Dipinang CEO

Dipinang CEO
Pertemuan Nadiya dan Mila


__ADS_3

Sore ini Mila pergi menemui sahabatnya untuk meriasnya. Dia adalah Jihan. Setelah tidak tinggal bersama Mila, Jihan yang pandai dalam bidang kecantikan bekerja di salon dengan dengan nama Sanggar Rias.


Kebetulan, Mila memperkenalkan Jihan pada seorang kenalannya.


Dan karena suaminya sudah ada didalam penjara dan tidak bisa memberikan nafkah untuknya, Jihan memilih bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.


"Kau datang untuk dirias?" tanya Jihan menyambut kedatangan sahabatnya.


Mila tersenyum dan mengangguk.


"Kau sendirian?" Jihan mencari seseorang yang mungkin bersama Mila.


"Aku sendirian? Siapa yang kau cari?" tanya Mila sambil melihat kepala sahabatnya yang menengok keluar.


"Dengan siapa kau akan berkencan? Apakah kau mengencani keduanya?" canda Jihan dan cubitan Mila mendarah dipipinya.


"Kau pikir aku seserakah itu? Tebak!? Dengan siapa aku akan pergi ke pesta malam ini?"


"emm, coba aku pikirkan....." ujar Jihan sambil menerawang ke udara.


"Aku tahu!" kata nya mengagetkan Mila hingga Mila sampai berjingkat.


"Hemm..."


"Kau pasti berkencan dengan atasanmu!" ucap Jihan yakin dengan tebakannya.


Ngga mungkin dengan Regan! Mila pasti memilih atasanya. Orangnya baik, dewasa dan dia juga CEO pemilik banyak rumah sakit. Dia berfikir Regan pernah gagal dalam rumah tangga jadi mungkin ada sikapnya yang tidak baik.


Sementara CEO Handoko masih lajang. Seandainya Jihan disuruh memilih, maka dia akan memilih CEO Handoko daripada Regan.


"Kenapa kau memilihnya?"


"Jangan tanya alasanya! Pasti tebakanku tidak meleset bukan?" Kata Jihan memeluk sahabatnya dari belakang saat Mila duduk didepan meja rias.


"Aku akan pergi dengan Regan."


"Apa!?"


"Kenapa kau menolaknya? Dia masih lajang. Sedangkan Regan dia sudah pernah melakukan pernikahan sandiwara? Apakah kau tidak membaca beritanya?"


"Apakah aku masih gadis? Aku juga seorang janda? Kau lupa?"


"Ahh, posisi kalian berbeda. Regan melakukan pernikahan sandiwara dan kau.....itu bukan kesalahanmu."


"Tetap saja. Apapun alasannya gagal dalam rumah tangga. Aku tetap seorang janda bukan? Dan orang tidak pernah berfikir tentang siapa yang paling bersalah dari gagalnya sebuah pernikahan."


Mila menatap mukanya di cermin dan juga menatap sahabatnya, Jihan, melalui cermin didepannya.


"Haha, kau benar. Sebagian orang berfikir sempit dan menganggap wanita paling bersalah. Kurang sabar, kurang bisa menjaga diri, tidak bisa menyenangkan suami dan banyak lagi alasan yang lainnya." kata Jihan sambil menyanggul rambut Mila.


"Apakah dengan Regan semua akan baik-baik saja?" tanya Jihan mulai menyemprot dan menata rambutnya.


"Entahlah. Keluarganya begitu kaya raya dan sangat perfeksionis. Terutama maminya. Dia paling membuatku takut." kata Mila.


"Aku akan membuat kau sangat cantik malam ini." kata Jihan sambil menyelesaikan tiadanya.


"Apakah itu akan membantu?" Tanya Mila yang bingung apa hubungan antara tampil sangat cantik dan disukai oleh calon mertuanya.

__ADS_1


"Tentu saja ada. Kau harus yakin jika kau sangat istimewa. Kau cantik dan kau seorang dokter. Yakinkan mereka dengan kemampuan dan kelebihan yang kau miliki. Jangan menyerah begitu saja. Harus positif thinking! Ok?"


Mila tersenyum dan senang dengan riasan dari sahabatnya.


"Aku juga akan memilihkan baju yang cocok untukmu." kata Jihan.


"Ayo kita keruang ganti!"


Mila dan Jihan lalu berjalan ke ruang ganti dan Mila memakai beberapa baju yang Jihan pilihkan untuknya.


Dia mencoba baju warna Pink.


"Oh God, itu terlalu norak." kata Jihan.


Mila lalu masuk lagi dan mengganti dengan warna abu-abu.


Dia keluar lagi dan Jihan menggelengkan kepalanya.


"hemm, itu terlalu gelap."


Setelah beberapa baju dicoba akhirnya mereka tersenyum saat melihat sebuah gaun yang ada didekat patung.


"Itu mungkin lebih cocok."


Mila mengangguk dan mencobanya.


Mila lalu keluar dengan gaun warna gold muda dan terlihat sangat cantik dipakai olehnya.


"Sempurna!" Kata Jihan dan berjalan mendekati Mila.


Mila tersenyum dan senang akhirnya menemukan baju yang cocok dengannya.


"Kau akan mengantarku?" tanya Mila pada Jihan?


"Bukan aku. Pak Jhon akan mengantarmu. Dia biasa mengantar tamu yang datang sendirian." kata Jihan.


"Baiklah." Mila lalu mengangguk dan pak Jhon mengantar Mila hingga memasuki perumahan yang sangat mewah.


Rumah itu sangat besar dengan kebun yang luas. Parkiran juga sangat luas dan benar-benar terlihat seperti istana sultan.


Begitu melihat Mila turun dari mobil, Regan dengan stelan jas putih seperti pangeran berjalan menyambut Mila.


Mila mengucapkan terima kasih kepada pak Jhon. Dan pak Jhon pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Regan terpana dengan kecantikan Mila dan sangat anggun dengan gaun yang dia pakai. Semua mata mengarah padanya dan memandangnya dengan kagum.


Mereka berfikir bahwa gadis ini adalah calon istri Tuan Regan.


Regan lalu mengajak Mila masuk kedalam dan mengenalkanya pada beberapa sahabat juga temannya.


Sampai tibalah Regan mengenalkanya pada Oma.


Dari jauh Oma tersenyum melihat Regan berjalan dengan Mila. Oma sepertinya tidak keberatan karena baginya Mila adalah gadis yang baik.


Oma hanya mengangguk dan tidak berbicara panjang lebar karena dia akan menemui beberapa saudaranya yang juga datang ke acara keluarga itu.


Nadiya sedang bersama beberapa teman-temannya. Dan salah seorang tanya bertanya tentang wanita yang bersama Regan.

__ADS_1


"Apakah dia calon istri Regan?" tanya seorang teman yang berbaju biru.


"Bukan. Itu temannya."


"Tapi mereka terlihat akrab." Temanya masih tidak puas dengan jawaban Nadiya.


"Aku tidak tahu. Dan aku tidak mengenal gadis itu." kata Nadiya.


Nadiya lalu melirik kearah Mila agak lama dan mereka beradu pandang. Mila tersenyum pada Nadiya dan Nadiya tidak menyambut senyumannya.


"Apakah kau mau bertemu dengan Mami?" Tanya Regan saat dia lihat Maminya sedang asyik bersama teman-temannya.


"Sepertinya tidak sekarang. Ini adalah acara saudaramu."


"Baiklah."


"Ayo, bergabung dengan teman-teman dan keluargaku yang lain!" ajak Regan.


Mila mulai tidak nyaman berada di pesta itu. Dia tidak nyaman karena Nadiya tidak menunjukan sikap kalau dia menyukainya. Nadiya menatapnya dengan sinis dan tajam.


"Aku pergi kesana sebentar." kata Nadiya berpamitan pada temannya.


Saat itu Nadiya melihat Mila sedang sendirian dan Regan tidak ada disana.


Rupanya Mila, karena grogi dia menumpahkan minuman, ke jas yang dipakai Regan. Akhirnya Regan berpamitan untuk membersihkannya. Dan meninggalkan Mila sendirian.


Kesempatan itu digunakan Nadiya untuk berbicara empat mata dengan Mila.


"Dokter Mila!" panggil Nadiya dan Mila menoleh kearahnya.


Hatinya berdebar-debar dan kakinya menjadi seperti kelu untuk berdiri dan berjalan.


"Tante. ..memanggil saya?" tanya Mila dan Nadiya mengangguk.


Mereka lalu berjalan mencari tempat yang agak sepi dan mereka berbicara empat mata.


"Regan sudah bercerita tentang dirimu. Aku tahu dia sangat menyukaimu. Tapi dokter Mila, kau tidak cocok dengan putraku. Kami sudah membaca berita tentang dirimu dan gagalnya pernikahanmu dengan dokter Irwan. Kami tidak suka nama keluarga kami menjadi perbincangan publik."


"Apakah artinya anda tidak merestui kami?"


"Maafkan aku, tapi sepertinya kau tidak pernah cukup untuk putraku."


"Saya juga pernah membaca berita tentang anda. Dan anda juga pernah gagal bukan? Ini adalah pernikahan yang kedua bagi anda? Tapi kenapa anda bersikap merendahkan saya?"


Nadiya meradang dan manik matanya hampir saja meloncat mendengar perkataan Mila yang diluar dugaannya.


"Apa? Kau berani berkata begitu padaku? Kau dan suamiku berbeda. Jika saja kau belum pernah menikah dan tidak ada skandal, mungkin aku akan mempertimbangkanya." kata Nadiya mantap tajam pada dokter Mila.


"Tapi nada anda sangat merendahkan saya. Anda tidak tahu apa yang sudah putra anda lakukan dan apa kesalahannya?" kata Mila lalu pergi meninggalkan Nadiya dengan dengan berlinang airmata.


Bukankah Regan juga mempunyai andil dari gagalnya pernikahanya? Apa yang dilakukan putranya yang terhormat dimalam bulan madunya?


Mila benar-benar terluka, seakan dia tidak berharga dan suka pada skandal atau sebuah gosip.


Nadiya hanya menatapnya dan tidak bergerak dari tempatnya.


Apa yang Mila ucapkan mengingatkanya pada apa yang pernah dia alami di masa lalu.

__ADS_1


Nadiya lalu pergi dari pesta dan pulang ke rumahnya tanpa menunggu Prasetyo dan keluarganya.


__ADS_2