Dipinang CEO

Dipinang CEO
Hamil anak orang lain


__ADS_3

Wandah pulang dan melihat menantunya Edo sedang mencuci piring. Dia sangat terkejut karena selama Edo dimanjadi menantunya baru kali ini Wandah melihat Edo bersih-bersih didapur.


"Edo, kok kamu yang mencuci piring? Milanya mana?" tanya Wandah sambil matanya menyapu ke sekeliling dan tidak melihat Mila didapur.


"Mila lagi diurut kakinya ma," kata Edo dan menaruh semua piring di rak setelah dia lap dengan lap kering.


"Memang kakinya kenapa sampai harus diurut?" Tanya Wandah bingung, karena saat dia pergi, Mila baik-baik saja.


"Tadi ngga sengaja Mila jatuh didapur. kepleset gitu, karena ada air dilantai."


"Hhhh, ada-ada saja. ya sudah, dimana dia?"


"Diruang tamu ma," kata Edo.


Edo lalu membuat minuman yang akan dia berikan pada tukang urut, dia sengaja ingin melihat Mila, dan dia punya banyak alasan agar bisa melihatnya.


Saat Edo akan masuk, tiba-tiba dihalangi oleh Wandah.


"Apa yang akan kamu lakukan? Adik iparmu lagi urut kok kamu mau main nyelonong aja! Sini biar mama yang taruh." Kata Wandah kaget saat Edo main masuk saja sementara Mila dalam kondisi baju yang tidak sempurna.


"Eh, iya, maaf ma, aku kirain Mila sudah selesai diurutnya." Kata Edo lalu pergi dari sana.


Wandah menelpon Irwan dan bilang kalau kaki Mila terkilir dan tidak bisa ikut acara makan malam diluar.


***


Malam harinya Irwan pulang dan sudah janji akan makan malam dengan seluruh keluarganya.


Tapi Mila tiba-tiba terkilir dan dia memilih untuk tidak ikut pergi makan malam.


"Kalian saja yang pergi, saya dirumah saja," kata Mila.


"Tapi gimana ya....." kata Irwan bimbang.


"Iya Irwan. Ayo kita berangkat, nanti kita bawa pulang untuk Mila," kata Wandah.


"Tapi, masa Mila dirumah sendirian...." Kikan keberatan dan tidak tega meninggalkan Mila sendirian dirumah.


"Kita akan pulang lebih cepat," kata Irwan.


"Baiklah, kita berangkat dulu ya Mila...." kata Kikan lalu keluar dari kamar Mila.


Edo melihat Mila dengan menatapnya lama dan ingin rasanya dia tidak ikut pergi.


Tapi, dia tidak berani mengatakannya.


***

__ADS_1


Direstoran


Saat mereka sedang asyik menikmati makan malam tanpa Mila, tiba-tiba Regan juga datang dan memesan makanan tidak jauh dari mereka.


Regan melihat mereka dan mencari sosok Mila. Regan berfikir jika Mila sedang berada di toilet, tapi setelah makananya habis, dia tidak kunjung melihat Mila.


Dan diapun bertanya-tanya kenapa Mila tidak ikut makan malam bersama keluarga besar Irwan.


Saat ini Regan sedang berada diluar kota dan kebetulan satu kita dengan Wandah. Namun Regan tidak tahu dimana rumah Wandah.


Regan akhirnya menelpon seseorang untuk mengikuti mobil Wandah saat mereka sudah selesai makan malam dan memberitahukan alamatnya.


"Nick, hati-hati, jangan sampai ketahuan," kata Regan.


"Iya Tuan....."


Regan lalu memencet nomor Mila dan terdengar suara dari teleponnya.


Regan ingin mengatakan sesuatu dan dia tidak mampu berbicara dan menanyakan kabar Mila setalah apa yang terjadi dimalam itu.


Mila menunggu suara dari penelepon, karena telepon menyala tapi tidak ada suara siapapun, Mila menutupnya.


"Siapa yang menelepon?"


"Kenapa dia tidak mengatakan apapun?"


Mila sedang berfikir dan terdengar keluarganya sudah pulang.


"Mila, ini...makanlah....tanpa kau ikut, makan malam terasa tidak enak," kata Kikan.


Mila tersenyum dan menatap kakak iparnya dengan lembut. Dia sangat baik, hanya itu yang terlintas dalam pikiran Mila.


"Kau makanlah, aku akan menidurkan anak-anak..." kata Kinan.


Irwan lalu masuk dan tersenyum pada Mila. Setelah itu Irwan mandi dan mendekati Mila lalu mencium keningnya.


"Kau pasti bosan seharian disini," kata Irwan.


Mila mengangguk dan tersenyum lalu memegang tangan dokter Irwan.


"Aku tidak mengerti, kenapa selalu ada saja yang terjadi." kata Mila yang hingga satu minggu mereka tidak berhubungan sama sekali.


Dan dokter Irwan nampaknya tidak keberatan dengan semua itu. Mila memuji kesabaran dokter Irwan dalam hati.


Suami lain, mungkin tidak akan sesabar dokter Irwan. Mila bersandar di bahu dokter Irwan dan berharap agar kakinya lekas sembuh.


Harusnya besok dia sudah bekerja setelah cuti lama. Namun karena kakinya sakit diapun meminta izin lagi untuk dua hari kedepan.

__ADS_1


***


Satu bulan kemudian,


Mila sedang dirumah sakit dan memeriksa pasiennya. Tiba-tiba, dia merasakan mual dan rasa ingin muntah. Mila pun berlari ke toilet.


Tidak lam kemudian dia keluar dan sebagai seorang dokter, dia tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya.


Awal kehamilan....


Apakah jangan-jangan dia hamil?


Satu bulan ini dia belum berhubungan sama sekali dengan dokter Irwan. Jika bukan Mila yang sakit, maka dokter Irwan yang sakit, lalu tugas keluar kota, dan selalu ada saja yang membuat mereka tidak bisa menikmati satu malam tanpa masalah.


Mila mulai khawatir dan kali ini dia sudah tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Bagaimana tidak? Suaminya belum menyentuhnya dan dia sudah hamil?


Mila lalu pulang dengan langkah gontai dan berfikir untuk mencari jalan keluarnya.


Perutnya akan semakin membesar. Dia bisa menipu semua orang, tapi bisakah dia menipu suaminya sendiri? Jika suaminya merasa belum melakukanya, lalu kenapa dia bisa hamil?


Mila memejamkan matanya dan airmatanya mengalir.


Dia tahu akibat dari kehamilanya adalah dia akan kehilangan segalanya. Dan jika harus menggugurkannya...dia adalah seorang dokter, tugasnya menyelamatkan setiap jiwa, bukan malah membunuhnya....


Mila benar-benar berada dalam dilema.


Saat duduk melamun, dokter Irwan pulang dengan membawa makanan kesukaannya. Dan ternyata makanan itu mempunyai bau yang sangat menyengat.


Mila langsung berelasi dengan rasa mual yang tidak mau berhenti. Hingga akhirnya Mila pingsan dan dokter Irwan membawanya kerumah sakit.


Mila diperiksa dan seluruh keluarga dokter Irwan ada diruangan itu menatapnya dengan tajam.


"Irwan...apa yang terjadi?"


Irwan diam sejenak dan mengatakan yang sebenarnya. Karena memang ini sudah direncanakan dan dia senang saat rencananya menjadi kenyataan.


"Kau hamil...." Mendengar hal itu airmata Mila langsung mengalir deras.


Jadi suaminya sekarang sudah tahu jika aku hamil?


"Tapi....bagaiamana kau bisa hamil? Kita belum berhubungan sama sekali." Kata dokter Irwan didepan keluarganya. Saat itu juga Mila benar-benar merasa hancur dan tidak berharga sama sekali.


Kikan lalu menginjak kaki Irwan.


"Kau jangan berbicara seperti itu Irwan! Kau sangat keterlaluan," kata Kikan dan sedih menatap Mila yang terlihat sangat terpukul.


"Harusnya kau senang Mila hamil, berarti kau akan menjadi seorang ayah..." kata Edo yang berdiri didekat Irwan.

__ADS_1


"Tapi itu bukan anakku. Aku belum menyentuhnya sama sekali...." kata Irwan pura-pura terpukul.


"Sudah! sudah! Nanti kita bicarakan dirumah saja. Sekarang bantu Mila bangun dan kita pulang," kata Wandah dan Edo membantu Mila bangun dan memapahnya. Sementara Irwan masih berpura-pura shock dan seakan tidak bisa menerima kenyataan ini.


__ADS_2