
Teng! Teng! Teng!
Teng! Teng! Teng!
Semua murid berebutan untuk keluar paling cepat, karena mereka ingin mendapatkan angkutan yang sudah ngetime didepan gerbang. Karena jika angkot itu sudah penuh maka terpaksa harus menunggu yang berikutnya. Sehingga mereka berebut untuk mendapatkan yang pertama dan cepat sampai dirumah.
"Mila! Pulang bareng yuk! Jihan kan udah pulang duluan tadi. Daripada kamu sendirian." Kata Edo berjalan di sampingku.
"Tempat kerjaku jauh dari sini. Lebih baik aku naik angkot saja."
"Ayolah Mila...kenapa sih kamu sepertinya menghindar dari aku?"
"Ngga lah! Tiap hari kita ketemu. Menghindar apaan?"
"Yah buktinya, kamu ngga mau aku anterin. Padahal kan saat ini ngga ada Jihan, dan kamu pulang sendirian. Alasan apa lagi coba?" Kata Edo sambil menggendong ranselnya.
"Edo anterin aku aja yuk!" Kata Maria yang memang sudah lama menaruh hati pada Edo. Namun Edo sepertinya tidak merespon perasaanya. Namun Maria tetap pada pendiriannya, tidak pernah lelah untuk terus mendekati Edo dan mencari perhatianya.
"Ngga ah! aku mau langsung pulang!" Kata Edo sambil memasukan kedua tangannya disaku celana panjangnya.
"Tadi aku dengar kamu bisa anterin Mila. Iya kan Mil?" Kata Maria sambil menanti aku menganggukkan kepala.
"Ehk aku duluan ya...kalian bicara saja. Aku buru-buru...." Ini adalah kesempatanku untuk lari dari rayuan Edo. Dan aku langsung berjalan dengan langkah tercepat dan terpanjang tanpa menoleh kebelakang.
Dan karena buru-buru berjalan dan sudah sampai di gerbang sekolah aku menabrak seseorang.
"Mila!" Tuan Regan kemudian memegang bahuku. Aku menoleh keatas dan melihat wajah orang yang sepertinya aku kenal.
"Tuan...." Aku kaget karena ternyata yang aku tabrak adalah Tuan Regan.
"Kenapa kamu jalannya kayak dikejar Megatron?"
"Oh, eh saya ...sedang buru-buru tuan. Takut terlambat pulang kerumah. Karena saya kan harus naik angkot. Tuan mau jemput Edsel dan Eiden ya?"
"Ngga! Mereka sudah pulang dari tadi. Aku kesini mau jemput kamu." Kata Tuan Regan yang tersenyum kepada beberapa teman-teman ku yang melihatku dan mulai berbisik-bisik membicarakan kami.
Apalagi kalau bukan tentang pangeran tampan dan kaya raya. Dan si itik buruk rupa yang miskin dan teraniaya. Hihihi....hiperbola banget ya. Dan sangat ironi.
"Ihhh Si Mila dijemput siapa tuh?" Aku mendengar mereka mulai berbisik-bisik.
"Ahk palingan juga seperti para selebram itu?"
"Maksudmu?"
"Yaa...lu tau sendirilah, apa yang diinginkan orang kaya dari seorang perempuan yang sedang menjual.....ops!" Mereka kemudian tertawa cekikikan.
Aku akan mendekat dan menampar mulut mereka yang selalu saja mencari sisi buruk dan negatif dari diriku. Hanya karena aku masuk melalui beasiswa tanpa biaya mereka seenaknya menghina. Setiap saat selalu mencari masalah denganku. Aku bisa masuk sekolah favorit tanpa biaya sepeserpun, dan tentu saja berbeda dengan mereka yang orang tuanya tajir dan mumpuni.
__ADS_1
Namun akhirnya aku menarik nafas panjang tiga kali dan mengurungkan niatku. Aku adalah murid teladan dengan beasiswa. Dan sedikit saja kesalahanku, maka bukan mereka yang rugi, namun akulah yang bisa kehilangan bea siswa itu. Siapa yang akan membela dan mempercayaiku?
Sedangkan mereka, jika terkena masalah dan bolos sekolah lalu orang tuanya dipanggil dan setelah melihat status dan pangkatnya, maka semua masalah terselesaikan dan menjadi baik-baik saja seakan tidak terjadi masalah apa-apa.
Lebih baik aku tidak berurusan dengan mereka. Ada yang lebih penting daripada berurusan dengan mereka, yaitu masa depanku.
"Mila, ayo masuk." Akupun masuk kedalam mobil Ferarry merah itu. Dan mataku sempat berpapasan dengan mata Edo yang baru saja akan mendekat ke gerbang sekolah.
Edo berjalan semakin cepat, aku juga tidak ingin Tuan Regan terkena masalah. Maka aku pun dengan cepat langsung masuk kedalam mobil.
Mobil itu melesat dengan sangat cepat, menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya.
Dan tiba-tiba Tuan Regan berhenti di restoran. Dan langsung turun dan membukakan pintu untukku.
"Ayo Mila...turunlah." Aku masih kaget dan cepat-cepat melepas seatbeltnya. Malangnya seatbelt malah sulit sekali aku lepaskan. Sudah ku coba berulangkali tapi sepertinya nyangkut, entah nyangkut apaan. Mungkin karena terburu-buru sehingga malah sulit aku lepaskan.
"Bisa ngga?" Kata Tuan Regan semakin mendekat dan sangat dekat berdiri di sampingku. Sekarang badanya menyentuh pangkuanku. Rambutnya wangi sekali tepat berada diwajahku. Badannya juga sangat harum, entah pakai minyak wangi apaan, kepalaku jadi pusing karena terpesona. Ya Tuhan....lama sekali dia berada didepanku dan nafasnya juga bahkan terdengar jelas ditelingaku.
"Sudah! Ayo turun."
"Eh...iya.." Aku kaget karena tiba-tiba Tuan Regan sudah membalikan wajahnya dan tepat menatapku. Aku menjadi gugup dan salah tingkah. Aku selalu saja berfikir dan berkhayal yang tidak-tidak, menyebalkan sekali! Ingat Mila, dia adalah majikan dan jangan berfikir yang berlebihan tentang dirinya.
Akupun turun dan berjalan dibelakang Tuan Regan. Tuan Regan kemudian duduk dan memesan makanan.
"Mila kamu mau pesan apa?"
"Baiklah...." Kata Tuan Regan. Kemudian Tuan Regan memesan makanan dan aku menaikkan bahuku dengan perasaan yang tidak nyaman.
"Tuan...Apakah tidak sebaiknya kita langsung pulang. Bukankah saya harus menjaga kedua adik Tuan Regan?"
"Ohh, mereka sedang pergi keluar bersama Oma, pulangnya bisa sampai malam."
"Ohh...."
Makanan sudah datang dan air liurku langsung membanjiri mulutku, tidak sabar untuk menyantap makanan yang lezat ini.
Tapi....gimana cara makanya? Adanya cuma pisau dan garpu.
"Ayo Mila makan...." Tuan Regan kemudian
memotong satu suapan, meletakkan pisau di tepi piring (mata pisau ke arah jam 12 dan pegangan pada arah jam 3) dan memindahkan garpu dari tangan kiri ke tangan kanan. Membalikkan sehingga gigi garpu melengkung ke atas dan Tuan Regan mulai menyantap makanannya.
Oooo...begitu caranya.
Kreeek!!!
Pisauku malah terkena piring dan bunyinya mengiris telingaku.
__ADS_1
Aduh sudah sekali ya.
Trang!!!
Pusauku malah melesat dan terkena gelas minuman. Aku terlalu bertenaga dalam mengirisnya.
Aku terbengong.
"Mbak minta pisau satu lagi." Kata Tuan Regan sambil tersenyum.
Malunya aku. Wajahku pasti langsung merah seperti jantung pisang.
"Ini Tuan."
"Terimakasih mbak." Kata Tuan Regan sambil mengambil pisau itu dan menyerahkannya padaku.
"Seperti ini Mila caranya." Kata Tuan Regan sambil mengajari cara memakainya.
"Lain kali saya tidak mau
makan seperti ini, Tuan. Soalnya saya belum pernah. Bagaimana kalau pisau tadi melesat dan terkena Tuan, saya malah bisa masuk penjara."
"Ngga lah. Nanti kamu akan terbiasa. Ayo dimakan. Sudah aku potong-potong dagingnya."
Kata Tuan Regan dan memberikan garpunya kepadaku. Aku tidak berani menatap wajahnya karena malu dan merasa bodoh sekali.
Nafsu makanku jadi hilang.
Aku kemudian mengambil sepotong daging dan memakanya. Enyam! Nyam! Ternyata rasanya enak sekali. Nafsu makanku pun kembali lagi setelah mencicipinya.
Aku langsung menghabiskannya dalam sekejap.
"Wah ternyata enak sekali. Daannn...aku menang!" Aku tersenyum bangga karena aku bahkan makan lebih cepat dari Tuan Regan.
Tuan Regan menatap ku dan tertawa melihatku.
Hahaha
"Mila, nambah lagi ya?" Kata Tuan Regan yang melihatku sudah kembali ceria.
"Ngga Tuan. Saya sudah kenyang."
"Cobalah ini Mila...ini berbeda dari punyamu."
"Benarkah?"
Tuan Regan mengangguk, kemudian menyuapkanya untukku. Dan saat aku membuka mulutku tiba-tiba tangan seseorang menghentikan dan memegang tangan Tuan Regan yang sedang mengangkat garpu dan tepat didepan mulutku.
__ADS_1