Dipinang CEO

Dipinang CEO
10 Eps terakhir


__ADS_3

Tidak lama setelah mendapat telepon dari Mila, CEO Handoko segera datang kerumahnya dan Mila sudah berdiri diruang tamu dengan menggendong Matthew.


"Cepat masuk kedalam! Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya CEO Handoko dan langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Aku tidak tahu, hari ini aku pulang terlambat dan dia bersama Bibi. Bibi ketiduran dan dia tiba-tiba badanya panas."


"Kau pulang terlambat?" Tanya CEO yang langsung menebak jika Mila pasti bersama Regan hingga membuatnya pulang terlambat.


"Iya. Dan aku menyesal. Jika saja aku pulang lebih cepat. Maka dia tidak akan sampai seperti ini." Mila terlihat sangat menyesali dan merasa sudah egois karena lalai memperhatikan putranya.


Jatuh cinta membuatnya lupa jika dia adalah seorang ibu yang harus memprioritaskan putranya di atas segalanya.


Entah kenapa dia bisa lupa akan tanggung jawabnya yang utama. Dan begitu percaya jika bibinya pasti bisa menghandel semuanya.


"Sudah jangan sedih begitu. Ayo kita bawa masuk kedalam. Kita sudah sampai."


CEO Handoko lalu turun dan menggendong Matthew keruang UGD.


Matthew langsung mendapat perawatan dari dokter spesialis anak.


Mila menangis dan menunggu diluar. CEO Handoko duduk disebelahnya dan meraih kepala mila dan menyandarkannya di bahunya.


"Tenanglah, dokter sudah merawatnya. Dia akan baik-baik saja."


"Aku benar-benar bukan ibu yang baik. Bagaimana bisa dia sampai seperti itu?" Sesal Mila dengan airmata yang tetap mengalir.


"Kau adalah ibu yang baik. Kejadian seperti ini biasa dialami anak-anak. Mereka terlambat mendapat perawatan saat demamnya sangat tinggi dan membuat kejang."


Kata CEO Handoko yang pernah juga mengenyam pendidikan kedokteran saat muda.


Mila juga sebenarnya tahu, hanya saja saat panik, dia tidak bisa berfikir dengan tenang dan rasa khawatir membuat semua ilmunya seakan menghilang dari ingatannya.


Meskipun dia dokter kandungan, tapi dia juga tahu ilmu kedokteran soal sakit yang mungkin di alami anak-anak.


Tapi rasa panik sebagai seorang ibu, membuatnya lupa jika dia juga seorang dokter.


Dokter mengambil sampel darah dan satu jam kemudian mengatakan jika Matthew terkena demam berdarah.


"Apa?"Mila lalu masuk kedalam dan dia lihat putranya sedang tertidur.


"Maafkan Ibumu ini....yang tidak pandai merawatmu. Maafkan ibu.... sayang...."


CEO mengelus punggung Mila dan memintanya untuk bersabar.


Seharian Mila dan CEO Handoko menunggu Matthew. CEO Handoko lalu pamitan pada Mila karena dia ada urusan penting.


"Baiklah."


"Kau yakin bisa sendirian? Jika tidak, maka aku akan membatalkan pertemuannya."


"Tidak. Pergilah. Aku bisa menjaganya sendiri," kata Mila lalu mengantar CEO sampai dipintu kamar Regan dirawat.


"Terimakasih...." ucap Mila sambil menatap matanya.


"Sama-sama. Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku." pesan CEO Handoko yang sedang dalam mode move on dari cintanya yang tidak bersambut.


Tapi meskipun hatinya terluka, dia tetap selalu berusaha mendukung Mila dan tetap mencintainya, meskipun tidak bisa memiliki hati dan cintanya.


CEO berjalan tanpa menoleh.


CEO Handoko berfikir, Regan pasti akan datang sebentar lagi. Karena hubungan mereka yang sudah mengikrarkan diri sebagai sepasang kekasih di hadapanya.


Tapi kenyataanya, Mila menunggu kabar dari Regan seharian, dan dia tetap tidak bisa di hubungi.


Regan mematikan ponselnya. Mila berfikir jika Regan mungkin sedang pergi keluar kota karena pekerjaan.


Mila berusaha berfikir positif dan menyingkirkan pikiran negatif yang terus mendesak masuk kedalam benaknya.


***


Dikamarnya Regan sedang tiduran dan enggan melakukan aktivitas apapun. Dia juga tidak kekantor hari ini. Dia tidak keluar makan dan tidak melakukan apapun.

__ADS_1


Dia sedang patah hati karena keluarganya yang memupus cintanya pada Mila. Pilihan yang sulit dan membuat hatinya patah dan hancur.


Dia meringkuk didalam selimut tebalnya dengan menyalakan AC paling dingin. Oma yang tidak melihat Regan keluar dari kamarnya seharian menjadi panik.


Apalagi setelah dia tahu ultimatum dari menantunya jika dia harus meninggalkan dokter Mila.


tok tok tok


"Regan, keluarlah! Ini Oma. Makan dulu. Kau tidak akan seharian. Bagaimana jika kau sakit? Apa kau tidak lapar?"


Tidak ada jawaban dari dalam.


Tok tok tok


Agak keras mengetok, ternyata pintunya tidak dikunci. Oma berfikir jika Regan mengunci pintu dari kamarnya.


Oma berjalan mendekat dan mematikan AC yang membuat kamarnya berembun dan lantainya lembab karena terlalu dingin.


Oma lalu menarik selimut Regan, dan Oma kaget saat melihat Regan sedang meringkuk dan meringis kesakitan.


Tubuhnya juga demam. Dia bahkan tidak bisa bangun dan berjalan.


Oma lalu memanggil dokter dan Regan di bawa kerumah sakit di ruang UGD.


Prasetyo saat ini sedang tidak ada dirumah. Dan Nadiya masih beristirahat dikamarnya.


Dirumah sakit, Regan segera mendapatkan perawatan dan dokter mengatakan jika asam lambungnya naik.


"Kenapa bisa terjadi dokter?"


"Itu karena stress tinggi dan dia sepertinya tidak makan apapun."


"Kasihan dia. Dia pasti bingung karena harus memilih." Oma lalu berjalan mendekati Regan yang terbaring sendirian dan tersenyum padanya.


Oma membelai keningnya.


"Kau harus lebih bersabar. Suatu saat ibumu pasti akan mengerti." Kata Oma menasehati.


"Haha, kau pikir aku akan menggendong mu kemari?" Kata Oma bercanda agar membuat Regan tersenyum.


"Para suster yang menggendong mu...." Kata Oma sambil tertawa agar Regan melupakan kesedihannya.


"Ahh, Oma....bikin Regan malu...."


"Makanya jaga kesehatan. Jangan meninggalkan waktu makan, biar kau ngga di gendong suster beramai-ramai."


"Oma....."


Oma tersenyum dan senang melihat Regan akhirnya tersenyum setelah seharian mengurung diri dikamarnya.


***


Mila masih terus gelisah diruangan dimana Matthew dirawat. Akhirnya Matthew mulai membaik setelah diberikan infus dan obat oleh dokter.


Tapi tetap saja Mila tidak bisa meninggalkanya. Mila lalu menghubungi asistenya dan mengatakan jika dia tidak bisa datang kerumah sakit hati ini.


"Dimana kamu Regan? Kenapa kau tidak membalas pesanku?" bisik Mila lirih.


Padahal saat ini Regan berada dirumah sakit yang sama dengan Matthew.


Saat ini Regan juga sedang dirawat dan kamarnya bersebelahan dengan Mila. Namun mereka tidak menyadarinya.


Mila merasakan kehadiran Regan, dan tiba-tiba dia berdiri dan keluar dari ruangan Matthew. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi tidak ada siapapun selain suster yang berjaga dan mondar-mandir.


Saat Mila akan masuk, dia melihat Oma keluar dari sebuah ruangan. Mila lalu mendekati ruangan itu dan berdiri disamping pintu.


Saat dia akan masuk kedalam, tiba-tiba seorang dokter memanggilnya dan menyuruhnya datang ke ruangan dimana Matthew dirawat karena dia bangun dan mencarinya.


"Dokter Mila!" Panggil seorang dokter yang melihatnya berdiri didepan kamar pasien lain.


"Iya dokter!"

__ADS_1


"Putra anda bangun dan sedang mencari anda. Sekarang sedang bersama suster."


"Baik dokter. Saya akan segera kesana."


Mila lalu berjalan dengan cepat keruangan dimana Matthew dirawat.


"Sayang....maafkan ibu ya...." Matthew langsung diam begitu melihat Mila datang.


"Kau sudah bangun?"


"Apakah kau masih merasakan sakit?"


Tanya Mila pada Matthew yang masih belum bisa berbicara.


Dia hanya menatap Mila dan mulai tersenyum saat di ajak berbicara oleh ibunya.


***


Oma pergi kerumah sakit dimana dokter Irwan bekerja. Berkat informasi dari seorang suster, Oma berhasil menemukan ruanganya dan berpura-pura menjadi salah satu pasiennya.


Tiba giliran Oma masuk kedalam untuk diperiksa.


"Silahkan duduk. Apa keluhan yang anda rasakan?" Tanya dokter Irwan kaget saat yang dia layani adalah Oma dari Regan.


Begitu melihat Dokter Irwan, Oma langsung mendekat dan dokter Irwan kaget dengan sikapnya.


Tiba-tiba Oma mengangkat tas kecil yang dia pegang dan memukul punggung dokter Irwan yang sedang duduk.


"Hentikan! Kenapa anda memukul saya?" Dokter Irwan mengira jika pasirnya sedang stress hingga melakukan tindakan diluar dugaan.


"Tunggu Oma. Ada apa? Kenapa anda memukul saya?"


"Kamu sudah menjebak cucuku Regan kan?"


Buk!


"Kurang ajar!"


Buk!


"Ampun Oma! Hentikan! Oma pasti sudah salah paham!" Kata Dokter Irwan sambil mengangkat kedua tangannya dan menghindari serangan dari Oma yang cepat sekali.


"Salah paham kau bilang!?"


"Huh! Rasakan ini!"


Buk!


Buk!


"Mari kita bicarakan baik-baik Oma!"


"Kau membuatku marah dengan apa yang sudah kau lakukan?"


"Oma, hentikan!"


"Cucuku memang menyukai Mila. Buktinya dia diam saja dan sepertinya dia diuntungkan dengan apa yang sudah terjadi."


"Apa kau bilang!?"


Buk!


Akhirnya Oma berhenti karena kelelahan dan tiba-tiba dadanya sakit karena emosi ya g meledak-ledak.


Dokter Irwan cepat memanggil suster dan segera membawa Oma ke UGD untuk dirawat.


Dokter Irwan ketakutan karena dia memegang dadanya. Mungkin Oma terkena serangan jantung karena tidak mampu mengontrol emosinya.


"Saya akan menelpon keluarganya. Saya mengenal mereka." Kata Dokter Irwan dan segera menelpon Prasetyo yang saat ini sedang berada dikantornya.


"Maaf, saya dokter Irwan. Ibu anda dirawat dirumah sakit Handoko. Saya harap anda segera datang."

__ADS_1


"Apa!? Baik, saya akan segera datang." kata Prasetyo dan bergegas kerumah sakit Handoko.


__ADS_2