Dipinang CEO

Dipinang CEO
Weni takut CEO memecat suaminya


__ADS_3

Mila pulang diantarkan oleh CEO Handoko dan dirumahnya Regan juga sudah duduk diruang tamu. Hari ini kebetulan CEO turun dari mobilnya dan ingin main kerumah Mila.


Mila kaget saat Regan juga ada disana dan sedang bermain dengan Matthew.


CEO Handoko tersenyum pada Regan, karena dia juga mengenal Regan adalah seorang CEO perhotelan yang terkenal dikota ini.


Mila mempersilahkan CEO Handoko untuk duduk.


"Hai, kalau tidak salah, kau CEO PT Alexander bukan?" sapa CEO Handoko.


"Benar, dan anda adalah CEO rumah sakit Handoko bukan? Semua orang sedang membicarakan apa yang anda lakukan di media." sindir Regan yang tahu jika yang dilakukan oleh CEO Handoko adalah kebohongan.


"Ohh, itu...kau sepertinya juga membaca berita tentang Dokter Mila." kata CEO merasa jika Regan mungkin berusaha mendekati dokter Mila.


"Mila adalah teman kecilku. Kami berteman sudah sangat lama, kami berhubungan baik dan kami sangat akrab." kata Regan mengatakan hal itu supaya CEO mundur sekarang juga.


"Ya, Dokter Mila sepertinya seperti magnet, sehingga siapapun ingin mendekatinya." kata CEO Handoko tidak mau kalah.


"Dia adalah dokter paling populer saat ini. Wajar jika semua orang mengatakan dekat dengannya." kata CEO Handoko melirik pada Regan.


"Hai, apa yang kalian bicarakan? Sepertinya kalian sudah saling mengenal." kata Mila dan membawa minuman untuk mereka berdua.


"Kami sudah saling mengenal tapi kami jarang berbicara." kata CEO Handoko.


Regan menatapnya sekilas dan meminum minuman yang dibawa Mila.


"Ini sangat lezat. Minuman ini benar-benar menyegarkan. Aku ingin terus meminumnya." kata Regan dan CEO Handoko juga mengambil minuman itu dan meminumnya.


"Yang dia katakan benar. Minuman ini sangat luar biasa. Semua yang kau pegang sepertinya menjadi begitu istimewa." kata CEO Handoko tidak mau kalah dari Regan dalam memuji Dokter Mila.


Dokter Mila menatap mereka berdua dengan bingung dan tersenyum.


"Ada apa dengan kalian? Kalian berlebihan, ini minuman biasa dan kalian memujiku seakan ini minuman langka." kata Mila melihat tingkah kedua pria didepannya.


Mereka saling berpandangan dan saling memalingkan mukanya.

__ADS_1


"Aku pulang dulu Mila, dan terima kasih minumannya." kata CEO Handoko.


"Aku juga sepertinya akan pulang, aku ada janji bertemu seseorang." kata Regan lalu berpamitan pada Mila.


Mila menatap kedua pria didepanya dengan terpana.


Begitu sampai dihalaman rumah Mila mereka terlihat berbicara dengan sangat serius.


"Aku akan segera melamarnya, jadi sebaiknya kau menjaga jarak dari Mila." kata CEO Handoko tiba-tiba.


"Hhh, itu bisa terjadi jika Mila setuju menikah denganmu? Karena aku tahu dia pasti akan menolaknya." kata Regan tidak mau kalah.


"Aku bisa melindunginya dan membuatnya merasa nyaman." kata CEO Handoko.


"Kau sedang berbohong pada semua orang. Yang jelas, kau bukan ayah dari anak itu." kata Regan pada CEO Handoko meskipun dia juga tidak bisa mengatakan jika dia adalah ayah dari anak Mila.


"Kau tidak tahu apa-apa, dan sebaiknya kau mencari wanita lain saja. Aku tahu kau baru saja bercerai, artinya kau tidak bisa menjadi suami yang baik. Aku tidak yakin kau bisa menjaga Mila dengan baik." kata CEO Handoko memperingatkan Regan karena dia melihat jika Regan juga berusaha mendekati Mila.


"Kita lihat saja siapa yang bisa memenangkan hatinya." kata Regan menantangnya.


"Hai, kalian belum pulang juga?" kata Mila sambil menggendong Matthew.


"Kami akan segera pulang!" kata mereka bersamaan. Mereka lalu naik mobil masing-masing dan Mila hanya menggelengkan kepalanya.


Inilah yang dia pikirkan karena posisinya yang menjadi bertambah rumit.


Regan dan Handoko sudah pergi, tiba-tiba Weni datang dan tersenyum pada Mila. Dia datang dengan membawakan satu keranjang buah untuknya sebagai buah tangan.


"Weni?" Mila terkejut melihatnya berani datang kerumahnya setelah apa yang dia lakukan.


Benar-benar tidak tahu malu, pikir Mila.


Weni berjalan mendekati Mila dan menyerahkan buah tangan yang dia bawa.


"Masuklah," akhirnya Mila menyuruh Weni masuk kerumahnya.

__ADS_1


"Duduklah...." Mila mempersilahkannya duduk dan Weni menatap bayi yang sedang digendong Mila. Dia terlihat senang dengan bayi itu dan berfikir sebentar lagi dia juga akan mempunyai bayi. Karena saat ini dia sedang mengandung.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Mila saat Weni menatap putranya sangat lama.


"Aku datang untuk melihat keadaanmu. Bagaimanapun kita pernah tinggal satu rumah." kata Weni dan Mila berfikir, jika Weni benar-benar tidak tahu malu dan tidak merasa bersalah telah mengkhianatinya dan membohonginya.


"Kau baik-baik saja bukan? Aku turut prihatin dengan berita miring atas dirimu dan itu bukan kesalahan Irwan. Mama Wandah yang menyebarkan berita itu." Kata Weni membela suaminya.


"Aku tidak peduli dengan berita itu." kata Weni.


"Tapi aku dengar kau akan dilamar oleh CEO Handoko sebentar lagi. Aku ucapkan selamat Mila. Dia lebih baik daripada Irwan, dan kau sangat cocok dengannya. Oh ya Mila, jika kau menjadi istrinya nanti, tolong lupakan apa yang sudah terjadi antara kau dan suamiku. Kau jangan sampai memecatnya....aku mohon padamu...." kata Weni dan sontak saja Mila terpana bertubi-tubi dengan apa yang Weni pikirkan.


Menjadi istri CEO Handoko? Bagaimana dia bisa berfikir sejauh itu?


Akhirnya Mila juga ingin membalas apa yang Weni pernah lakukan padanya. Dia juga akan memberi pelajaran pada Dokter Irwan.


Mila padahal tidak berniat untuk menjadi istri CEO Handoko, tapi dia akan berpura-pura demi bisa memberi pelajaran pada mereka berdua.


"Akan aku pikirkan......" kata Mila tersenyum.


"Jika kau tidak mengalami hal buruk seperti kemarin, mana mungkin kau akan mendapatkan hadiah sebesar ini?" Maksudnya adalah hadiah menjadi istri CEO pemilik banyak rumah sakit yang kaya raya.


"Apa kau bilang? Kau pikir aku suka mengalami kejadian buruk seperti itu?"


Kata Mila dengan nada tinggi dan mulai kesal dengan cara berfikir Weni.


"Jangan marah Mila, aku hanya bicara asal saja. Dan...seperti yang tadi aku katakan, lupakanlah apa yang sudah terjadi antara kita, aku mohon, jangan pecat suamiku...." kata Weni memohon sekali lagi pada Mila.


"Lihat saja nanti. Jika Tante terus bergosip tentang diriku maka bisa saja aku marah dan meminta CEO untuk memecat Irwan." kata Mila.


"Aku janji Mila, aku akan katakan pada mama mertua untuk tidak berkata buruk tentangmu lagi." kata Weni lalu berpamitan pulang.


Mila menahan nafasnya dan membuangnya dengan kasar. Dia kesal sekali dengan Weni dan suami juga mertuanya yang sudah membuat hari-hari nya menjadi buruk.


Dan sekarang dia punya akal untuk memberi mereka pelajaran. Mereka sudah sangat keterlaluan.

__ADS_1


Mila lalu tersenyum dan memanggil bibinya untuk memakan semua buah yang dibawa Weni tadi.


__ADS_2