
Keyrani kembali ke hotel tepat sebelum pukul 12 malam. Sean sengaja pulang lebih awal meski pesta masih sedang berlangsung.
"thank you for taking me (Terima kasih telah mengantarku)" Ujar Keyrani sebelum membuka pintu kamarnya
"no. I should be the one thanking you for being willing to accompany me to the party (tidak. aku seharusnya yang berterima kasih karena kamu bersedia menemaniku ke pesta)" Imbuh Sean
"OK. Then I go inside. Good night. (Baiklah. Kalau begitu aku masuk ke dalam. Selamat malam)" Ujar Keyrani kemudian membuka pintu kamar nya dan masuk ke dalam
Sean berdiri sejenak memandangi pintu kamar Keyrani sebelum akhirnya berbalik dan beranjak pergi.
Sementara itu Keyrani yang baru saja masuk ke dalam kamar tiba-tiba di seret oleh Rani dan Lisa untuk duduk di atas kasur.
Keduanya menatap Keyrani dengan sorot mata penasaran "Besok. Aku capek" Ujar Keyrani berniat bangkit namun lagi-lagi keduanya secara bersamaan menarik lengan Keyrani membuatnya kembali duduk di kasur
"Sekarang" Pinta keduanya bersamaan dan memaksa
Keyrani menghela nafasnya panjang "Aku hanya ke pesta menemani Sean. Tapi ternyata pesta ini, untuk memperkenalkan Sean sebagai pewaris hotel ini" Ujar Keyrani membuat keduanya sontak membuka mulutnya kaget
"Tunggu.. Tunggu.. Dia pewaris hotel ini? Bukannya dia manager?" Tanya Lisa seolah tidak percaya dengan pendengarannya barusan
"Iya. Dia pewaris berkedok manager" Jawab Keyrani
"Wahh.. Kamu pake pelet yah? Bisa-bisanya dikelilingi cowok yang lahir dengan sendok emas semua" Ujar Lisa terheran heran
"Apaan sih.. Aku mau ganti baju" Imbuh Keyrani menyenggol lengan keduanya kemudian bangkit dan berjalan ke arah lemari berusaha mengabaikan celotehan keduanya
Setelah beberapa saat, Keyrani keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piama yang tadi diambilnya.
"Oh iya, Sean mau ikut ke konser BTS dengan kita" Ujar Keyrani membuat keduanya sontak bangun dari tidurnya membuat masker yang sementara dipakai keduanya lepas
"Demi apa, kamu serius? Tapi kenapa?" Tanya Rani
"Nggak tahu, dia mau ikut jadi aku iyain aja" Ujar Keyrani santai sembari menempelkan masker di wajahnya
__ADS_1
"Lagian bagus juga kalau dia ikut, mempermudah kita karena kita baru pertama kali datang ke negara ini" Sambung Keyrani kemudian
"Kamu nggak baper kan sama dia?" Tanya Lisa penasaran
"Tidak. Aku tidak punya perasaan apapun pada Sean. Aku hanya menganggapnya teman tidak lebih" Ujar Keyrani menegaskan kembali
"Tapi aku takut... " Sambung Keyrani tiba-tiba "Takut jika sewaktu-waktu perasaanku terhadap Ray memudar. Sejak aku berpacaran dengannya aku selalu mendapat perhatian berlebihan darinya. Aku terbiasa menggantungkan diriku padanya dan sekarang perhatiannya tiba-tiba saja teralihkan dariku" Ujar Keyrani sedih
Lisa menatap Keyrani lirih. Ia paham akan maksud dari Keyrani. Sejak kecil dulu Keyrani terbiasa mandiri dan tidak pernah menggantungkan dirinya pada orang lain karena ia tidak ingin merasakan kecewa.
Namun sekarang, apa yang ia takutkan justru terjadi. Ia merasa kecewa dengan perubahan sikap Ray dan sekarang Sean datang dengan semua perhatiannya pada Keyrani.
Melihat Keyrani bersedih, Lisa maupun Rani segera memeluk erat tubuh Keyrani.
"Jangan khawatir, kami ada disini untukmu" Ujar Rani menenangkan
...***...
"Apa sebenarnya yang kalian lakukan, ini sudah lewat beberapa hari dan kalian tidak menemukan satu pun informasi tentang keberadaanya" Kecam Ray emosi pada karyawannya yang kini sibuk berkutat di depan monitor
Sejak kepergian Keyrani, Ray menghabiskan waktunya di perusahaan, jika sewaktu-waktu mereka menemukan Keyrani. Namun waktu berlalu dan ia tak kunjung menemukannya.
"Maaf tuan, semua CCTV dan catatan keberangkatan Keyrani tidak ada satu pun yang tertinggal seolah semuanya dihapus secara sengaja" Ujar Jhon memberitahukan faktanya
Rekaman yang mereka dapatkan hanya rekaman saat Keyrani mengendarai mobil keluar dari kediaman Ray, dan setelah itu semuanya menghilang.
"Aku tidak butuh alasan, jangan berhenti mencari hingga kalian menemukan informasinya" Tekan Ray dengan suara memekik membuat semuanya takut
Sejak Ray berhenti terlibat di dunia hitam itu, Ray sudha tidak pernah menunjukkan ekspresi wajah dinginnya itu. Tapi beberapa hari ini, hanya ekspresi itu yang dikeluarkan Ray tanpa berubah sedikitpun. Membuat mereka segan dan takut untuk sekedar melirik apalagi menatap wajahnya.
Setelah perintahnya barusan, Ray beranjak pergi dari ruangan masih dengan wajah dinginnya dan nafas yang menderu karena menahan emosi.
"Dimana kamu Key? Kamu tidak benar-benar meninggalkanku kan? Apa yang harus aku lakukan jika kamu benar-benar pergi" Batin Ray cemas kemudian masuk ke dalam mobil
__ADS_1
Ray mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan bunyi klakson dari pengendara lain karena Ray menyalip mereka begitu saja.
Hal ini membuat Ray tiba di rumah lebih cepat dari biasanya yang memakan waktu hampir 20 menit. Ray turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
Sebelum naik ke atas, Alana yang sedari tadi berada di dapur mempersiapkan makanan segera menghampiri Ray saat melihatnya masuk.
"Ray.. Tadi aku.. " Ucap Alana namun terpotong saat Ray menyela nya
"Maaf Alana, aku sedang tidak mood hari ini" Sela Ray tanpa mendengar ucapan Alana sampai akhir dan memilih naik ke kamarnya
Alana terdiam dan sedikit tercengang dengan sifat dingin Ray "Apa dia begitu berharga hingga membuatmu memasang wajah seperti itu terhadapku?" Gumam Alana menatap punggung Ray yang kini perlahan menghilang
Dengan langkah terpaksa, Alana kembali ke dapur menatap makanan yang baru saja di masaknya untuk Ray.
"Apa yang harus aku lakukan dengan makanan sebanyak ini" Gumam Alana merasa mubazir untuk membuangnya
Hingga kemudian pintu belakang terbuka memperlihatkan Rian yang sepertinya baru saja selesai berolahraga.
"Rian... " Panggil Alana sedikit ragu sejak kejadian kemarin
Rian menoleh sejenak memperhatikan Alana yang sedikit ragu, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Tunggu.. " Cegah Alana "Aku memasak untuk Ray, tapi sepertinya dia tidak akan memakannya. Jika kamu berkenan, kamu bisa mengambilnya untukmu" Ujar Alana kemudian
"Aku tahu kamu tidak suka denganku, Aku menawarimu bukan karena aku ingin mencari perhatianmu. Tapi aku tidak suka jika makanan di buang begitu saja" Ujar Alana meluruskan maksudnya
Sejak kecil memasak adalah hobby Alana. Hal ini bermula sejak ibunya meninggal, membuat Alana menyukai memasak khususnya untuk orang yang disayanginya yakni ayahnya.
Rian menatap Alana dingin, kemudian berpindah pada meja yang kini di isi dengan makanan.
Rian kemudian berjalan ke meja makan dan meraih salah satu piring, yang sepertinya sengaja di tata oleh Alana untuk Ray.
"Aku hanya akan mengambil ini" Ujar Rian dingin kemudian naik ke atas kamarnya
__ADS_1