
Dengan wajah yang semakin pucat Bi Eka segera menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Bi Eka khawatir
"Anak ibu baik-baik saja. Beruntung irisan pada pergelangan tangannya tidak terlalu dalam sehingga hanya menyebabkan luka kecil pada pembuluh darah venanya" jawab Dokter
"Hanya saja, kondisi janin di tubuhnya begitu lemah. Hal ini bisa dipicu oleh kondisi mental anak ibu yang sedikit terguncang. Saya sarankan untuk terus mengawasi dan menjaga pola makannya dan juga jangan biarkan dia bersedih atau terlalu banyak tekanan karena janin pada rahimnya baru memasuki minggu ke dua"
"Anak saya hamil dok?" Tanya Bi Eka kaget dan memastikan kembali pendengarannya
"Benar Bu. Anak Ibu hamil dan sudah memasuki minggu ke dua" Jawab dokter tersebut sebelum pamit pergi meninggalkan Bi Eka yang masih dalam keadaan terkejut.
Kakinya terasa lemah, membuat Bi Eka terjatuh ke lantai. Bulir-bulir air matanya pun perlahan keluar. Tangannya naik membungkam mulutnya berusaha menahan dirinya untuk tidak berteriak.
Pikirannya kacau. Hatinya seolah tertusuk. Satu-satunya putri kesayangannya kini terbaring tidak berdaya di rumah sakit dan dalam keadaan hamil.
Bi Eka kembali mengingat kejadian saat dirinya pulang dari pasar dan mendapati bercak merah di kasur putrinya. Dimana setelah kejadian itu, sifat putrinya perlahan berubah tidak seperti biasanya.
Dengan tubuh yang sedikit bergetar karena menangis, Bi Eka berdiri dan melangkah masuk ke ruangan tempat anaknya berada.
Putri kesayangannya yang dulu sering tertawa dan bercanda riang bersamanya kini terbaring tidak berdaya di hadapanya. Wajahnya terlihat begitu pucat. Pergelangan tangannya di perban dan mengenakan selang imfus.
Bi Eka menghampiri anaknya, menggenggam erat tangannya dengan air mata yang masih mengalir begitu deras.
"Apa yang terjadi nak.. " ujar Bi Eka menangis menundukkan wajahnya ke arah lantai dengan tangan yang masih menggenggam tangan putrinya
Tak berselang lama tangan Siti sedikit bergerak "Bu.." panggil Siti tiba-tiba sadar dan mendapati Ibunya dalam keadaan menangis di hadapannya
"Siti... kamu bangun nak. Kamu bangun.. hika..hiks.." Ujar Bi Eka memegang wajah anaknya seolah tidak percaya
"Buu.. hikss..hikss.." panggil Siti kemudian menangis
Bi Eka dengan sigap meraih tubuh anaknya, membawanya kedalam pelukannya. Selama beberapa saat, keduanya hanya menangis tanpa sepatah kata apa pun yang keluar dari mulut keduanya.
__ADS_1
Setelah dirasa Siti terdiam, Bi Eka melepas pelukannya dan menggenggam tangan putrinya seolah menginginkan penjelasan.
"Kamu hamil" Ujar Bi Eka memulai pembicaraan yang entah apakah anaknya sudah tahu atau tidak terkait kehamilannya yang masih sangat muda
"Aku ha..mil bu?" kaget Siti tertegun, kedua matanya bergetar mendengar perkataan Ibunya barusan
"Siapa? Katakan padaku siapa yang membuatmu seperti ini?" Tanya Bi Eka putus asa
Siti kembali menangis, kedua tangannya naik menutupi wajahnya.
"Katakan pada Ibu, Siti! Siapa? Siapa pria itu?" Tanya Bi Eka sedikit mengguncang tangan Siti
"Leon.." lirih Siti masih dengan tangisannya
"Leon.?" Bi Eka tertegun. Anak yang selama ini dirawatnya dari sejak kecil dengan tega menodai kesucian anak kandung satu-satunya "Kurang ajar, bahkan setelah semua yang aku lakukan untuk keluarga mereka" geram Bi Eka mengepalkan kedua tangannya "istirahat lah" pinta Bi Eka membaringkan putrinya
"Ibu mau kemana?"
"Tidak perlu khawatir. Sekarang kamu istirahat saja disini" Jawab Bi Eka kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan amarah di kedua matanya meninggalkan putrinya yang masih dalam keadaan sesunggukan karena menangis.
Sesampainya di rumah, Bi Eka segera berjalan menuju ke kamar Leon dalam keadaan kesal dan emosi. Sesampainya di depan kamar Leon, Bi Eka mendorong paksa pintu kamar Leon hingga terbanting keras di dinding.
Sementara Leon yang sedari tadi berbaring sembari memainkan ponselnya, sontak melonjak kaget karena bantingan tersebut.
Dengan segera Bi Eka berjalan menuju ke arah Leon yang masih terkejut. Tangannya naik melayangkan sebuah tamparan di pipi Leon.
"Bi.." bentak Leon memegangi pipinya yang terasa berdenyut karena tamparan keras itu
"Diam.." Ujar Bi Eka dengan sorot mata tajam ke arah Leon dengan tangan menunjuk tepat di wajahnya "Tega sekali kamu berbuat seperti itu pada anak saya. Kamu tahu, anak saya saat ini terbaring di rumah sakit karena mencoba bunuh diri"
"Jadi?" Tanya Leon tanpa rasa bersalah sedikit pun
"Kamu bilang jadi? Anak saya hamil" teriak Bi Eka membuat Leon tertegun tidak percaya
__ADS_1
"Hamil?" Sanggah Ibu Leon yang tiba-tiba muncul dari arah pintu kamar kemudian menghampiri keduanya "siapa yang hamil?"
"Anak saya hamil, karena di perko** anak Nyonya" tekan Bi Eka masih dengan tatapan tajamnya
"Benar itu Leon?" Tanya Ibu Leon perlahan emosi
"I..itu aku bisa jelasin Ma" jawab Leon gugup namun terhenti karena saat ini jari ibunya berada tepat di depan matanya
"Aku sudah peringatkan padamu terakhir kali, berhenti bertingkah sembarangan" bentak Ibu Leon
"Ma.. Leon salah Ma" ujar Leon memohon dan berlutut di hadapan Ibunya dengan tangan yang disatukan "Dia.. dia yang merayu Leon, ini bukan kesalahan Leon seluruhnya" ujarnya kembali mencari alasan
"Diam" Bentak Bi Eka "Jika anak Nyonya tidak mempertanggungjawabkan kesalahannya jangan salahkan saya jika masalah ini sampai di meja pengadilan" Tekan Bi Eka kemudian pergi meninggalkan keduanya
"Ma.." panggil Leon pelan "Leon harus bagaimana Ma?" Tangis Leon masih dalam keadaan berlutut
"Dasar anak bodoh" bentak Ibu Leon menghentakkan kakinya membuat Leon tersentak ke samping diikuti oleh Ibu Leon yang langsung beranjak dari tempat karena emosi dan tak sanggup menatap anak bodohnya itu
Tangan Leon mengepal dan tanpa berfikir panjang segera mengambil kunci mobilnya.
Tujuannya saat ini hanya satu yang tak lain adalah rumah sakit. Leon menginjak pedal gas mobilnya dan melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit.
Tak berselang lama, Leon tiba di rumah sakit dan segera menuju ke ruangan tempat Siti dirawat setelah bertanya pada resepsionis.
Dengan wajah kesalnya, Leon masuk ke dalam kamar menampakkan Siti yang saat ini masih terbaring lemah dengan wajah yang pucat.
"Le..on" Ujar Siti saat tangan Leon memegang erat tangannya "a..pa yang ingin ka..mu lakukan?" Tanya Siti takut dengan tubuh yang perlahan mulai bergetar
"Gugurin kandungan kamu" ujar Leon dengan sorot mata yang tajam membuat Siti semakin takut
"Tidak akan" Bantah Siti memberanikan diri meski dengan tubuh yang masih bergetar
"Gugurin aku bilang" bentak Leon semakin mengeratkan pegangannya
__ADS_1
"Sakit Leon, lepasin tangan aku" pinta Siti berusaha melepas tangannya
"Ingat yah, aku nggak akan pernah ngakuin anak ini apalagi mempertanggungjawabkannya. Kamu tahu kan sifat aku seperti apa" ancam Leon kemudian menghempaskan tangan Siti dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu tidak perduli dengan Siti yang kini mulai menangis dan kesakitan.