak bisa membantumu." kata Mila memegang tangan Jihan.
Tapi Jihan menarik tangannya dari genggaman Mila saat tahu sahabatnya tidak bisa menolongnya.
Jihan lalu pergi dari ruangan Mila.
"Jihan, maafkan aku...." kata Mila saat Jihan beranjak pergi. Tapi Jihan tidak menoleh lagi dan keluar dengan sedih dan kecewa.
Mila terdiam didalam ruanganya, hingga CEO Handoko lewat dan berhenti sejenak dari ruangan Mila dan menatapnya.
CEO lalu masuk dan mengajak Mila keluar. Mila kaget dan tidak bisa menolak keinginan CEO karena dia adalah atasanya.
CEO mengajak Mila pergi kesebuah wahana bermain. Dia berfikir akan menghibur Mila karena dia melihat Mila sedang kalut dan wajahnya terlihat sedang sedih.
Dia memikirkan masalahnya dan belum lama masalah sahabatnya juga mengganggu pikirannya.
"Mila, jangan bersedih seperti itu. Lihatlah mereka semua senang ditempat ini. Dan hanya kau yang terlihat bersedih." kata CEO Handoko.
Ini kali kedua Mila berada ditempat umum, tapi tidak ada yang menatapnya dengan aneh seperti kemarin.
Saat ini mereka hanya melirik dan kadang tersenyum melihat kedekatanya dengan CEO Handoko. Dan semua ini pasti ada kaitannya dengan pengakuan CEO tentang putranya.
Mila lalu tersenyum dan berusaha melupakan masalahnya.
"Kau mau ice cream?" tanya CEO pada Mila.
"Boleh."
"Ayo kita beli disana." kata CEO lalu mengajak Mila makan Ice Cream.
CEO juga sadar jika sejak ada Mila dia melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukanya sebelumnya.
Tadinya hidupnya begitu monoton, kaku dan dingin, dan dia hanya tertarik pada pekerjaan dan proyek-proyek besar.
__ADS_1
Sekarang dia mulai merubah haluanya, dia mulai menikmati hal-hal kecil seperti hanya makan ice cream dan berbicara hal-hal kecil yang tidak pernah terlintas dalam benaknya sebelumnya.