Dipinang CEO

Dipinang CEO
Bertemu direstoran dengan Regan


__ADS_3

Mila sampai dirumah sakit lalu bertemu dengan CEO yang sudah menunggunya. Mila memegang gagang pintu dan diam sejenak. Lalu dia membuka pintunya perlahan dan CEO tersenyum padanya.


"Hai Mila, akhirnya kau datang juga. Duduklah disini," kata CEO dengan ramah.


"Siang pak, saya...."


"Aku tidak tahu alasanmu yang tiba-tiba mengundurkan diri seperti ini. Tapi jika kau ingin bekerja dirumah sakit ini kembali, pintu kami terbuka lebar untukmu," kata CEO.


"Terimakasih pak." kata Mila lalu mengambil berkas yang sudah disiapkan.


"Kau bisa memilih rumah sakit mana yang kau sukai dengan ini," kata CEO sambil menunjukan sebuah berkas pada Mila.


"Terimakasih pak. Saya permisi..." kata Mila lalu berpamitan.


CEO menatap Mila dan tersenyum ramah padanya. Dalam hati dia sebenarnya sangat sedih dan kecewa karena Mila sekarang tidak bekerja lagi diperusahaanya. Tapi rumah sakit miliknya senantiasa terbuka lebar bilamana Mila akan masuk kembali dan bekerja seperti dulu.


"Rumah sakit ini selalu terbuka untukmu jika kau ingin masuk kembali," kata CEO.


Mila mengangguk lalu pergi.


Sampai didepan pintu dia bertemu dengan dokter Irwan.


"Masuklah ke ruanganku. Kita akan pulang bersama," kata Dokter Irwan lalu mengajak Mila keruanganya.


Mila masuk dan duduk disofa. Di meja kerja dokter Irwan, nampak foto Mila dan Dokter Irwan sedang tertawa bersama.


Mila menatap foto itu sangat lama. Dan dalam hati dia berbisik jika senyuman seperti dalam foto itu mustahil bisa terulang kembali.


Dokter Irwan nampak melihat apa yang Mila juga lihat. Sebuah figura bergambarkan wajah mereka yang tersenyum bahagia. Foto itu diambil saat dokter Irwan belum tahu siapa sebenarnya Sharmila.

__ADS_1


Dokter Irwan lalu duduk didekat Mila dan memberikan sebuah minuman dingin padanya.


"Minumlah..." kata Dokter Irwan sembari memberikan minuman pada Mila.


"Aku tidak minum air dingin. Aku mual. Jadi aku minum air hangat."


"Ooohhh iya, aku hampir lupa jika kau sedang hamil. Sorry...aku benar-benar tidak ingat." kata Dokter Irwan lalu minum untuk dirinya sendiri.


"Tunggulah disini. Satu jam lagi aku akan kembali dan kita akan pulang."


Mila mengangguk dengan canggung. Setiap kali mendengar dokter Irwan menyebut dirinya hamil, entah kenapa hatinya seperti terbelah dan terluka.


Mungkin karena dibalik kehamilanya, sebuah tragedi membuat luka dan jurang pemisah diantara mereka.


Dokter Irwan lalu keluar dan Mila sendirian diruangan dokter Irwan.


Dan kini semuanya sudah musnah. Semuanya tidak akan kembali seperti dulu. Mereka akan seperti orang asing yang tinggal satu rumah dan bernaung diatap yang sama sebagai suami istri.


Tapi itu hanyalah catatan dan ikatan diatas kertas. Semuanya hanya topeng demi bayi yang akan dia lahirlah nanti.


Dokter Mila menaruh figura itu dan duduk kembali.


Dreeettt!


"Mila, aku Jihan, aku mendapatkan nomor kamu dari Regan. Bisakah kita bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan," kata Jihan pada Mila.


"Tentu. Kapan kita akan bertemu?" tanya Mila.


"Besok. Di restoran YUMMY," kata Jihan.

__ADS_1


"Ok. Jam makan siang ya?" kata Mila dan setelah Jihan bilang Ok, seperti terdengar suara seseorang dan Jihan tiba-tiba menutup teleponnya.


Dokter Irwan masuk dan mengajak Mila pulang sekarang. Mereka lalu naik kemobil dokter Irwan dan tidak ada suara, kesunyian membuat Mila serba salah.


"Mila, kenapa kau mengundurkan diri dari rumah sakit ini?" tanya dokter Irwan.


"Karena ... aku akan bekerja dirumah sakit yang lebih dekat saja. Suatu saat aku mungkin akan sangat kerepotan jika jaraknya terlalu jauh."


Dokter Irwan nampak mengangguk dan menatap lurus kedepan.


"Kenapa kau tidak tanya padaku. Aku adalah suamimu..." kata Dokter Irwan.


"Maafkan aku...." kata Mila yang serba salah saat dokter Irwan mengatakan 'aku adalah suamimu' sedangkan mereka sudah pisah ranjang.


"Aku pikir kau tidak keberatan dengan surat pengunduran diriku bukan?" kata Mila menatap dokter Irwan.


"Sebenarnya aku lebih senang kita bekerja dirumah sakit yang sama. Tapi, jika kau ingin bekerja ditempat lain, ya sudah ngga papa," kata Dokter Irwan.


Emosi yang dia perlihatkan benar-benar membingungkan bagi Mila. Sikapnya yang sulit ditebak juga sangat membingungkan.


Mila hanya diam saja dengan pengakuan suaminya.


"Maafkan aku, karena tidak berbicara padamu saat membuat keputusan ini," kata Mila.


"Ya sudahlah, semuanya sudah terlanjur dan kau juga sudah mengundurkan diri.Oh ya, apa kau sudah makan?" tanya dokter Irwan.


Mila menggelengkan kepalanya dan dokter Irwan menghentikan mobilnya disebuah restoran.


Saat Mila masuk kedalam, ternyata ada Regan dan keluarganya sedang makan malam disana. Dan ini kesempatan bagi dokter Irwan untuk melihat reaksi Mila saat bertemu dengan Regan, yang sebenarnya ini adalah suatu kebetulan.

__ADS_1


__ADS_2