
Devi yang tangannya ditarik oleh Lisa segera menghempaskan tangannya saat keduanya tiba di Koridor yang terlihat sepi.
"Lepas" Pinta Devi sedikit kasar kemudian meraba bekas pegangan Lisa pada tangannya
"Maksud kamu apa?" Tanya Lisa kemudian
"Aku nggak ada maksud apa-apa, justru kamu yang kenapa? Bukannya kamu sudah janji akan menjauh dari Keyrani" Tekan Devi melotot pada Lisa
"Aku bukannya sudah bilang, Aku nggak butuh bantuan kamu lagi. Dan uang yang aku pinjam kemarin, akan aku lunasi secepatnya" Balas Lisa geram
"Memang nya kamu mampu bayar?" Tanya Devi dengan nada meremehkan
"Apa maksud kamu?" Tanya Keyrani menghampiri keduanya karena mendengar percakapan keduanya
"Key" Lirih Lisa kaget karena ternyata Keyrani mendengar percakapan keduanya
"Jelasin sama aku, maksud kamu apa?" Tanya Keyrani dengan nada suara yang sedikit ditinggikan pada Devi
"Dia punya hutang sama Aku" Jawab Devi santai sembari menunjuk ke arah Lisa yang kini hanya menunduk tak sanggup menatap sahabatnya
"Hutang?" Keyrani mengeryitkan keningnya bingung
"Iya. Dia berhutang 200 juta sama Aku" Tutur Devi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Keyrani "Kenapa? Mau jadi pahlawan kesiangan? Mampu kamu bayar hutangnya?" Tanya Devi sedikit nyolot
"200 juta. Uang sekecil itu nggak ada artinya buat Aku" Tutur Keyrani dengan wajah meremehkan
"Kamu bilang nggak ada artinya? Kalau gitu Aku tunggu di rumah, uang yang kamu bilang kecil itu" Tekan Devi tidak terima melihat Keyrani sombong dihadapannya
"Tidak masalah" Balas Keyrani membuat Devi memasang wajah kesal dan beranjak pergi meninggalkan keduanya
"Key.." Lirih Lisa merasa tidak enak hati
"Kamu tidak perlu khawatir, kalau aku bilang punya berarti aku punya"
"Bukan gitu Key, aku benar-benar nggak enak nerima uang kamu"
__ADS_1
"Siapa bilang aku kasih cuma-cuma. Uang ini aku pinjamkan, nanti kalau kamu punya uang jangan lupa dibalikin" Ujar Keyrani sembari tersenyum berusaha menenangkan sahabatnya
"Makasih Key. Memang sahabatku paling dabest" Tutur Lisa sembari memeluk tubuh Keyrani
"Dasar kamu.. " Ucap Keyrani memanyunkan bibirnya "ech tunggu, kamu belum cerita. Kenapa kamu bisa punya utang sama mak Lampir itu" Ujar Keyrani melepas pelukan Lisa dan kembali mewawancarai nya
Lisa menghela nafasnya kemudian menyandarakn kedua tangannya pada jendela dan menatap ke arah luar "Masih dengan masalah yang sama. Waktu itu aku benar-benar butuh uang untuk bayar rentenir karena utang ayah aku yang semakin menumpuk. Dan entah dapat informasi dari mana, Devi tiba-tiba datang dan menawarkan akan meminjamkan ku uang tapi dengan syarat aku harus menjauh darimu dan berteman dengannya. Awalnya aku menolak, tapi karena desakan dari para rentenir itu yang setiap hari datang ke rumah. Mau tidak mau aku menerima tawaran Devi dan setuju untuk menjauhimu hanya karena uang 200 juta itu" Jawab Lisa menjelaskan sembari menundukkan wajahnya malu karena telah tega membuang sahabatnya hanya demi uang
"Kenapa kamu tidak cerita kepadaku? Aku bisa membantumu jika kamu menceritakannya" Tanya Keyrani merasa iba
"Dulu aku sempat mau cerita, tapi tidak jadi karena waktu itu kamu lagi ada masalah sama ayah kamu. Jadi dari pada menambah beban kamu, Aku memilih menyimpannya sendiri dan yah.. Ini lah yang terjadi sekarang" Jawab Lisa menghela nafasnya memikirkan keputusannya yang dianggap salah waktu itu
Keyrani terdiam sejenak. Ini bukan salah Lisa sepenuhnya. Karena jika dirinya berada dalam situasi tersebut, sudah pasti ia akan memilih jalan yang sama dengan Lisa.
"Mulai sekarang kamu harus janji untuk cerita semua masalah kamu. Aku nggak mau kita pisah cuma karena masalah seperti ini lagi. Bukankah ini gunanya teman, saling membantu saat salah satunya berada dalam keadaan sulit" Ujar Keyrani menasehati
"Maafkan aku Key. Aku janji lain kali akan cerita sama kamu" Tutur Lisa kembali memeluk tubuh Keyrani
"Pelukannya di tunda dulu, perutku lapar" Ujar Keyrani iseng karena memang dirinya belum sempat menghabisi makanannya saat Devi datang menghampiri
Keduanya kemudian kembali ke kantin, menghampiri keempatnya yang kini memasang wajah penasaran karena keduanya kembali sembari tertawa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Aaron mewakili ketiganya
"Oh, bukan masalah besar. Hanya sebuah pertengkaran kecil saja" Jawab Keyrani santai kemudian kembali memakan baksonya yang sempat di tinggalnya
Aaron menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu sementara ketinganya kembali memakan makanannya tak berniat bertanya kembali karena sepertinya Keyrani maupun Lisa tidak akan berkata jujur jika ditanya.
"Berhenti memikirkannya dan habisi makananmu" Ujar Lisa menimpuk kepala Aaron
"Akhh.." Ringis Aaron memegang kepalanya kemudian menatap kesal ke arah Lisa yang hanya tertawa "Untung cewek" Ujar nya mengontrol emosi
"Kalau cowok kenapa?" Sahut Dafa
"Kalau cowok, aku timpuk kembali. Seperti ini" Jawab Aaron kemudian menimpuk kepala Dafa membuatnya hampir keselek saat menelan baksonya
__ADS_1
"Uhukk.. Uhukk.." Batuk Dafa karena ulah dari Aaron sementata Aaron kini segera berdiri dari tempatnya sebelum Dafa memukulnya kembali dengan lebih keras lagi
Rian hanya menggeleng kepala pasrah kemudian bangkit dari duduknya "Kalian lanjutkan saja, Kami duluan" Ujar Rian mewakili keduanya yang kini meninggalkan kantin "Sampai nanti" Pamit Rian menatap Keyrani yang kemudian dibalas anggukan oleh Keyrani
"Ada apa ini? Kalian janjian?" Tanya Rani penasaran melihat interaksi keduanya
"Iya. Aku mau nebeng ke bengkel" Jawab Keyrani santai
"Bengkel? Ngapain ke bengkel?" Tanya Lisa
"Motor Aku lagi dimodif dan kebetulan Rian kerja part time di sana"
"Hah? Rian kerja disana? Bukannya dia orang kaya, ngapain kerja di bengkel" Ujar Rani
"Dia anak motor, wajar kalau kerja di bengkel" Sembari melap tangannya karena sudah selesai "Aku selesai. Kalian lanjut aja, Aku mau ke toilet bentar" Tutur Keyrani menghentikan pembahasan dan bangkit dari duduknya meninggalkan keduanya
Keyrani menyusuri lorong dan sesekali berbalik ke sekitar memeriksa jika saja ada yang melihatnya masuk ke ruangan dosen. Karena dirinya sama sekali tidak berniat ke toilet melainkan ke ruangan Ray. Ia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam sementara Ray yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya segera menoleh ke arah pintu yang ternyata adalah Keyrani.
"Kamu kenapa disini? Tidak takut ada yang melihat?" Tanya Ray bangkit dari duduknya dan menghampiri Keyrani dan merangkul pinggangnya menuntunnya duduk di sofa
"Aku membutuhkan bantuanmu" Jawab Keyrani
"Bantuan?" Tanya Ray bingung
"Pinjami aku 200 juta" Jawab Keyrani tak lupa memasang wajah kasiannya
"Itu saja?"
"Iya. Aku membutuhkan uang 200 juta. Aku janji akan mengembalikannya padamu secepatnya" Tutur Keyrani mengangkat jarinya naik membentuk huruf V
"Tidak perlu mengembalikannya, tapi aku menginginkan waktumu" Ujar Ray dengan penuh maksud
"Waktu?"
"Iya. Luangkan waktumu untukku saat tahun baru" Tutur Ray
__ADS_1
"Baiklah, dengan senang hati" Jawab Keyrani senang karena dirinya memang tidak pernah menghabiskan waktu bersama keluarganya saat tahun baru karena memilih merayakannya sendiri di rumah ibunya