
Bughhhhh....
Tubuh pria itu terlempar ke lantai. Pukulan keras yang dilayangkan oleh Sean di wajahnya, membuat bibirnya mengeluarkan cairan merah kental.
Pria itu hanya bisa meringis menahan sakit dan segera menunduk menyesali perbuatannya sesaat setelah menatap Sean yang kini memasang wajah marah.
Beberapa menit sebelumnya, Keyrani yang berniat untuk mencari cara keluar dari kamar berusaha menipu bawahan Sean untuk membuka pintunya.
Namun tanpa ia duga, bawahan itu justru lebih kuat dari apa yang dibayangkan nya membuatnya secara tidak sengaja mendorong Keyrani hingga terbentur di meja. Bertepatan dengan itu, Sean yang baru saja tiba dan mendengar suara benturan tersebut sontak berlari dan tanpa berpikir langsung melayangkan pukulannya pada bawahannya itu.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Sean sembari membantu Keyrani berdiri dan membantunya duduk di kursi
"Maaf tuan... Aku tidak sengaja... " Dengan suara sedikit bergetar bawahan tersebut berusaha menjelaskan apa yang terjadi
Namun belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Sean sudah terlebih dahulu memotong ucapannya "Keluar.. " Pintahnya dengan nada tegas
"Baik tuan" Ujar bawahan tersebut kemudian keluar dengan wajah yang masih menunduk ke lantai, tidak berani menoleh menatap keduanya
"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Sean khawatir
"Aku baik-baik saja" Jawab Keyrani tidak terlalu perduli
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Dia tidak mungkin begitu saja mendorongmu jika bukan karena kamu merencanakan sesuatu" Tanya Sean kembali serius
"Aku hanya ingin keluar"
"Keluar? Ini sudah jam 2 malam, kamu seharusnya istirahat sekarang bukannya keluar" Ujar Sean sembari berdiri dan menunjuk ke arah jam di dinding
"Tapi aku sudah seharian kamu kurung di kamar ini Sean" Ujar Keyrani dengan nada kesal
"Aku akan membawamu keluar besok. Untuk malam ini, kamu tidak boleh ke mana-mana" Ujar Sean memutuskan
"Kenapa? Aku mau sekarang.. Aku sama sekali tidak ingin tidur saat ini" Kekeh Keyrani lalu dengan cepat berlari keluar kamar
Setibanya di luar, Keyrani segera berlari mencari pintu keluar. Namun saat dirinya tiba di sebuah jendela, Keyrani terperangjak kaget ditempat karena ia sama sekali tidak mengenal tempat itu.
"Kamu tidak akan bisa kemana-mana Key. Ini adalah pulau pribadiku. Jadi segera hilangkan semua rencana yang kamu pikirkan saat ini karena itu semua percuma" Ujar Sean perlahan mendekat ke arah Keyrani dengan senyum seringai nya
"Aku benar-benar tidak mengerti Sean. Kamu tahu, kita tidak mungkin bersama. Aku sama sekali tidak menyukaimu. Aku menyukai Ray. Aku hanya mencintainya" Ujar Keyrani menegaskan
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi cepat atau lambat kamu pasti bisa melupakannya" Ujar Sean penuh yakin dengan obsesinya
"Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi" Tegas Keyrani sembari menatap Sean tajam
"Sebenarnya apa yang kurang dari diriku Key. Kamu sudah berulang kali terluka karena Ray, dan kamu masih menyukainya?.. " Tekan Sean memegang kedua bahu Keyrani membuatnya tanpa sengaja terbentur di dinding
"Katakan padaku Key.. " Sambung Sean dengan suara yang kini memelan
"Mungkin kamu benar, kamu lebih baik darinya, kamu bahkan lebih perhatian dan peka akan apa yang aku rasakan. Tapi aku harus bagaimana, aku hanya mencintainya, Sean.. " Tutur Keyrani berserah diri membuat Sean tertegun
Sebuah fakta yang tidak akan pernah bisa terbantahkan. Baik Sean maupun Rian, Keyrani tidak akan pernah bisa berpaling dari Ray, sebesar apapun dan setulus apapun perasaan keduanya terhadap Keyrani.
"Maafkan aku Sean.. " Ujar Keyrani menangis saat Sean jatuh tersungkur di hadapannya
"Apa kita masih bisa berteman?" Pinta Sean dengan nada pelan
"Hmm.. Kamu akan selalu menjadi teman terbaikku" Jawab Keyrani memeluk Sean erat
"Apa benar tidak mungkin.. " Batin Sean masih enggan untuk menerima kenyataan
Keduanya berpelukan cukup lama, karena Sean tidak ingin melepas pelukannya karena ia tahu mungkin ini terakhir kalinya ia bisa memeluk orang yang dicintainya ini.
Sejak awal, ia sadar akan apa yang telah ia perbuat. Namun karena obsesinya pada Keyrani membuatnya nekat berbuat seperti itu dan justru malah melukai orang yang dicintainya.
...***...
Jam di dinding menunjukkan pukul 4 subuh, saat Sean duduk di kamarnya menatap keluar jendela dengan sebuah gelas alkohol di tangannya.
Sean menyeringai kecil sesaat kemudian. Kesempatannya untuk bersama dengan Keyrani kini benar-benar telah sirna.
"Ini bahkan belum sehari dan kamu akan segera pergi.. " Gumam Sean pelan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar bersiap menyambut tamu yang sejak tadi di tunggunya
Tanpa berniat menyambutnya, Sean memilih duduk di kursi ruang tamunya masih dengan gelas alkohol yang sedari tadi di minumnya.
Hingga kemudian, pintu kediamannya terbuka memperlihatkan seseorang yang sedari tadi di tunggunya, yang tak lain adalah Ray.
Ray masuk dan menghampiri Sean, dengan tangan memegang pistol di tangannya. Dengan raut wajah penuh amarah.
"Dimana Keyrani?" Tanyanya dengan nada tegas dan penuh penekanan
__ADS_1
Sean kembali menyeringai dan meminum habis minumannya, lalu balas menatap Ray tajam.
"Duduklah... " Pintanya dengan nada yang tak kalah tegasnya
"Katakan dimana Keyrani?" Tanya Ray sekali lagi tanpa memperdulikan perkataan Sean
Sean menghela nafasnya kasar sembari bersandar di kursi. Namun bersamaan dengan itu, Pistol yang sejak tadi berada di genggaman Ray kini berada tepat di keningnya.
"Dimana? Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu, jadi katakan dimana dia berada?" Tanya Ray sekali lagi
"Kamu tidak akan berani menembak ku, Keyrani masih berada di tanganku" Jawab Sean santai membuat Ray melempar pistolnya dan kini memegang kerah baju Sean
"Dengan kamu yang seperti ini, apa benar-benae layak untuk dicintai olehnya" Kritik Sean membuat amarah Ray memeuncak dan melayangkan sebuah pukulan keras di wajahnya
Masih dengan seringai nya, Sean tetap santai menyentuh bibirnya yang kini berdarah karena pukulan tadi.
"Kamu tidak punya hak menilai diriku.. " Geram Ray kembali memegang kerah baju Sean yang sedari tadi seolah tidak berniat membalas pukulan Ray dan memilih membuatnya semakin marah
"Katakan dimana dia.. " Teriak Ray sekali lagi
"Aku tidak akan pernah mengatakannya.. " Balas Sean kekeuh
Hingga kemudian, sebuah suara dari lantai atas membuat Ray yang tadinya berniat melayangkan kembali pukulannya segera berhenti dan mematap ke arah sumber suara.
"Hentikan Ray.. " Pinta Keyrani yang tanpa sengaja terbangun karena suara pertengkaran keduanya yang begitu keras
"Key... " Balas Ray segera melepas cengkraman nya dan berlari menghampiri Keyrani
"Kamu tidak apa-apa? Apa yang dia lakukan padamu? Katakan padaku, aku akan membalasnya untukmu!" Tanya Ray memeluk Keyrani erat
"Aku tidak apa-apa Ray.. Aku tahu kamu pasti bisa menemukan aku" Ujar Keyrani balas memelul Ray erat
"Mengapa kamu muncul begitu cepat Key.. Aku masih belum puas bermain-main dengannya" Ujar Sean menatap keduanya
"Apa maksudmu?" Tanya Ray kesal
Sean hanya mengangkat bahunya santai dan tidak perduli.
"Turunlah. Ada hal penting yang harus kita bahas" Ujar Sean dengan suara dan raut wajah yang tiba-tiba serius begitu pun dengan Keyrani yang sudah terlebih dahulu mengetahuinya setelah berbicara dengan Sean tadi
__ADS_1