
Sudah 11 tahun sejak Bi Eka bekerja di rumah tersebut. Dan dalam jangka waktu tersebut, Bi Eka sudah mengenal dan paham betul akan sikap dari Leon. Termasuk sikap kerasnya yang hanya ia tunjukkan pada bawahannya namun tidak pada Ibunya.
Setelah kejadian yang terjadi di dapur. Sebisa mungkin, Siti menghindari untuk bertemu dengan Leon sesuai dengan perintah dari Bi Eka.
Namun, bagaimana pun kerasnya Siti berusaha menghindar akan ada saat ketika keduanya tanpa sengaja bertemu khususnya saat berada di dapur.
Siti yang berniat memasuki dapur dengan segera berbelok dan meninggalkan dapur tersebut saat laki-laki yang selalu dihindarinya tengah berada di sana menyantap makanannya.
"Dasar j****g" lirih Leon sembari mengunyah makanannya saat melihat Siti menghindarinya
Leon mempercepat makannya sembari memperhatikan sekitar rumah yang terlihat sepi. Kemudian berdiri dan berjalan ke arah belakang rumah.
Tok..tok..tok..
Ketuk Leon pada sebuah kamar yang tak lain adalah kamar dari Bi Eka yang saat ini tidak berada di rumah karena harus ke pasar membeli perlengkapan di dapur.
Sementara Siti yang tidak sadar akan kedatangan Leon dengan cepat membuka pintu kamar karena menganggap ibunya sudah pulang. Namun betapa terkejutnya dia saat mendapati Leon berdiri di depan kamar sembari tersenyum licik ke arahnya.
Dengan cepat Siti menutup kembali pintu tersebut, namun tentu saja tenaganya tidak bisa dibandingkan dengan Leon yang hanya menggunakan satu tangan menahan dorongan Siti. Hingga akhirnya Pintu terbuka membuat Leon masuk ke dalam dan segera menguncinya dari dalam.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Siti yang kini mulai gugup dan takut
Tanpa menjawab pertanyaan Siti, Leon mendekat ke arahnya sembarin menyeringai membuat Siti perlahan mundur hingga kemudian langkahnya terhenti karena kini dia tepat berada di depan kasur.
Leon tersenyum dan dengan segera mendorong tubuh Siti ke kasur. Mendekatkan wajahnya dan ******* kasar bibir mungil miliknya. Dengan sekuat tenaga Siti berusaha memberontak dan mendorong tubuh Leon.
"****..." Kesal Leon menyentuh bibirnya yang berdarah karena di gigit Siti
Hal ini membuat Leon semakin emosi dan dengan paksa menarik pakaian Siti hingga rusak sehingga memperlihatkan bagian tubuhnya.
__ADS_1
Perlahan Siti mulai menangis dan berusaha berteriak meminta tolong namun tangan Leon dengan kuat membekam mulutnya. Sementara Leon sibuk bermain di tubuhnya tanpa menghiraukan Siti sedikit pun.
Karena terlalu lemah untuk melawan, Siti menyerah dan merelakan segalanya. Ia hanya bisa menangis membiarkan pria br*****k tersebut merebut mahkotanya. Merebut sesuatu yang paling berharga bagi dirinya yang selama ini telah dijaganya.
Tanpa belas kasihan, Leon menodai kesuciannya. Kemudian pergi meninggalkannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Aakkhhhhh...hnghnhgg" teriak Siti menangis merutuki nasibnya yang begitu malang
Siti bangun dan beranjak dari kasur. Menatap nanar noda merah yang ada di kasur kemudian berjalan ke kamar mandi pelan karena tubuhnya yang terasa begitu sakit karena perlakuan dari Leon.
Sesampainya di kamar mandi, Siti meghidupkan shower menangis sejadi-jadinya. Memukul dirinya yang kini sudah tidak suci lagi karena Mahkotanya telah hilang.
Tok tok tok...
Hingga tiba-tiba sebuah ketukan terdengar dari luar pintu wc.
"Siti.." panggil Bi Eka sembari mengetuk pintu
"Kamu tidak apa-apa? Ini kenapa ada noda merah di kasur?" Tanya Bi Eka memperhatikan noda tersebut
"Oh. i..itu karena aku datang bulan bu" Jawab Siti berusaha mencari alasan karena saat ini Ia masih belum siap untuk memberitahu Ibunya tentang kejadian barusan
"Jangan lupa di bersihkan yah nak, Ibu mau ke dapur masak" ujar Bi Eka tanpa rasa curiga sedikit pun kemudian beranjak pergi menuju ke dapur
Siti menyandarkan punggungnya di dinding, perasaannya hampa begitu pun dengan pikirannya yang kini kacau. Berbagai penyesalan muncul dibenaknya.
Seandainya dia tidak datang! Seadainya dia tidak bersikeras untuk kuliah! Seadainya dia mendengar perkataan ibunya untuk tetap di kamar! Namun sekeras apapun Siti memikirkan dan menyesalinya, semua sudah terlambat karena perbuatan bejat laki-laki tersebut.
Sejak kejadian tersebut, terjadi perubahan yang drastis pada sifat Siti. Dirinya menjadi lebih pendiam tidak seceria Siti yany dulu. Bahkan ketika dirinya masuk ke dalam kamar mandi, Siti akan menghabiskan waktunya disana berusaha mengurung diri dan menangis sejadi-jadinya tanpa sepengetahuan Ibunya.
__ADS_1
Meski sudah berlalu satu minggu, ingatan yang terjadi pada hari itu masih melekat dengan jelas di pikirannya. Perasaan saat kedua tangan Leon menyentuh tubuhnya, perasaan saat Leon merebut kesuciannya. Semuanya masih terekam dengan jelas, tubuhnya mengingat jelas perasaan menjijikkan itu.
Sifatnya yang semakin berubah membuat Bi Eka semakin heran dan kebingungan. Terutama saat Siti berdiam diri di kamar mandi, sifatnya yang diam saat makan, bahkan ketika tidur ia langsung tidur tanpa mengucapkan sepatah kata yang biasanya akan bercerita dan bercanda dengan Ibunya sebelum tidur.
Diam-diam Bi Eka memperhatikan gerak gerik Siti yang aneh masuk ke kamar mandi. Bi Eka memutuskan berdiri di depan kamar mandi dan mencoba mendekatkan telinganya pada pintu berusaha mendengar apa yang sedang dilakukannya hingga membuatnya berdiam diri begitu lama di kamar mandi.
Hanya ada suara air mengalir dari shower yang didengarnya. Membuat Bi Eka bingung sekaligus khawatir. Hingga kemudian Bi Eka memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi.
Tok..tok..tok..
Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari dalam wc. Sehingga Bi Eka kembali mengetuk pintu.
Tok..tok..tok..
Seperti sebelumnya tidak ada tanggapan sama sekali selain suara air mengalir dari shower yang sedari tadi menyala.
"Siti..." panggilnya kemudian karena semakin khawatir
"Siti.. buka pintunya" kali ini dengan sedikit dorongan pada pintu sembari memegang knock pintu yang ternyata terkunci dari dalam
Dengan raut wajah yang semakin khawatir, Bi Eka segera mencari kunci cadangan yang lain. Memeriksa semua laci yang ada di kamar tersebut hingga kemudian Bi Eka menemukan kunci cadangan di meja samping tempat tidurnya.
Dengan langkah terburu-buru Bi Eka segera membuka pintu kamar mandi. Dan betapa kagetnya dia, saat mendapati anak satu-satunya tergeletak tidak berdaya di lantai.
Cairan merah kental mengalir memenuhi lantai kamar mandi. Sebuah pisau tergeletak di samping Siti. Ia mengiris tangannya tepat dimana nadinya berada.
"Siti.. bangun Siti. Kamu kenapa nak?" Ujar Bi Eka terjatuh kaget di lantai kamar mandi dan segera merangkul tubuh anaknya yang kini sudah tidak sadarkan diri
Bi Eka menangis merangkup wajah anaknya mencoba menyadarkannya namun percuma saja. Hingga kemudian dengan terburu-buru Bi Eka segera berlari mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi ambulance.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian, sebuah ambulance tiba di rumah tersebut dan segera membawa Siti ke rumah sakit karena bekas irisan yang ada di tangannya tidak terlalu dalam.