Dipinang CEO

Dipinang CEO
Canggung


__ADS_3

Dokter Mila sedang memeriksa beberapa pasiennya. Dia terlihat sangat sibuk hari ini, hingga dia tidak sadar sudah tiba jam makan siang.


"Dokter, apakah kita bisa makan siang bersama?" Tanya Dokter Irwan yang sudah menunggu diluar ruangan dari tadi.


Dokter Mila menoleh, dan tersenyum kecil padanya. Ada rasa canggung dan aneh saat harus berkencan dengan sesama dokter apalagi jika dia dulu adalah seniornya.


Namun berharap mendapatkan cinta dari pria uang sudah beristri itu sangatlah menyakitkan. Pernah terlintas dalam hatinya dan berharap jika Regan akan membatalkan pernikahannya, dan suatu saat menjadi jodohnya.


Tapi itu tidak terjadi, mereka sudah menikah enam tahun. Dan tentu mereka sudah semakin dekat setelah satu atap selama enam tahun.


Cintanya yang bertepuk sebelah tangan memang harusnya berhenti dan stop, saat dia tahu orang yang dia inginkan dan cintai diam-diam sudah menikah.


Dan sekarang seorang dokter yang tampan dan populer ada dihadapannya, namun perasaanya masih belum ada untuknya.


Meskipun begitu dia memberi kesempatan kepada Dokter Irwan untuk bisa meminang hatinya.


Dokter Mila mengangguk kecil dan pelan. Dia segera meletakkan alat-alat yang menggantung dilehernya dan meninggalkan ruangan prakteknya.


"Mari....." Kata Dokter Mila yang lalu masuk kemobil dokter Irwan.


"Hati ini kau terlihat sangat sibuk. Aku memperhatikanmu dari tadi."


"Eh, iya, pasien hati ini sangat banyak dari saya belum datang hingga jam makan siang."

__ADS_1


"Mereka akan terus menjadi pasienmu karena kau dokter yang baik dan ramah." Kata Dokter Irwan.


Dokter Mila tersenyum saat Dokter Irwan memujinya. Tapi kenapa hatinya tidak bergetar, kenapa jantungnya tidak berdegup kencang?


Dia tidak merasakan getaran, sebagaimana saat dia bersama Regan.


Tuan nya itu benar-benar masih menggenggam hatinya hingga saat ini. Dan dia sadar, dia harus mengembalikan hatinya ketempatnya semula sebelum benar-benar dia menjadi pelakor, perebut laki orang.


Seberapapun besarnya keinginanya untuk hidup bersamanya, tapi pada kenyataanya dia sekarang adalah suami orang lain.


Julukan pelakor itu sangat menyakitkan dan menjijikan.


"Kok malah melamun?" Tanya dokter Irwan.


"Ohh, maaf, saya hanya sedang berfikir, sebaiknya kita segera kembali kerumah sakit."


Sesaat dokter Mila tersenyum dengan lelucon dokter Irwan.


Tidak lucu memang, jika dia harus menjadi pasien dokter Irwan.


"Nah, begitu dong.....Kau harus makan seperti ini setiap hari."


"Tentu.....hhh" Kata Mila yang sebenarnya dia memang doyan makan.

__ADS_1


Namun karena dua Minggu terakhir dia begitu rame pasien, kadang dia melewatkan jam makan siang dan memilih untuk makan roti saja.


"Mari kita kerumah sakit lagi." Kata Dokter Irwan.


"Mari...."


Sampainya dirumah sakit, Dokter Mila sudah ditunggu oleh beberapa orang pasien dan salah satu yang duduk diruang tunggu adalah Oma dan Catrine.


Dokter Mila tersenyum kepada mereka semua sebelum akhirnya masuk kedalam ruanganya.


Dua pasien telah selesai diperiksa, tidak lama kemudian Oma masuk bersama Catrine.


"Silahkan duduk." kata Dokter Mila.


"Apa keluhannya?" Tanya dokter Mila pada Catrine.


Catrine lalu menatap Omanya dengan kesal karena memaksanya untuk datang kerumah sakit dan periksa pada dokter Mila.


"Katakan padanya apa keluhanmu, siapa tahu dia bisa membantumu." kata Oma pada Catrine.


"Oma keluar dulu saja, jika Oma ada disini saya akan malu mengatakan keluarganya." Kata Catrine.


"Untuk apa kau malu. Kita sama-sama perempuan." Kata Oma.

__ADS_1


"Jika Oma tetap disini saya tidak mau diperiksa." Kata Catrine.


"Ya sudah, Oma akan keluar!" Kata Oma lalu mengambil tasnya dan keluar dari ruangan dokter Mila.


__ADS_2