
"Kamu sengaja tidak memberitahu Ray soal yang terjadi tadi?" Tanya Lisa penasaran karena sedari tadi Keyrani tidak pernah mengungkit soal ayahnya
"Bukannya aku tidak ingin memberitahunya, tapi ini masalah kamu. Jika harus memberitahunya, bukan aku orangnya melainkan kamu" Jawab Keyrani
Keduanya kini berada di kamar yang biasa di tempati Keyrani. Berbaring sembari menatap langit-langit kamar.
"Sebenarnya dia ayah tiri Aku. Sudah 2 tahun sejak ia menikah dengan ibuku. Awalnya aku tidak melarang dan setuju dengan keputusan ibuku. Hingga kemudian sifatnya perlahan berubah drastis" Tutur Lisa menghentikan sejenak perkataannya "Perlahan dia mulai minum-minum. Setiap hari pulang dalam keadaan mabuk. Tak jarang ia mengangkat tangannnya memukul ibu. Terutama jika Ibu tidak memberinya uang, Ia akan marah dan memukul ibuku tanpa belas kasih" Tutur Lisa sembari mengusap air matanya
Keyrani tertegun mendengar cerita Lisa. Meski bukan dirinya yang merasakan, tapi ada rasa pilu dalam hatinya. Dua orang terdekatnya memiliki permasalahan keluarga yang hampir sama. Jika dirinya dan Ray memiliki ibu tiri. Lisa justru memiliki ayah tiri.
"Beberapa bulan terakhir ini, Aku dan Ibu baru mengetahui jika ternyata dia sering meminjam uang pada rentenir. Semua uang yang dpinjamnya digunakan untuk melakukan judi. Aku benar-benar lelah dengan sikapnya itu. Keluarga ku dililit hutang. Dan Ibu setiap hari bekerja siang dan malam hanya untuk melunasi hutangnya pada rentenir" Lanjut Lisa menceritakan masalahnya
"Mengapa Ibumu bertahan jika pernikahannya hanya membawa luka baginya?" Tanya Keyrani
"Awalnya Aku sudah berusaha meyakinkan Ibu untuk berpisah dengannya namun Ibu tetap bersikeras untuk mempertahankan pernikahannya. Hingga kemudian Rentenir datang dan menagih hutang pada Ibuku, dari situ Aku kembali membujuk Ibuku untuk berpisah dan akhirnya dia setuju"
"Hanya saja, semua hutang yang dipinjam oleh ayah tiriku semua atas nama Ibuku. Mau tidak mau Ibuku harus membayar semua hutangnya"
Lisa menghentikan ucapannya dan menutup wajahnya yang kini mulai menangis. Dengan sigap, Keyrani berbalik dan memeluk tubuh Lisa yang kini mulai bergetar dari samping.
"Aku harus bagaimana Key. Aku dan Ibuku sudah mengajukan surat perceraian kepada pengadilan, hanya saja proses perceraian ini memakan waktu yang begitu lama hiks..hikss" Tutur Lisa menangis dalam pelukan Keyrani
Keyrani hanya bisa terdiam memeluk tubuh Lisa sembari mengusap punggungnya pelan.
"Istirahatlah dulu, biar nanti aku coba pikirkan cara lain" Tutur Keyrani berusaha menenangkan Lisa
Lisa yang mendengar penuturan Keyrani perlahan mengatur nafasnya yang tersengal, kemudian mencoba menutup matanya.
...***...
Setelah dirasa Lisa tertidur Keyrani menarik tangannya yang sedari tadi berada di punggung Lisa kemudian beranjak keluar dari kamar.
Keyrani berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air minum. Kemudian membawanya naik ke dalam kamar dan menaruhnya di meja sebelah Lisa. Jika sewaktu-waktu dirinya haus.
Setelah itu, Keyrani kembali keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Ray dan mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kemudian terbuka dari arah dalam, memperlihatkan Ray dengan kacamatanya.
Tanpa berlama-lama, Keyrani masuk ke dalam kamar dan duduk di kasur Ray dengan santainya.
"Kamu masuk ke dalam kamar pria malam-malam begini, tidak takut aku menerkammu" Ujar Ray sembari menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan menghampiri Keyrani
"Aku tahu, kamu tidak akan pernah melakukannya" Ujar Keyrani percaya
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Ray kemudian duduk di sebelah Keyrani
"Sudahlah, berhenti menggodaku" Ujar Keyrani berenggut
Ray hanya tersenyum melihat Keyrani "Jadi apa yang membuatmu kesini, bagaimana dengan Lisa?" Tanya Ray kemudian
"Aku ingin meminta bantuanmu" Tutur Keyrani
"Bantuan?" Tanya Ray mengerutkan dahijya dan menoleh ke arah Keyrani
"Kamu tidak perlu khawatir, Aku akan mengatur seorang pengacara untuknya" Ujar Ray meraih tangan Keyrani dan menggenggamnya
"Terima kasih Ray. Aku benar-benar bersyukur memilikimu di sisiku" Tutur Keyrani
"Aku lebih bersyukur Key" Batin Ray mengeratkan genggamannya
"Baiklah, urusanku denganmu sudah selesai. Sekarang aku harus kembali kekamar" Ujar Keyrani tiba-tiba dan menarik kepalanya dari bahu Ray kemudian bangkit dari duduknya
"Kamu datang sesuka hati dan sekarang kamu ingin pergi begitu saja" Tanya Ray masih tidak melepas genggamannya
"Ada apa? Kamu masih ada urusan denganku" Tanya Keyrani tidak mengerti dengan arah pembicaraan Ray
Ray menghela nafasnya panjang kemudian melepas genggamannya "Tidak, Kamu bisa pergi" Jawab Ray pasrah
"Kalau begitu aku ke sebelah. Jangan lupa dengan permintaanku" Ujar Keyrani mengingatkan kembali sebelum akhirnya beranjak pergi menuju ke kamar sebelah meninggalkan Ray di kamarnya
__ADS_1
Setelah kepergian Keyrani, Ray bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju ke meja kerjanya. Ia meraih ponselnya kemudian duduk di kursi.
Ray segera membuka ponselnya dan menghubungi Jhon yang merupakan asisten pribadinya.
"Halo" Ujar Ray saat Jhon mengangkat panggilannya
"Iya Tuan" Jawab Jhon dari seberang
"Carikan seorang pengacara untukku. Dan pastikan dia dapat mengurus perceraian dengan cepat" Pinta Ray
"Baik Tuan" Jawab Jhon singkat
"Oh iya, Aku ingin kamu mencari tahu tentang seseorang. Kalau bisa secepatnya kirimkan padaku" Lanjut Ray
"Baik Tuan, segera saya laksanakan" Jawab Jhon kembali patuh
Setelah mendengar jawaban dari Jhon, Ray memutuskan panggilan teleponnya. Kemudian membuka pesannya dan mengirim nama orang tersebut.
Sementara itu di sisi lain, Keyrani yang baru saja kembali ke kamar mendapati Lisa yang saat ini terbangun dari tidurnya.
"Kamu bangun?" Tanya Keyrani sembari menutup pintu kamar
"Iya" Jawab Lisa singkat
"Aku sudah berbicara dengan Ray. Dia akan mencarikan seorang pengacara untuk Ibumu, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi" Ujar Keyrani menghampiri Lisa kemudian duduk di sampingnya
"Terima kasih Key. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi jika tidak ada dirimu" Ujar Rani merasa bersyukur
"Berhenti berterima kasih padaku. Ini sudah yang kesekian kaliannya kamu mengucapkannya padaku"
"Aku tahu dan seharusnya Aku juga meminta maaf padamu karena sifatku yang tiba-tiba saja berubah dan menjauhimu" Tutur Lisa kemudian menunduk malu tak sanggup melihat wajah Keyrani
"Sudahlah, aku tidak terlalu memikirkannya. Semuanya sudah berlalu jadi berhenti memikirkannya lagi" Ujar Keyrani mengusap pundak Lisa
Hati Lisa pilu mendengar perkataan Keyrani, dirinya yang saat ini benar-benar malu berhadapan dengannya setelah semua yang telah dilakukannya pada Keyrani selama ini. Ia bahkan dengan tega bergabung dengan saudara tirinya untuk mengganggu Keyrani. Sementara Keyrani dengan tangan terbuka tetap bersedia membantunya dan bahkan mencarikan solusi untuk masalahnya.
__ADS_1