
Setelah kepergian Tossy dari rumah, Ayah Keyrani memutuskan untuk bercerai dengannya. Dirinya tidak ingin membuat kesalahan yang sama dengan mempertahankan wanita seperti itu. Sudah cukup kesalahan yang diperbuatnya pada Keyrani. Dirinya benar-benar merasa malu mengaku sebagai seorang ayah setelah apa yang telah diperbuatnya.
1 minggu sudah berlalu, Ayah Keyrani selalu datang ke rumah Ibu Keyrani berharap jika sewaktu-waktu Keyrani datang kesana. Tak jarang dirinya mendapati Ray duduk bersidekap di depan rumah itu.
Rasa iba menyelimuti dirinya saat melihat Ray duduk termenung, bahkan meneteskan air mata. Dirinya yang bahkan seorang ayah terikat hubungan darah dengan anaknya Keyrani bahkan tidak pernah menangisinya hingga seterpuruk itu.
Ray datang, duduk dan diam di rumah tersebut. Menatap lekat-lekat cincin pemberian Keyrani. Mengingat kenangan-kenangan saat keduanya bersama.
Wajahnya pucat seolah tidak memiliki penyemangat hidup. Setiap saat berbagai pertanyaan berputar di pikirannya. Berbagai prasangka menyelimuti dirinya. Takut jika sewaktu-waktu Keyrani tiba-tiba pergi tanpa berpamitan kepadanya.
Begitu pun dengan Ayah Keyrani. Setiap hari hanya duduk di depan rumah menunggu kepulangan putrinya. Dan sesekali mendatangi rumah itu seperti yang dilakukannya saat ini. Meratapi setiap kesalahan yang dilakukannya selama 12 tahun terakhir ini. Meratapi ketidakbecusan nya sebagai seorang ayah.
"Mau sampai kapan Anda diam seperti itu?" Tanya Ray tiba-tiba membuat ayah Keyrani gugup
Selama 1 minggu itu, Ray sadar akan keberadaan ayah Keyrani disekitarnya. Namun karena terlalu berlarut dalam rasa sedih, ia membiarkannya begitu saja.
Ayah Keyrani keluar menghampiri Ray, kemudian duduk di dekatnya. Matanya sembab, yang mungkin karena menangisi kepergian anaknya.
"Jujur saja, Aku tidak ingin bertemu dengan Anda. Aku benar-benar marah dan kesal karena sifat bodoh Anda" Ujar Ray menjeda ucapannya karena terisak
"Mungkin Anda tidak tahu, tapi Aku dan Keyrani kenal dari sejak 11 tahun yang lalu. Kami saling bertukar masalah dan menertawai kehidupan masing-masing yang mirip. Memiliki seorang ibu tiri dan seorang ayah yang bodoh. Namun bedanya, Ayahku meninggal karena ulah Ibu tiriku. Sementara Anda harus menelan pahitnya kehilangan Keyrani karena ulah dari Ibu dan anak tiri Anda" Ujar Ray menceritakan semuanya
Ayah Keyrani meremas dadanya. Hatinya terasa sakit dan remuk mendengar penuturan Ray.
"Jika saja aku tidak memandang hubungan darah itu, Anda mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi" Geram Ray dengan sorot mata menajam menatap ke depan tanpa menoleh sedikit pun
"Katakan padaku. Apa yang terjadi sebenarnya?" Pinta Ayah Keyrani terbata
"Saat ini Keyrani terbaring koma di rumah sakit. Sebaiknya Anda berdoa supaya Keyrani bisa tersadar. Karena jika tidak, orang terakhir yang Anda lihat di dunia adalah Saya" Ujar Ray mengancam dengan nada penuh penekanan
__ADS_1
"Ko...ma?" Ucap Ayah Keyrani terbata. Kaget mendengar hal tersebut. Seketika dirinya tersadar, alasan dari pria di dekatnya ini menangis meratapi Keyrani setiap hari di rumah itu.
"Itu benar, Keyrani saat ini koma. Karena mengalami kecelakaan saat dirinya pergi dari rumah"
"Dii..dimana? Dimana Keyrani sekarang? Katakan padaku hiks..hikss.. " Tanya Ayah Keyrani memegang pundak Ray dengan air mata yang kini mengalir
"Jika saya tahu, saya tidak akan menghabiskan waktu saya disini setiap hari melainkan pergi menjaganya" Jawab Ray sembari berdiri dan beranjak pergi masuk ke dalam mobilnya
"Aa..pa maksud kamu? Ray! Jelaskan padaku! " Tanya Ayah Keyrani semakin panik berusaha menahan Ray untuk meminta penjelasannya namun Ray dengan segera melajukan mobilnya tanpa menghiraukannya yang kini menangis tersedu
...***...
Di sisi lain, Lisa yang sudah seminggu ini tidak datang ke kampus karena bingung harus bagaimana menghadapi yang lainnya kini duduk di kantin sembari memutar-mutar pipet minumannya.
Rani dan Dafa yang mengetahui kedatanganLisa segera menghampirinya di kantin setelah dibuat bingung selama 1 minggu ini karena menghilang tiba-tiba khususnya Keyrani yang tiba-tiba saja mengajukan cuti kuliah.
"Minum gih.." Tawar Lisa melihat Dafa bernafas tidak beraturan
"Jadi glek.. Apa glekk.. Yang terjadi? Tanya Dafa sembari meneguk minuman tersebut
"Minum dulu baru ngomong" Semprot Lisa menjitak kepala Dafa
"Jadi apa yang terjadi? Bagaimana bisa Keyrani mengajukan cuti kuliah dan tanpa memberitahu kita?" Sela Rani yang sedari tadi memasang raut wajah penasaran
"Sebelum itu, Rian sama Aaron dimana? Aku ingin bertemu dengan mereka" Ujar Lisa serius
"Tadi Aku sudah menghubungi keduanya untuk datang" Jawab Dafa
Setelah kepergian Keyrani seminggu yang lalu, Dafa berusaha mati-matian menghubungi kedua sahabatnya itu karena permintaan dari Keyrani. Namun sayangnya, saat keduanya berhasil Dafa hubungi justru Keyrani yang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Meski begitu, hubungan keduanya masih canggung dan belum ada diantara keduanya yang berniat untuk memulai percakapan. Setelah semua usaha yang dilakukan baik Dafa maupun Rani dalam membujuk keduanya.
"Kita tunggu saja, Aku yakin mereka pasti datang jika itu berhubungan dengan Keyrani" Ujar Rani yakin
Dan tak berselang lama setelah Rani mengatakannya, keduanya benar-benar datang ke kantin meski tidak bersama karena memilih jalan yang berlawanan.
Keduanya kemudian duduk di meja dengan saling berhadapan namun tidak saling berpandangan dan membuang muka masing-masing.
"Buruan bilang ada apa?" Ketus Aaron masih memalinkan wajahnya
"Sopan santun dalam berbicara kamu hilang yah? Mana ada orang bicara nggak saling pandang" Tegur Lisa geram
"Bisa kalau dia ngga ada disini" Balas Aaron
"Yaudah, kalau gitu aku pergi. Males banget bicara sama orang yang keras kepala" Putus Lisa bangkit dari duduknya
Namun sebelum Ia melangkahkan kakinya, tangannya segera dicegah oleh Rian yang sedari tadi diam tidak menyahut.
"Aku akan meminta maaf" Ujar Rian kemudian menatap ke arah Aaron "Aku tahu aku salah dan aku mengakuinya. Aku memang menaruh rasa pada Keyrani" Sambung Rian jujur
Meski sudah tahu, ketiganya masih saja terkejut dengan penuturan Rian. Termasuk Aaron namun tetap memalinkan wajahnya tidak perduli.
"Aaron" Tegur Lisa
Aaron menghela nafasnya kemudian menoleh dengan terpaksa.
"Sadar nggak sih, sifat kalian itu terlalu kekanak-kanakkan. Kalian bertengkar tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh Keyrani" Tegur Lisa dengan suara yang sedikit bergetar membuat keempatnya dibuat penasaran
Lisa tak kuasa menahan air matanya yang kini tumpah. Meski sudah lewat satu minggu, dirinya masih dibuat khawatir oleh Keyrani. Setiap malam dirinya hanya akan berdiam di bawah selimutnya, menangis tersedu-sedu mengkhawatirkan keadaan sahabatnya yang telah memberinya kebahagiaan karena membantunya terlepas dari kekangan seorang ayah tiri dan bahkan melunasi hutang-hutanganya pada Devi.
__ADS_1