
Begitu melihat Regan dokter Irwan berfikir untuk melihat reaksi Regan dan juga Mila saat bertemu. Dokter Irwan sengaja memesan kursi bersebelahan dengan mereka. Dan saat dokter Irwan duduk bersama Mila, Nadiya menegurnya.
"Dokter Irwan....!" panggil Nadiya sambil tersenyum kearah dokter Irwan. Dokter Irwan lalu menoleh kearah Nadiya dan tersenyum ramah.
"Apa kabar Tante?" sapa balik dokter Irwan.
"Wah, bagaimana kabar kalian? Apakah kalian baru pulang dari bulan madu?" tanya Nadiya yang memang sudah mengenal lama dokter Irwan.
"Iya Tante. Kami belum lama pulang dari bukit dibatas kota." kata Dokter Irwan sengaja ingin melihat reaksi Regan dan juga Mila begitu saat mendengar bukit batas kota.
Regan langsung tersedak begitu mendengar bukit batas kota.
uhuk!
Sementara Mila nafasnya serasa terhenti begitu suaminya menyebut bukit batas kota. Mila tahu persis dan ingat bagaimana pagi harinya dia mendapati Regan berada dikamarnya.
Dokter Irwan sangat menikmati ekspresi aneh dari Mila dan Regan.
"Mila, kau nampak gemukan, apakah kau....." sapa Nadiya lalu dipotong dokter Irwan.
"Mila sedang mengandung," kata Dokter Irwan.
"Waahhh...selamat ya Mila. Semoga kau dan debaynya sehat ya....Tante ikut bahagia mendengar kabar ini." kata Nadiya dan tiba-tiba Regan berpamitan pada maminya untuk pergi lebih dulu.
"Terimakasih Tante....." kata Mila sambil tersenyum. Dokter Irwan kemudian mengelus perut Mila saat Regan menoleh kearahnya.
Regan benci melihat kebersamaan mereka dan terlebih dia tidak bisa melihat Mila ada didepannya.
"Mi, aku pergi dulu. Ada yang tertinggal dikantor...." kata Regan lalu mengangguk pada dokter Irwan dan juga Mila.
Karena Nadiya memang datang lebih dulu maka setelah Regan pergi tidak lama kemudian keluarga Nadiya juga meninggalkan restoran itu.
Mila dan Irwan memesan makanan danereka terdiam sesaat. Ada rasa tidak nyaman, canggung dan berbagai rasa yang tidak bisa diungkapkan.
Karena pada kenyataanya mereka sudah pisah ranjang. Dan yang mereka perlihatkan saat ini hanyalah topeng kehidupan yang bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Makanlah yang banyak, kau sedang hamil," kata Dokter Irwan.
Mila mengangguk dan tetap tertunduk. Dia merasa kadang tidak sanggup menatap mata suaminya dan memilih untuk menundukkan pandangannya.
Tiba-tiba Mila serasa ingin muntah dan mual saat ada bau makanan yang tidak dia sukai.
__ADS_1
Mila segera berlari kebelakang dan Mila cukup lama ada disana.
Mila keluar dari kamar mandi dan dokter Irwan sudah tidak ada disana. Ada secarik kertas diatas meja.
~Mila, maaf, aku pergi dulu, ada pasien yang harus aku tangani dirumah sakit, kau bisa pulang sendiri? jaga diri baik-baik~
Mila lalu menaruh kertas itu hingga selesai. Tidak lama kemudian Regan masuk kembali ke restoran itu karena ada barang belanjaan milik maminya yang tertinggal dibawah meja.
Sudah menjadi kebiasaan maminya untuk menaruh papper bag dibawah meja, dan saat pulang lupa untuk membawanya.
Regan akan masuk dan melihat Mila berdiri sendirian. Regan lalu bersembunyi dibalik dinding dan menatap Mila.
Mila lalu pergi meninggalkan restoran itu dan mencari taksi diluar.
Regan kaget dan bingung saat melihat Mila meninggalkan restoran itu sendirian. Karena tadi dia datang bersama dokter Irwan. Lalu dimana suaminya?
Regan langsung menemui kasir dan dengan cepat mengambil belanjaan maminya yang tertinggal.
Regan lalu mendekati Mila karena entah kenapa tidak ada taksi yang lewat. Ternyata hp Mila lowbat dan tidak bisa digunakan untuk memesan taksi online.
Sedangkan taksi biasa, jarang sekali lewat daerah ini.
Regan masih berdiri tidak jauh dari Mila tanpa sepengetahuan Mila.
Setelah satu jam Mila berdiri dan tidak ada taksi yang lewat, Regan lalu mendekatinya dan akan mengantarkannya hingga pulang.
"Mila....." Mila kaget karena mengenali suara itu, yang tidak lain adalah suara Regan orang yang dulu sangat dia cintai dan sekarang sangat dia benci.
Dialah penyebab tragedi dalam rumah tangganya hingga suaminya tidak mau menyentuhnya setelah Regan mendahuluinya.
Mila memejamkan matanya dan enggan untuk menoleh. Dia hanya berusaha mengatur nafasnya agar kemarahanya tidak meledak saat ini.
"Mila, aku akan mengantarmu jika kau tidak keberatan. Disini jarang sekali ada taksi yang lewat," kata Regan pada Mila.
Mila masih diam saja dan enggan untuk berbicara.
"Mila, kau boleh marah padaku. Tapi biarkan aku mengantarmu pulang kali ini. Kau sedang mengandung bukan? Wajahmu terlihat sangat pucat." kata Regan dan Mila masih memunggunginya. Dia tidak mau melihat wajah Regan yang sudah menyebabkan perubahan pada sikap suaminya.
Mila tetap diam dan tidak menjawabnya.
Regan tidak bisa meninggalkan Mila sendirian seperti ini. Dia masih tetap berdiri tidak jauh dari Mila dan menunggu sampai Mila mendapatkan taksi.
__ADS_1
Tapi taksi tidak ada yang lewat hingga kaki Mila sangat pegal karena berdiri. Rasa ingin muntah dan jualnya semakin hebat saat angin malam menerpanya.
Regan tidak mau menunggu lagi. Dengan cepat dia lalu menyalakan mobilnya dan setelah itu berhenti didepan Mila dan membukakan pintu mobilnya secara otomatis.
Karena merasa sangat lelah, terpaksa Mila masuk meskipun dia tetap enggan berbicara.
Mila mengunci mulutnya sangat rapat dan tidak mau menatap wajah Regan meskipun hanya sekali. Dia sangat membencinya.
Regan menatap lurus kedepan dan sesekali menoleh kearah Mila yang memilih untuk membuang mukanya dan menatap keluar jendela.
"Dimana rumahmu?" tanya Regan dengan pelan.
Mila beruntung selalu mencatat alamat rumahnya pada sebuah kertas. Mila lalu memberikan alamat rumah Irwan pada Regan tanpa berbicara sepatah katapun.
Regan mengambil alamat itu dan menatap wajah Mila.
"Apakah kau bahagia Mila?" tanya Regan tiba-tiba. Karena dia tahu reaksi Mila dan Irwan sangat berbeda, tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu dan makan bersama.
Mila diam saja dan tidak menjawabnya.
"Jika kau bahagia, aku juga ikut bahagia. Tapi jika kau tidak bahagia, maka aku sedih melihatmu tidak bahagia." kata Regan sambil melihat wajah Mila sesekali.
"Jika kau ingin aku bahagia? Lalu kenapa kau merusaknya? Kenapa kau merusak kebahagiaan ku dan datang ketempat kami berbulan madu?!" Mila berkata dengan nada tinggi dan beberapa butir airmatanya jatuh ke pipinya.
"Mila......"
"......"
Regan kaget melihat Mila tiba-tiba menangis dan berteriak penuh kemarahan.
"Seseorang menemuiku dan mengatakan kau sakit. Dia memaksaku untuk datang ketempatmu. Dan saat aku haus lalu minum air dikamarmu. Minuman itu sudah dicampur obat perangsa*g."
"Itu tidak mungkin! Itu hanya alasanmu saja! Aku sangat membencimu Regan! Aku sangat membencimu!" Setelah mengatakan itu, tiba-tiba Mila pingsan dan kebetulan sudah hampir sampai dirumah yang ditulis Mila.
Regan lalu menggendong Mila diruang tamu. Dan ternyata rumah itu tidak dikunci. Mungkin dokter Irwan sudah pulang lebih dulu. Tapi ruangan lantai satu itu kosong, hanya ada bekas dua kaleng minuman disana.
Dan terdengar suara orang berbicara dari lantai dua. Namun hanya samar-samar saja. Regan tidak terlalu bisa mengenali suara itu. Mereka sedang tertawa dan bercanda. Mereka bahkan tidak tahu jika ada mobil masuk kehalaman rumahnya.
Perlahan-lahan Regan menidurkan Mila disofa. Wajah Mila terlihat sedih dan keceriaan yang biasanya tergambar dari wajahnya hilang.
Biasanya wajah ibu yang sedang hamil anak pertama selalu bersinar dan bahagia, namun hal itu tidak terlihat dari wajah Mila.
__ADS_1
Regan yang mengenal Mila sejak masih ABG, sangat tahu perubahan wajahnya. Dan dia tahu jika Mila menyembunyikan sesuatu darinya. Dia seperti sedang tertekan dan cemas terlihat dari aura wajahnya.
Entah apa yang terjadi, Regan juga tidak tahu, karena dia jarang bertemu dengan Mila.